Pajak Sukarame Medan, Awal Reformasi Indonesia

rusuh mei 1998 di medan (foto: Bambang Soed/DR/Tempo)SABAN jelang 1 Mei begini aku selalu teringat kejadian malam 30 April 1998 di Medan. Malam mencekam yang akhirnya meletuskan kerusuhan di mana-mana di negeri ini dan ujung-ujungnya menjatuhkan pemerintahan Suharto.

Tak banyak yang tahu. Kejatuhan rezim ini berawal dari Kota Medan, tepatnya dari Pajak Sukarame dan lalu menjalar ke mana-mana. Masih kuingat jelas, 1 Mei 1998 itu harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi akan dinaikkan pemerintah. Rencana ini jelas saja ditentang para mahasiswa. Demo di mana-mana. Bahkan hingga 30 April jelang malam.

Malam itu, kalau tidak salah sekitar pukul 20.00 WIB. Aku bersama temanku Sallydin Damanik dan Efendi Sibarani yang sedang kelaparan memesan nasi goreng di warung Bang Lilik di simpang Pajak Sukaramai. Nasi goreng bikinan Lilik memang menjadi idola kami pada saat itu. Karena langganan, porsi untuk kami selalu dibuatnya lebih banyak.

Suasana masih normal di kawasan Sukaramai malam itu. Namun, sudah santer terdengar kalau ada sekelompok mahasiswa masih berdemo di pos polisi dekat Aksara Plaza terkait teman mereka yang ditangkap pada aksi siang hari. Kabar lain mengatakan, mahasiswa dan warga mencoba membebaskan mahasiswi dan mahasiswa yang ditangkap itu.

Kabar ini lalu bermutasi menjadi gossip yang berhembus ke mana-mana. Entah siapa yang meniupkan. Mahasiswi yang ditangkap disebut-sebut mengalami pelecehan seksual. Semakin malam, kabar ini semakin santer.

Tak lama pesanan nasi goreng kami tiba. Baru suapan ketiga, tiba-tiba sejumlah tentara berseragam loreng masuk ke warung Bang Lilik. Karena duduk menghadap jalan, sekilas aku melihat di seberang jalan belasan tentara lainnya menyebar ke mana-mana.

“Bubar semua… bubar… pulang… pulang…” kata seorang tentara setengah berteriak.

Kami yang lagi menikmati makan malam itu keruan terkejut. Aku masih mencoba untuk tenang. Tapi si tentara sepertinya semakin beringas. Dia mulai main tangan. Meja dipukul-pukul agar kami yang di dalam warung segera bubar.

Melihat situasi itu, kami pun bergegas ke luar. Di jalanan, di warung-warung pinggir jalan yang banyak di Sukaramai dekat Bioskop King itu tentara semakin banyak. Orang-orang kocar-kacir. Aku melihat ada tentara yang sudah menendang-nendang gerobak pedagang.

Situasi mulai panik. Sallydin dan Efendi yang memang warga Sukaramai tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Awalnya kami bertiga masih sama. Tapi Efendi memisah karena dia harus mengurus warung dagangannya yang berada di depan Warung Bang Lilik.

Karena situasi tidak memungkinkan untuk pulang lewat simpang Pajak Sukaramai, setengah berlari kami jalan menuju satu gang kecil di depan Bioskop King. Gang itu nembus ke Gang Garuda dan selanjutnya tembus ke Jalan Medan Area Selatan. Kami berjalan tanpa berbicara sama sekali. Aku masih belum tau apa yang sebenarnya terjadi.

Sekitar 10 menit berjalan kaki (waktu normal bisa 15 menit lebih) aku dan Sallydin tiba di rumahku. Orang-orang sudah mulai ramai. Lalu lintas jalan tidak seperti biasa. Entah dari mana saja, manusia terus berdatangan menuju arah ke Sukaramai yang berjarak sekitar 600 meter dari rumahku. Isu yang sudah menyebar luas itu rupanya yang mengundang kedatangan mereka.

