Tsunami, Sembilan Tahun Silam

Residents of Banda Aceh walk through a scene of destruction, 27 December 2004 following a devastating quake and series of tidal waves (mirror.co.uk)MAYAT-MAYAT ITU jumlahnya ratusan. Mungkin seribuan. Laki-laki. Perempuan. Dewasa. Puluhan anak kecil. Ada yang masih berpakaian lengkap. Banyak juga yang sudah telanjang. Beberapa di antaranya mengenakan seragam polisi. Mataku tertumbuk pada satu jenazah polisi. Perutnya menggembung. Kulit menghitam. Bola mata nyaris mencelat. Darah hitam keluar dari mulut, mata dan telinganya.

Mereka dijejerkan di atas tanah. Antara satu jejeran dengan jejeran lain disisakan jalan selebar tak lebih dari semeter. Di gang itu, seorang bapak tua – mungkin hampir 50 an tahun – berdiri dalam diam. Ia memperhatikan satu jenazah anak kecil. Lama dia terdiam. Bapak itu kemudian jongkok. Dia memegangi bagian belakang kepala jenazah anak kecil itu. Tangisnya pun meledak…

Simpang Lambaro, Aceh Besar, 27 Desember 2004. Waktu hampir menunjukkan pukul 16.00 WIB. Truk-truk berisi jenazah hilir mudik, terus mengantarkan mayat-mayat dari Kota Banda Aceh. Truk-truk itu sebelumnya adalah dump truk pengangkut sampah atau mungkin pasir. Ia memiliki mesin hidrolik yang bisa otomatis mengangkat bak belakang untuk menuangkan muatannya. Puluhan jenazah yang menumpuk di dalam bak truk juga diturunkan dengan cara itu.

Jenazah yang dianggap masih bisa dikenali dijejerkan di tanah. Siapa tahu ada kerabat yang mencari. Jenazah yang sudah terlalu rusak ditumpuk begitu saja. Saking banyaknya, relawan yang memindahkan – tentara dan warga – mengangkat jenazah seperti karung pasir. Dipegangi di kedua tangan dan kaki, lalu bukkk… Dihempaskan sedapatnya.

Matahari agak terik sore itu. Panas udara membuat aroma yang tak terdeskripsikan semakin menjadi. Setiap kali angin berhembus, bau amis, anyir, dan pasti tak sedap ikut serta. Masker udara hampir tak berguna.

Tak jauh dari situ, pemerintah membuat kuburan massal untuk mengebumikan korban bencana maha dahsyat – tsunami – yang melumat Banda Aceh sehari sebelumnya, 26 Desember 2004. Hari itu, korban jiwa diperkirakan mencapai 240.000 jiwa akibat tsunami di beberapa negara. Setengahnya adalah warga Nanggroe Aceh Darussalam!

Ketika saya di sana, dua excavator sedang bekerja keras menggali lubang raksasa untuk mengubur mayat-mayat yang semakin berbau. Malam itu juga ratusan jenazah akan dikebumikan.

Saya kemudian bergerak ke arah kota Banda Aceh menumpang mobil Kijang milik orang yang tak saya kenal. Saya bersyukur bertemu rombongan ini di Bandara Blang Bintang. Kalau tidak, saya pasti akan tetap terpuruk di bandara karena tak ada transportasi. Tak ada pengemudi taksi seperti biasa. Mereka mungkin sedang berusaha menyelamatkan keluarga, atau malah ikut menjadi korban jiwa.

Meninggalkan Lambaro, suasana semakin tak menentu. Saya melihat satu SPBU dikerumuni orang-orang. Puluhan mobil dan sepeda motor menumpuk, berusaha mendapatkan bahan bakar. Klakson kenderaan riuh rendah.

Kami berjalan pelan menuju arah kota. Di kiri kanan jalan, saya melihat mayat-mayat diselubungi kain seadanya. Mereka korban bangunan yang rubuh setelah diguncang gempa 9 SR pada Minggu pagi 26 Desember 2004. Tsunami tak sampai di Lambaro.

Mendekati kota, tiba-tiba sekelompok orang berlarian serampangan. Mereka keluar dari sebuah jalan kecil di antara tembok rumah toko. “Air… air naik… air naik…” teriak mereka bersahut-sahutan. Sepertinya mereka masih dikecam takut hebat melihat dinding air hitam melumat kota kemarin.

Mobil kami terus berjalan. Mendekati kota, suasana makin porak poranda. Bangunan-bangunan ambruk. Dindingnya berlapis lumpur mengering. Sebagian masih basah. Noda lumpur air berjejak di ketinggian bervariasi. Ada yang semeteran, dua meteran, dan bahkan ada yang lebih tinggi. Tak sedikit mobil teronggok di pinggir jalan. Ada yang terbalik.

