Kopi dan Jantung yang Berdebar

DI SATU siang yang panas. Omerta baru saja kubuka. Usai membersihkan gelas kotor, aku pun mulai mengepel lantai yang sudah disapu sebelumnya. Area lantai semen yang terkena kain pel belum banyak. Tiba-tiba seorang pria paruh baya datang.

Rupanya dia mau bertemu dengan pemilik rumah yang kebetulan berbisnis alat GPS untuk dipasang di mobil. Aku jelasin ke bapak itu kalau yang punya rumah sedang tidak ada. Dan menyarankannya untuk datang lagi di lain hari.

“Abang jual apa di sini?”

“Oh, ada kopi, teh, dan lain-lainnya,” sahutku sambil meletakkan alat pengepel lantai ke dalam ember.

“Saya pengen ngopi. Tapi jantung saya tidak kuat. Sering kali berdebar-debar,” katanya. Mimiknya serius. Ia juga mengeluhkan tidak tahan pada asam kopi yang sering kali membuat asam lambungnya naik. Akibatnya dia akan merasakan mual di perut.

“Abang biasa minum kopi apa”

“Ya kopi hitam lah. Karena berdebar-debar, aku jadi gak berani lagi minum kopi,” katanya.

“Ya udah, duduk lah bang. Aku coba bikinkan kopi untuk abang,” sahutku.

“Tapi gak jadi berdebar-debar aku nanti kan?” tanyanya lagi. Dia sepertinya khawatir betul. Tapi dia mengikutiku masuk ke dalam dan duduk di bangku tinggi persis di depan meja bar. Dari situ, dia bisa melihat apa saja yang aku lakukan untuk segelas kopi yang diinginkannya.

Aku lalu memanaskan air dan mempersiapkan cangkir kopinya. “Kubikinkan abang kopi. Tapi aku gak bisa menjamin jantung abang tidak akan berdebar-debar. Tapi mudah-mudahan tidak akan,” kataku sambil tersenyum. Mimiknya berubah menjadi lebih rileks.

Kopi Sidikalang premium lalu kugilingkan. Setelah air mendidih, cangkir yang akan digunakan dipanaskan sebelumnya (pre-heating). Setelah terasa hangat, air yang ada di cangkir lalu dibuang. Kopi yang barusan digiling lalu dituangkan ke cangkir. Air yang tadi mendidih lalu kembali dituangkan ke cangkir. Tak sampai separuhnya. Lalu kubiarkan sekitar semenit lebih.

omerta-kaffeehauschenSelama proses itu rupanya ia terus memperhatikan dalam diam. Kemudian air panas kembali kutuangkan untuk memenuhi cangkir. “Eh, gulanya jangan  terlalu banyak ya bang,” katanya tiba-tiba.

Lalu kujelaskan, di Omerta kami tak pernah mencampurkan gula ke dalam minuman panas pesanan pelanggan. Pemesan bisa menaruh sendiri gula sesuai keinginannya. Mau manis betul tuang yang banyak. Mau sekedarnya atau tak pakai gula juga silakan. “Oh begitu…,” katanya.

“Saya ada sedikit diabetes,” katanya lagi.

Aku tersenyum. Kalau begitu ya sudah gak usah pakai gula, kataku. Toh, kopi itu sendiri sudah mengandung gula alami sebenarnya. Meski tidak manis juga. Karena sepertinya dia juga tak suka rasa pahit, akhirnya kusajikan gula merah untuk teman menyesap kopinya. Nampaknya ia menikmati aroma kopi itu.

“Kunyah dulu gula merahnya bang, baru minum kopinya. Oia, kalau ada asam lambung, sebaiknya habiskan kopi sebelum suhunya jadi dingin,” begitu kupesankan ke dia.

Dia lantas melakukan apa yang aku bilang. “Ih, enak ternyata pakai gula merah ya. Tak pernah aku minum kopi seperti ini,” katanya lagi.

Cerita pun bergulir ke mana-mana. Tapi dia tetap saja penasaran pada kopi yang aku seduhkan. Apalagi setelah separuh kopi di cangkir habis kekhawatirannya tak terjadi. Degup jantungnya normal. Sama sekali tak berdebar kencang. Tanpa bermaksud menggurui, aku pun mengatakan, kemungkinan selama ini dia minum kopi robusta yang memang memiliki tingkat keasaman lebih tinggi dari Arabica, jenis kopi yang kuseduhkan untuknya.

Kami pun berdiskusi soal kopi. Lebih satu jam kami ngobrol panjang. Dan sepertinya ia masih takjub karena tidak merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia senang, karena bisa datang bukan hanya untuk minum kopi, tapi bisa diskusi panjang soal kopi. Dia mengira aku pernah belajar khusus tentang kopi. Padahal jaman sekarang ini pengetahuan apa saja bisa didapat dengan mudah di internet.

“Besok-besok kalau aku datang lagi apa nama kopi ini bang?” tanyanya antusias.

Dan benar saja, dua hari kemudian ia mampir lagi. Di jam yang kurang lebih sama. Sayang, aku tidak bertemu si abang bermobil Innova itu karena sedang ada di luar. Tambah satu lagi langganan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s