Orang-orang berkumpul di depan rumah. Kerumunan-kerumanan kecil itu terlihat berbicara serius. Pembicaraan mereka tak jauh dari gossip yang santer beredar tadi. Kulihat pintu besi rumahku masih terbuka lebar. Waktu masih belum pukul 21.00 WIB. Lampu terang benderang.

Karena penasaran, aku dan Sallydin lalu kembali berjalan menuju ke arah Sukaramai. Orang-orang semakin banyak. Lewat sedikit dari Gang Langgar terlihat konsentrasi massa. Jumlahnya mungkin mencapai ratusan orang. Mereka terhenti di situ. Tak bisa maju lebih jauh.

Di depan sana, ada sekumpulan pria-pria berbadan tegap. Ada juga yang berperut buncit. Rambut mereka pendek. Kebanyakan dari mereka mengenderai sepeda motor jenis RX King. Tak ada nomor plat kenderaan. Knalpot umumnya blong. Mereka sepertinya terjebak di tengah kerumunan massa yang datang dari arah rumahku dan dari arah Sukaramai.

Entah siapa yang memulai, teriakan-teriakan mulai bersahut-sahutan. Teriakan ditujukan ke kumpulan pria-pria berbadan tegap itu. Pria-pria itu hanya terdiam. Tapi aku lihat mata mereka jelalatan. Beberapa dari mereka menggenggam radio komunikasi. Pasti mereka polisi tak berseragam atau yang lebih dikenal dengan tekab, begitu pikirku.

Tak lewat dari lima menit, pria-pria itu tiba-tiba beringas. Sepeda motor mereka digeber-geber. Mereka berteriak-teriak…

“Bubar… bubar semua… Bubar…” teriak mereka.

Awalnya massa tak peduli. Mereka, termasuk aku dan Sallydin tetap ikut dalam kerumunan itu.

“Bubar kalian semua… PKI kalian…” teriak pria-pria itu sambil menggeber-geber sepeda motornya. Tiba-tiba, beberapa dari mereka menarik sesuatu dari pinggangnya.

Aku terkesiap. Senjata, pikirku. Benar saja. Salah satu dari mereka langsung mengacungkan senjata ke udara.

“Dor… dor… dor…” terdengar letusan senjata beberapa kali.

Massa pun kocar-kacir. Sebagian berlarian ke sana-kemari. Yang membawa sepeda motor pun belingsatan mencari sepeda motornya masing-masing. Tak mudah mengendalikan sepeda motor dalam situasi macam itu.

Pria-pria itu semakin liar. Tak hanya menggeber-geber, mereka memacu sepeda motornya berusaha memecah konsentrasi massa. Pria-pria itu ada yang berboncengan. Ada yang sendirian. Tapi hampir semua menggenggam senjata.

Aku tak sempat mengitung berapa kali terdengar letusan senjata malam itu. Aku dan Sallydin lalu ikut lari bersama kerumunan massa. Tentu saja kembali ke arah rumah.

Dari arah Jalan Pasar Merah, aku lihat semakin banyak pria-pria bersepedamotor dengan kecepatan tinggi. Ini tentu menyulitkan. Karena dari arah Pajak Sukaramai massa pun berhamburan. Tak sedikit yang jatuh karena bersenggolan. Ada yang tertabrak. Yang terjatuh langsung berdiri dan melarikan diri. Ketakutan pastinya. Pria-pria itu aku lihat mulai menendang orang-orang.

Aku pun panik. Jarak rumah tinggal sedikit lagi. Tapi rasanya sangat payah untuk menyeberang jalan saking ramainya orang di jalanan. Pria-pria bersenjata itu semakin banyak. Ada yang berboncengan. Sempat terlihatku satu pria yang dibonceng memegang dua pistol. Persis koboi! Mereka berteriak-teriak.