Aneka benda tertumpuk di pinggir jalan yang kami lintasi. Saya amati tumpukan itu tak hanya sampah. Masih banyak jenazah di sana, ikut digulung air. Di jalanan, banyak orang seperti linglung. Mereka seperti zombie. Tak banyak jalan yang bisa dilintasi sore itu. Lumpur tebal masih menutup jalan-jalan utama.

Mobil kami berhenti di rumah dinas Gubernur Aceh yang difungsikan menjadi posko darurat. Di situ, ribuan orang yang selamat menyemut. Mereka mencoba menenangkan diri dan menghapus mimpi buruk kemarin. Di satu dinding, entah siapa yang memulai, sudah penuh tertempel pengumuman orang hilang.

Saya merekam semuanya. Waktu tak banyak. Saat berangkat tadi siang, saya dipesankan kembali malam itu juga. Jika tidak bisa, kaset rekaman harus tiba di Medan agar bisa segera tayang. Sambil merekam, tiba-tiba saya lihat satu keramaian tak biasa. Ternyata rombongan wakil Presiden Jusuf Kalla. Informasinya, Kalla akan kembali ke Medan malam itu juga.

Saya pikir Kalla adalah tiket saya kembali ke Medan. Saya lalu menyelinap di satu bus yang ternyata berisi para jurnalis yang ikut Kalla dari Jakarta. Saya berdiri di dekat pintu. Kalau-kalau kondisi tidak menguntungkan, setidaknya mudah untuk melompat keluar. Sebelum mengarah balik ke bandara, rombongan keliling kota, melintasi jalan yang sudah dibuka dengan menggunakan alat berat.

Kami melintasi jalan di depan Masjid Baiturrahman. Kerusakan berat di mana-mana. Lumpur setebal sekitar 30 cm hampir kering masih lekat di tepian jalan. Di satu sudut jalan, ada kantor cabang sebuah bank. Polisi bersenjata terlihat berjaga-jaga. “Semalam masih ada mesin ATM nya bang. Tadi kabarnya sudah hilang. Entah siapa yang ambil. Ada saja yang ambil kesempatan,” kata kondektur bus.

Setelah berkeliling, rombongan mengarah ke bandara. Di Lambaro, rombongan berhenti sebentar. Kalla menyempatkan diri melihat proses penguburan massal. Saya memilih tetap di dalam bus sambil mencari-cari orang yang bisa dititipin kaset kalau-kalau saya tak berhasil ikut pulang.

Tiba di bandara, Kalla melihat-lihat persiapan tim distribusi bantuan yang sudah membuat posko penampungan di bandara. Ia lalu terbang sebentar dengan helikopter untuk melihat kondisi Banda Aceh dan sekitarnya dari udara.

Di Banda Aceh, sejumlah wartawan adalah teman baik saya. Di antaranya Hotli Simanjuntak. Saban bertemu wartawan lokal, saya menanyakan keberadaannya. Tapi tak ada yang tahu. Saat keliling di dekat posko saya bertemu seorang wartawan lokal, dia bilang kemarin melihat Hotli saat air mulai meninggi di Simpang Lima.

Saya tak sengaja juga bertemu Wakapolda Aceh saat itu, Irjen Pol Bahrumsyah. Tampangnya kusut. Sebelah celana dinasnya tergulung. Menunjukkan kakinya yang belepotan lumpur. “Saya juga nyaris jadi korban dek. Istri saya entah di mana,” katanya.

Mengingat harus pulang atau kaset rekaman sampai di Medan malam itu juga, saya mencari informasi mengenai pesawat pulang. Hanya ada satu pesawat yang akan take off malam itu, yaitu pesawat Jusuf Kalla yang merupakan pesawat resmi kepresidenan. Kecil kemungkinan saya bisa dapat seat untuk ikut ke Medan. Mudah-mudahan ada yang bisa dititipin kaset.

Saya lalu berdiri di depan pintu bandara yang langsung menuju run way pesawat. Hari mulai gelap. Tiba-tiba seorang pria berpakaian rapi menghampiri.

“Tidak pulang dek?”

“Iya, saya mau pulang pak. Tapi gak tau mau naik apa ke Medan.”

“Ya sudah, ikut pesawat ini saja,” katanya menunjuk pesawat Kalla. Ia merangkul saya sambil berjalan. Kami lalu mengobrol singkat. Jarak antara saya berdiri dengan pesawat tak lebih dari 300 meter. Kalla belum masuk ke pesawat. Ia masih salat maghrib.

