Suatu Malam di Omerta

omerta-kaffeehauschenTADI MALAM tiba-tiba ada yang datang. Dua orang pria. Satu masih muda. Satu lagi mungkin jelang 50 an. Keduanya tak pernah datang ke Omerta Kaffeehauschen sebelumnya. Mereka seperti terburu-buru.

Yang lebih tua, posturnya kecil. Kepalanya agak kebotakan. Setelah sedikit dijelaskan stok kopi yang ada, pria itu lalu memesan dua cangkir kopi tubruk Gayo dan langsung membayarkan pesananan itu. Aku menjelaskan pesanan tidak bisa instan karena biji kopi harus digiling sebelumnya. Dia tak protes.

Kopi selesai dan kuhidangkan bersama gula merah. Sengaja aku duduk di dekat mereka berdua.

Lalu kami ngobrol seperti teman lama. Dari sekian banyak cerita, aku cuma tertarik pada kisah tentang mertuanya yang punya kebun kopi di Sidikalang. Kalau mau ke kebunnya di kawasan Lae Renun, si mertua menunggang kuda peliharaannya.

Kebun kopi robusta yang merupakan warisan turun temurun itu masih dirawat si mertua dengan penuh cinta. Anak-anaknya sebenarnya sudah tidak mengizinkan orang tua itu untuk berkebun kopi di kejauhan. Karenanya dibelikan lah sebidang tanah di belakang rumah. Harapannya si ayah bisa bertanam kopi Ateng (arabica) di situ. Mereka juga membelanjai si ayah saban bulannya.

Tapi si ayah ogah. Dia tetap saja merawat tanaman kopi-kopi yang mungkin sudah nyaris seusianya itu. Kopi-kopi itu masih menghasilkan buah terbaik. Pascapanen juga diperlakukan dengan baik. Si ayah nampaknya memahami betul bagaimana merawat tanaman asal Arab itu.

Ia hanya memetik buah yang benar-benar merah merona. Melanjutkan tahap berikutnya dengan cara yang diturunkan moyangnya. Fermentasi dengan waktu yang benar. Karenanya, biji-biji kopi yang dihasilkan kebunnya cukup baik. Kadar airnya nyaris sempurna.

Karena kualitas itu pun si mertua lantas bisa bicara soal “harga.” Ia tidak mau menjual murah kopi-kopinya. Kalau cocok dengan harga yang ditawarkan silakan beli. Kalau tidak, ya sudah. Tak mengapa katanya.

Waktu-waktu seperti sekarang ini, jelang lebaran, biasanya si mertua menggongseng (roasting) sendiri biji-biji kopi simpanannya. Saat hari yang fitri itu tiba, dia lalu membagi-bagikan kopi itu ke anak-anak dan cucu-cucunya di Medan. Tak lebih dari dua hari dia bergegas kembali ke Sidikalang, meski masih dalam suasana lebaran.

Semua orang biasanya protes.

“Kudaku gak ada yang mengurus. Gak ada yang mengasih makannya,” itu selalu jawab si ayah. Argumentasi pun terhenti. Si ayah pun bergegas pulang, kembali ke dunianya.

2 thoughts on “Suatu Malam di Omerta

  1. Berat nih solusinya,

    Kalau naik kuda ke Medan, terlalu melelahkan.
    Tapi emang seperti itu, bang. Mbah ku juga suka resah kalau lama-lama ninggalin ladangnya (plus ayam, kambing, dan kerbau yang menanti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s