Kalau sebelumnya senjata diletuskan ke atas. Saat itu aku melihat senjata sudah terarah. “Dor… dor… dor…” letusan di sana-sini. Peluru berdesing-desing. Aku sempat melihat seorang pria tersungkur di sudut kanan rumahku. Aku tak mengenalnya. Terus terang, aku sempat juga takut terkena peluru nyasar.

Jalanan riuh rendah. Teriakan orang campur aduk dengan jeritan knalpot dan mesin sepeda motor.

Saat melihat ada celah lari ke arah rumah, aku berlari sekencang-kencangnya. Pintu teralis besi yang terbuka lebar kutarik rapat. Di depan sana, aku melihat beberapa orang terjengkang karena ditendang pria-pria bersepeda motor. Suara letusan senjata masih terdengar. Orang kocar kacir. Melihat pintu rumahku masih terbuka, belasan orang berhamburan masuk ke dalam. Bahkan saat pintu sudah aku gembok dan lampu dimatikan pun masih ada yang memohon untuk masuk. Wajah mereka penuh ketakutan.

Karena iba, pintu kembali kubuka. Mereka semua masuk ke dalam rumah. Lampu teras depan kumatikan. Pintu papan di balik teralis besi tak sempat ditarik sempurna. Biar agak tertutup, krai bambu kuturunkan.

Aku lalu lari ke dalam rumah. Semua lampu kupadamkan. Tiba di belakang rumah, aku mendengar ada suara orang berbisik dari balik pintu. “Bang tolong buka bang… tolong kami bang…” kata mereka.

Aku heran. Di halaman samping itu anjing peliharaanku si Popo biasanya akan menggonggong ribut kalau ada orang tak dikenal masuk. Malam itu dia diam saja. Dia seperti membiarkan orang-orang yang sedang ketakutan itu masuk ke wilayah kekuasaannya.

Mama yang akan menutup jendela mendengar bisikan seseorang. “Bu, tolong aku bu… aku orang baik-baik. Kasih aku masuk bu…” kata laki-laki yang berjongkok ketakutan itu. Mama melihat wajahnya sangat pucat. Bibirnya putih. Gemetaran.

Pelan-pelan pintu dibukanya. Ternyata laki-laki tak sendiri. Di situ mereka nyaris 10 orang. Semuanya melompat masuk ke dalam rumah. Setelah tak ada lagi orang, pintu ditutup. Lampu dimatikan.

Kami semua lalu berkumpul di lantai atas. Seluruh lampu kami padamkan. Bukan apa-apa, tak terbayangkan kalau pria-pria bersenjata tadi memaksa untuk membuka rumah dan menjemputi semua orang yang bersembunyi di dalam.

Waktu itu sepertinya sudah pukul 22.00 WIB lewat. Tak satu pun kami berani bicara. Semua terdiam. Karena penasaran, aku mengendap-endap jalan ke kamarku yang memang ada di bagian depan rumah. Kuintip lewat jendela, masih banyak orang lalu lalang. Meski tidak seramai tadi lagi. Sesekali masih terdengar letusan senjata.

Persis di depan rumahku, aku lihat seorang laki-laki distop pria-pria itu. Entah bagaimana, dia lalu dipukuli. “PKI kau ya… Kau yang tadi teriak-teriak mengejek kami ya…” kata pria tegap itu sambil terus menghajar laki-laki di depannya itu.

Kami masih bingung pada apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku mengira, semua itu pasti ada kaitannya dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM dan isu soal mahasiswi yang mengalami pelecehan seksual di kantor polisi itu.

Waktu terus berjalan. Sesekali aku mengintai ke arah jalanan. Meski semakin sepi, pria-pria bersepedamotor itu masih saja melintas. Sesekali lewat mobil Super Kijang sarat penumpang. Mobil-mobil itu berjalan pelan. Sepertinya mereka adalah teman pria-pria bersepeda motor tadi.