Memasuki kabin pesawat, pria berpakaian rapi tadi menyuruh saya duduk di tempat duduk yang masih kosong. Saya terus ke dalam. Melewati bagian tengah, dan menemukan satu tempat duduk kosong. Di deretan dua bangku itu, tepat di sisi jendela pesawat, seorang bapak paruh baya sudah duduk. Saya ingat, bapak itu bersama saya di mobil Kijang sore tadi.

“Wah, pulang juga dek?” tanyanya membuka pembicaraan. Setelah mengobrol saya baru tahu kalau dia adalah anggota DPRD Aceh. “Mengerikan ya…” katanya. Ia berkisah, banyak keluarganya yang hilang. “Bagaimana lah nasib mereka…” katanya sambil menarik nafas.

Saat itu saya tak terpikir lagi pada nasib orang yang diceritakannya. Saya lebih mencemaskan nasib saya sendiri yang sekonyong-konyong bisa ditendang dari pesawat karena dianggap penumpang gelap di pesawat Wakil Presiden RI.

Rombongan Kalla sudah memasuki kabin pesawat. Ia menyempatkan diri mendatangi deretan tempat duduk wartawan. Saya tak selera untuk nimbrung.

Tak lama, seorang pria mengenakan jas hitam rapi menghampiri. Badannya tegap. Kulitnya sedikit gelap. Sekilas saya lihat ujung dua senjata laras panjang nongol dari ujung bagian belakang jasnya.

“Maaf, nama bapak siapa?” Ia memegang selembar kertas kucel.

“Denny, pak,” kata saya.

Ia mencari dalam daftar penumpang. Tentu saja tidak ada. Tapi ia lekas tanggap.

“Tadi pagi tidak ikut pesawat ini ya? Koordinasi dengan siapa ikut pesawat ini?” tanyanya lagi.

Saya terkesiap. Bodohnya saya, tak sempat menanyakan nama pria yang mengajak ikut terbang tadi. Saya berdiri dan mencoba melihat sekeliling. Ternyata pria yang mengajak saya ada di deretan depan, tak jauh dari Kalla yang berdiri di koridor pesawat. Ia lagi mengobrol dengan para wartawan. Saya menunjuk orang tersebut.

“Oh,” pria tegap itu menyebutkan nama seseorang. Saya lupa nama yang ia sebutkan itu.

“Ya sudah. Maaf, saya catat nama bapak untuk manifest penumpang,” kata pria tegap itu lagi. Setelah mencatat, ia terus bergerak ke belakang untuk mengecek penumpang lain.

Pria yang mengajak saya tadi tentu bukan orang biasa. Mana mungkin dia berani seenaknya mengajak orang tak dikenal menumpang pesawat Wapres RI. Dan tak mungkin juga pria pencatat nama penumpang tadi dengan gampangnya membiarkan saya ada dalam daftar penumpangnya. Dia bertanggungjawab atas keselamatan pesawat itu. Saat itu Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) belum sepakat berdamai.

Saat pesawat Garuda Indonesia Airways itu take off meninggalkan Bandara Blang Bintang, saya mengobrol sebentar dengan bapak di sebelah saya. Kami larut dalam kisah kedahsyatan bencana gempa dan tsunami itu. Dari dia juga akhirnya saya tahu, pria yang mengajak saya ikut tadi adalah Komandan Pasukan Pengawal Presiden.

Lima belas menit kemudian saya terlelap hingga akhirnya tiba di Medan dan bertemu dengan kawan-kawan wartawan yang menunggu untuk berangkat sejak pagi. Nampaknya mereka masih menunggu di hangar Lanud sejak kutinggal terbang siang tadi.

Hari-hari esoknya saya ditugaskan kantor berita Associated Press Television News (APTN) ngetem di Polonia, meliput kegiatan posko tanggap darurat. Saya ditandem dengan seorang kameramen bule yang didatangkan dari Bangkok. Empat hari kemudian, saya kembali ke Banda Aceh selama hampir sepekan. Kota itu masih porak poranda.

4 thoughts on “Tsunami, Sembilan Tahun Silam

  1. Pingback: Tsunami, Sembilan Tahun Silam | Portal Berita Medan

  2. Wah, aku juga bayangkannya jadi merinding, Bang.
    Nengok warga2 mirip zombie berasa di film The Walking Dead mungkin ya?!
    Tapi kesulitan membawa hikmah kan, Bang?! Dapet liputan eksklusif jadinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s