Lewat pukul 00.00 WIB, tentara berseragam loreng melintas di depan rumah. Aku masih saja dalam posisi mengintip. Sekitar 100 meter dari rumahku, persis di depan Gang Delapan yang tembus ke Jalan Medan Area Selatan kulihat sekelompok tentara berdiri. Mereka menghentikan semua kenderaan dan orang yang melintas.

Satu sepeda motor dihentikan mereka. Sepertinya mereka menanyai si pengendara. Tiba-tiba, aku lihat tentara-tentara itu menampar dan memukuli si pengendara sepeda motor itu sambil berteriak-teriak.

Entah karena teriakan si tentara yang terlalu kencang atau suasana malam yang hening, sekilas aku dengar si tentara “menuduh” laki-laki bersepeda motor itu ikut dalam aksi tadi malam itu. Si laki-laki yang ketakutan tentu saja mengelak. Tapi tentara-tentara itu tak peduli dan terus memukul dan menendang.

Kami hanya terdiam. Dalam gelap kami mencoba pandang-pandangan. Sebagian berusaha mengintip ke balik jendela. tapi tak ada yang berani membuka pembicaraan. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Kami masih takut kalau-kalau ada yang memaksa membuka pintu rumah. Bagaimana pun juga, pria-pria tadi pasti melihat banyak orang masuk ke dalam rumah kami.

Jelang pagi, satu persatu orang di dalam rumah pun keluar. Aku lupa mengitung, tapi jumlahnya lebih dari 20 orang. Mata mereka, dan tentu saja mataku sedikit bengkak karena tak tidur. Mereka berterima kasih karena kami memberi tempat untuk menyelamatkan diri. Sallydin pun pamit pulang karena pagi itu kami harus kuliah.

Aku teringat pada orang yang tertembak tadi malam dan tersungkur di sudut kiri rumahku. Aku lalu memeriksanya. Tak ada orang di situ. Tapi memang terlihat ada ceceran darah. Tapi aku tak tahu, orang itu berhasil menyelamatkan diri atau ikut dibawa pria-pria bersenjata itu.

JUMAT, 1 Mei 1998. Jelang siang aku pun berangkat ke kampus. Hari itu aku sengaja membawa jaket almamater berupa jas tipis berwarna hijau tua itu. Perasaanku pasti akan sesuatu yang terjadi hari itu. Aku mengenderai Vespa menuju kampus. Pagi itu semuanya masih berjalan normal. Sebagian toko-toko buka. Ada juga yang tutup. Tapi jalanan tak seramai biasa.

Di kampus para aktivis merapatkan barisan. Tokoh-tokoh pergerakan pun berkumpul merencanakan aksi unjuk rasa pada Senin 4 Mei. Aku yang memang tak terlalu tertarik pada kegiatan aktivis kampus hanya mendengar-dengar dari kiri-kanan.

SENIN, 4 Mei 1998. Benar saja. Mahasiswa mulai bergerak. Pagi aku berangkat ke kampus dengan mengenakan jaket almamater. Tak seperti biasa, mama berpesan supaya aku hati-hati. Tak pernah dia seperti itu sebelumnya. Entah bagaimana, kok sepertinya dia khawatir betul. “Hati-hati kau ya… Mudah-mudahan perjuangan kalian berhasil,” katanya.

Dalam hati aku geli sendiri. Siapa yang mau unjuk rasa rupanya?

Di jalanan, aku lihat banyak polisi. Sesekali truk-truk berisi tentara melintas kencang. Mereka menyebar ke mana-mana. Sampai di gerbang kampus, kulihat banyak mahasiswa berkumpul. Melintasi Pendopo USU kulirik banyak mahasiswa berkumpul. Ada yang berorasi memakai pengeras suara. Aku terus saja menjalankan Vespa hingga ke kampusku. Di kampus, mahasiswa duduk-duduk dan kumpul-kumpul di halaman. Hampir tak ada yang kuliah. Dengar-dengar, mahasiswa akan unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM.

Benar saja, tak lama, konvoi mahasiswa dari berbagai fakultas tiba di depan kampus kami. Mereka sengaja datang untuk menarik jumlah massa agar semakin banyak. Kulihat, tak sedikit dari para aktivis itu adalah mahasiswa dari kampusku juga. Tak sedikit yang ikut berbaur. Aku membiarkan mereka. Nanti toh bisa bergabung belakangan.

Sekitar sejam kemudian kami mendapat kabar, ribuan mahasiswa sudah berkumpul di Pendopo dan akan aksi keluar kampus. Mungkin menuju DPRD Sumut. Sampai waktu yang ditentukan, mahasiswa pun mulai bergerak. Sampai di depan pintu utama, polisi yang tadinya sudah berjaga-jaga akhirnyabergeser karena kalah banyak personel. Mahasiswa pun meluber ke Jalan Jamin Ginting Medan dan terus bergerak sambil berorasi. Masyarakat Padang Bulan mengelu-elukan mereka.

Tapi ternyata di persimpangan Jalan Wahid Hasyim dan Iskandar Muda jalanan sudah diblokir oleh aparat. Mahasiswa tak bisa meneruskan aksi ke DPRD Sumut. Mereka lalu melakukan aksi duduk di Jalan Jamin Ginting. Akibatnya, kemacetan panjang tak terhindarkan. Setelah dinegosiasikan, mahasiswa sepakat balik ke kampus.

Setelah hampir seluruh mahasiswa masuk ke kampus, polisi yang tadi berjaga-jaga kembali datang dalam jumlah lebih banyak. Malah, kini mereka dilengkapi dengan panser water cannon yang siap menyemburkan air untuk memecah kerumunan massa. Pasukan Anti Huru Hara (PHH) bersenjata lengkap juga hadir. Mereka membawa pelontar gas air mata.

Melihat itu, mahasiswa bertahan di pintu utama kampus. Mulai lah terjadi sitegang urat leher.

Entah siapa yang memulai.

“Woi, polisi bodoh… gak sadar kau ya. Uang rakyat yang menggaji kau!”

“Seragam dan senjata kau itu pun dibeli pakek uang rakyat…!”

“Kalian ini kan orang-orang bodoh, makanya jadi polisi. Tak sanggup kuliah ya?”

Aku yang sudah ada di antara kerumunan mahasiswa itu mendengar semuanya. Kata-kata tak pantas mulai terlontar. Polisi yang umumnya masih muda-muda itu pun tak mau kalah. Mereka membalas makian dengan makian.

Di seberang jalan, kulihat warga sudah berkerumun. Tak sedikit berada di lantai dua rumah mereka. Mereka tiba-tiba saja sudah ikut berteriak-teriak ke arah polisi. Mereka berada di pihak mahasiswa.

Lagi-lagi tidak tau siapa yang memulai, batu-batu sekepalan tangan beterbangan dari arah berlawanan. Baik dari arah mahasiswa dan dari arah kerumunan aparat. Masyarakat bersimpati. Mereka ikut melempar. Polisi terjebak di tengah-tengah. Melihat situasi tak terkendali karena kemarahan mahasiswa, polisi mengeluarkan tembakan peringatan. Tapi tak digubris.
Hujan batu semakin menjadi. Mahasiswa tiba-tiba sudah seperti pasukan intifada. Wajah-wajah mereka ditutup sapu tangan. Yang terlihat hanya mata yang bersinar marah. Sebagian mengenakan helm karena takut terkena timpukan batu.

Setelah itu situasi tarik ulur. Lemparan batu terhenti sejenak karena perintah koordinator lapangan aksi. Kedua pihak sama-sama merapatkan barisan. Tapi tak lama, lemparan batu kembali berlangsung. Kali ini bukan hanya kerikil. Cone Block yang digunakan melapis kaki lima kampus sudah berlepasan dan berterbangan.

Karena semakin terdesak, polisi pun menembakkan gas air mata. Belasan gas air mata dilontarkan ke arah mahasiswa. Kami kocar-kacir dan berlari menjauh lebih ke dalam kampus. Hari pertama itu, mahasiswa belum paham cara mengurangi rasa pedih gas air mata. Kami hanya mencoba membasuh kuliat muka yang panas seperti iritasi hebat itu dengan air mineral. Tapi ternyata semakin pedih.

Clash itu berlangsung hingga sore hari. Di barisan mahasiswa, ada beberapa orang yang tertangkap. Kabarnya mereka adalah intel yang menyusup ke dalam formasi mahasiswa. Apes. Di antara mereka dituding menjadi provokator untuk melawan polisi. Malah ada yang bilang, mereka lah yang pertama kali melempar batu ke polisi. Aku melihat wajah seorang yang tertangkap itu. Dia masih muda. Ada lebam di wajahnya. Entah siapa yang memukulnya.

Kami tidak tahu di luar sana, di tengah dan pinggiran kota ternyata penjarahan besar-besaran sedang terjadi. Masyarakat yang marah menumpahkan kekesalannya dengan cara tak terpuji. Toko-toko di kawasan bisnis yang menjual barang-barang kebutuhan pokok dan elektronik dijarah massa yang datang entah dari mana-mana. Si pemilik toko pasrah, dan memilih untuk menyelamatkan diri dan keluarganya.

Sore aku pulang ke rumah aku masih melihat sejumlah toko yang dijarah massa. Malah, tak jauh dari Jalan Halat, satu toko beras saat itu sedang dijarah. Warga seenaknya saja mengangkuti berkarung-karung beras. Padahal di dekat situ ada polisi dan tentara. Mereka membiarkan dan hanya melarang jangan sampai membakar.

Hari itu dan tiga hari ke depannya Medan membara. Tak hanya menjarah, belasan toko dibakar massa. Tak ada polisi di jalanan. Besoknya, dari cerita para tetangga, di depan rumah kami melintas tank-tank tempur milik tentara. Sesekali tank itu dilempar batu oleh warga yang bersembunyi dari balik-balik rumah. Tank berhenti dan mengarahkan moncong meriamnya ke arah rumah dan gang-gang kecil. Tapi mereka tak menembak Mereka hanya menakut-nakuti saja.

Mamaku bercerita, dia lupa di hari keberapa kerusuhan itu, siang itu dia baru saja mengobati pasien yang datang ke rumah. Dia kira situasi pasti aman karena banyak tentara lalu lalang di depan. Setelah si pasien pergi, mama akan menutup pintu teralis besi. Tiba-tiba dia mendengar desingan peluru di depannya dan membentur dinding tembok tetangga. Peluru itu berapi saat terkena tembok. “Hampir aku kena tembak. Aku nyaris mati,” katanya. Padahal, dia tak melihat seorang pun di dekat situ. Sniper kah? Tak ada yang tahu.

Hari kedua kondisi Medan semakin parah. Aksi mahasiswa semakin hot. Kampus sudah seperti ajang pertempuran. Gas air mata yang ditembakkan ke kampus diambil dan dilemparkan kembali ke arah polisi. Gantian mereka yang merasakan pedihnya gas air mata itu. Ban mobil meriam air yang terbuat dari baja itu pun dibakar. Mobil itu nyaris terbakar habis. Air bercampur belerang pun ditembakkan ke arah mahasiswa. Semua kocar-kacir.

Di satu hari aksi, sepeda motor Honda Tiger milik polisi dibakar massa mahasiswa. Awalnya sepeda motor itu didorong-dorong mereka. Tiba-tiba sudah ada seseorang menyulut api. Tiger itu pun hangus terbakar. Bangkainya lalu dilempar beramai-ramai ke atap pos polisi di Simpang Kampus itu.

Beberapa tahun setelah kejadian, aku mendengar cerita ada seorang toke tinggal di kawasan Tembung Medan. Rumahnya sudah dijarah massa habis-habisan. Bahkan, bohlam lampu rumah yang harganya tak seberapa pun diangkut penjarah. Semua ludes. Tapi saat dia kembali setelah situasi aman, uang puluhan juta yang dia simpan di dalam karung goni butut masih tergeletak di sebelah kandang ayam. Agaknya penjarah terkecoh. Uang itu pun dijadikan modal usaha untuk bangkit kembali.

Dari cerita-cerita yang ada, umumnya pelaku penjarahan bukan warga sekitar. Mereka datang entah dari mana. Misalnya di kawasan kami, para penjarah tak dikenali warga sini. Mereka kesetanan. Bayangkan, karung beras 50 kg bisa diangkut sendirian sama pria bertubuh ceking berbadan pendek. Malah, dia mengangkut beras berulang-ulang.

Kerusuhan Medan ini membuat terkejut pemerintah Jakarta. Kapolda Metro Jaya Jenderal Pol Hamami Nata menjamin Jakarta tidak akan rusuh seperti Medan. Dia mengatakan pihaknya akan melakukan pengamanan penuh. Tapi jaminan itu meleset. Jakarta pun terbakar pada 13-15 Mei 1998. Penjarahan di mana-mana. Isu pelecehan seksual dan perkosaan massal pada perempuan etnis Tionghoa pun merebak.

Unjuk rasa mahasiswa berlangsung setiap hari. Pokoknya, selagi polisi masih menunggu di depan kampus berarti ada lawan yang harus dihabiskan. Tapi kalau TNI yang menjaga, mahasiswa tenang-tenang saja. Sampai akhirnya polisi ditarik semua, mahasiswa kebingungan mau ngapain. Akhirnya mereka balik sendiri ke dalam kampus karena tak menemukan lawan.

Sehari sebelum Suharto lengser keprabon, 20 Mei 1998, seluruh mahasiswa di Medan turun ke jalan. Mahasiswa sudah seperti pejuang saja.

“Hidup rakyat… hidup mahasiswa…” begitu pekikan di mana-mana. Hebatnya, masyarakat di depan rumah masing-masing sudah menyiapkan air minum dan penganan kecil untuk bekal mahasiswa turun ke jalan. Tak sedikit yang menyiapkan biscuit dan air mineral. Warga mendukung perjuangan mahasiswa. Kantor-kantor dan hotel juga begitu. Entah karena simpati, atau takut diserbu.

Tak ada polisi di jalanan. Mereka tak berani mengenakan seragam. Hanya ada tentara berseragam loreng. Mereka tak dibekali senjata sama sekali. Hanya saja mereka selalu tersenyum ke arah mahasiswa. Tak ada komunikasi. Tapi senyum itu bisa meluluhkan kemarahan. Tak sedikit mahasiswa yang membagikan air mineral dan rokok kepada tentara-tentara yang sudah berhari-hari menjaga di pinggiran jalan itu.

Besoknya, 21 Mei 1998. Tepat pukul 09.00 WIB Suharto mundur. Ini tentu saja disambut gembira oleh jutaan masyarakat Indonesia dan juga para mahasiswa. Bagaimana pun, capek juga unjuk rasa berhari-hari. Semua orang butuh istirahat untuk menurunkan ketegangan.

Tak terasa, 15 tahun sudah berlalu peristiwa itu. Hari ini 30 April 2013. Rencananya Presiden SBY akan mengumumkan kenaikan harga BBM karena subsidinya sudah semakin memberatkan APBN Negara.

Duh, rencana SBY ini tiba-tiba melemparkanku pada malam kejadian 15 tahun lalu itu.

4 thoughts on “Pajak Sukarame Medan, Awal Reformasi Indonesia

  1. Pingback: Pajak Sukarame Medan, Awal Reformasi Indonesia | Portal Berita Medan

  2. Saksi hidup lah, abang ya🙂
    Aku belum di Medan tahun segitu, bang. Gak menyaksikan, apalagi terlibat dalam peristiwa itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s