Tragedi Bemo Sukarame

bemo di Benhill jakarta (internet)BEBERAPA hari lalu seorang teman menautkan foto Bemo di halaman facebook-ku. Foto itu dimaksudkannya untuk menunjukkan perkembangan proses pembangunan ulang Bemo yang didapatnya dalam kondisi mengenaskan sekitar setahun silam.

Dari foto itu aku lihat tampang si Bemo sudah kelimis. Body-nya udah kinyis-kinyis. Mengilap. Hampir tak ada jerawat di wajahnya yang sering kali dibilang mirip pelawak Dono itu. Soal mesin, aku belum tahu kondisinya. Tapi cerita terakhir pemiliknya, tak banyak lagi yang dibutuhkan untuk menghidupkan mesinnya yang sudah menua itu. Beberapa komponen yang sudah tak bisa ditemukan lagi di Medan sudah didapatkannya dari Padang.

Ya, begitu lah. Membangun ulang kenderaan-kendaraan tua ini memang butuh banyak pengorbanan. Tak semua orang siap melakukannya.

Cerita soal Bemo yang aslinya bernama Daihatsu Midget ini, aku punya banyak kenangan sebenarnya. Dulu, awal tahun 1980 an hingga awal 1990 an, Bemo ini salah satu ikon di daerah kami, kawasan Sukarame di Medan. Bemo ini melayani trayek (lin) dari Bromo ke Sambu. Masa itu, populasinya masih banyak. Mungkin ada di angka puluhan unit di kawasan kami saja. Belum termasuk di sejumlah trayek lain.

Dulu, pada tahun-tahun itu, Bemo menjadi satu alat transportasi andalan kami warga Sukarame. Memang ada angkutan lain seperti Desa Maju (menggunakan bus mikro bermerk Isuzu), Sudako yang menggunakan Daihatsu S38 dan Daihatsu Hijet 55 Wide dan Hijet 1000 (belakangan menggunakan Zebra dan Daihatsu Espass), Kocan (Hijet 55 Wide) dan belakangan menjelma menjadi Rahayu. Namun, Bemo ini termasuk yang paling sering kami gunakan. Ongkosnya murah.

Pokoknya, kalau tujuannya ke Sambu, Bemo pasti menjadi pilihan warga Sukarame. Padahal, naik Bemo ini tak ada nyaman-nyamannya. Selain suspensinya yang ajrut-ajrutan, kabin sempit – lutut penumpang yang duduk berhadapan pasti beradu – karena dipaksa dijejali 12 penumpang.

Penumpang tak jarang harus menutup hidung karena banyaknya asap yang keluar dari knalpot atau dari sela-sela jok depan supir dan penumpang. Posisi mesin Bemo memang di bawah tempat duduk sopir. Jadi kalau setelan pengapian yang masih menggunakan platina nya tidak tepat, asap pasti suka ngebul dari kabin depan juga.

Belum lagi jok penumpang yang kadang sudah sobek dan habis busanya. Pantat penumpang terpaksa duduk di atas lembaran papan yang menjadi kerangka jok nya. Selain itu, kita juga harus berhati-hati pada body nya yang tak jarang sudah karatan. Salah-salah kulit terluka. Tetanus bisa mengancam.

Begitu pun, kami sungguh mencintai Bemo ini. Sampai akhirnya mengalami kisah berikut ini. Satu kali, aku pernah menumpang Bemo dengan tujuan ke Pajak (Pasar) Sambu Medan. Waktu itu, seingatku, aku masih  duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku ke Sambu bersama opungku. Tujuan kami ke Pajak Sentral (kini Pusat Pasar Medan), yang letaknya hanya sekian ratus meter dari Terminal Sambu Medan.

Sejak naik dari depan rumah di Jalan Bakti (sekarang Jalan AR Hakim), Bemo yang kami tumpangi ini sudah agak ajrut-ajrutan. Sopirnya ugal-ugalan. Ngegas mesin sesukanya. Body Bemo pun bergoyang-goyang. Tapi aku tak berpikir aneh-aneh. Ah, biasa juga kalau Bemo seperti itu. Saat kami naik, penumpang belum terlalu banyak. Memang biasanya di simpang Pajak Sukarame, Bemo akan ngetem sebentar untuk menunggu sewa (penumpang) tambahan. Dari situ, perjalanan baru dilanjutkan menuju Sambu lewat Jalan Antara (sekarang Jalan Sutrisno).

Benar saja, dari Sukarame naek beberapa penumpang. Kabin belakang hampir penuh. Aku dan opung duduk berdekatan dengan pintu masuk belakang. Sebenarnya tak tepat juga disebut pintu, karena memang sama sekali tak ada pintu di situ. Aslinya, Bemo ini berjenis pick up. Tapi karena digunakan membawa penumpang, bagian bak belakangnya biasa ditambahin tenda kanvas dan jok memanjang di kedua sisinya. Tanpa pintu.

Biasanya, penumpang lebih suka memandang ke arah belakang karena sisi kiri dan kanan tertutup badan penumpang saking sempitnya. Penumpang hanya bisa melihat ke arah kaca depan atau ke belakang saja.

bemo mulus si emoKarena penumpang nyaris penuh, sopir memacu mesinnya sekencangnya. Biasalah, tipikal sopir angkutan di Medan. Tak sedap dia rasa kalau tidak kebut-kebutan. Kulihat penumpang cuek saja. Tak ada yang komplain. Hampir tak ada kecemasan di wajah mereka. Bahkan opungku juga tenang-tenang saja.

Namun berbeda dengan aku. Perasaanku sepertinya gak enak. Melewati simpang Jalan Ismailiyah, Bemo kami masih dipacu. Tapi getaran di bagian belakang semakin terasa. Aku dan opung duduk persi di atas roda kiri belakang. Mungkin karena itu pula getarannya sangat terasa.

“Grengggggg… pengggg… pengggggg…” suara dari knalpotnya. Asapnya menggumpal. Suara mesin menggeram. Bemo itu semakin bergoyang saja.

Tiba-tiba – seperti di salah satu bagian film Warkop DKI yang dibintangi Dono, Kasino, dan Indro – aku melihat ada ban menggelinding di jalan. Ban itu menggelinding menjauh dari Bemo yang kami tumpangi.

“Ih, ban apa itu…?” aku tanya separuh menjerit untuk mengimbangi bisingnya suara knalpot Bemo kami. Semua penumpang melihat arah telunjukku.

“Ih, iya ya… ban apa ya…?” tanya sebagian dari mereka.

Saat itu, Bemo kami masih berjalan. Hampir tak ada yang aneh. Bemo kami masih berjalan sekitar tiga meter dari titik ban yang menggelinding tadi.

Tiba-tiba…

“Brakkkkkk…” terdengar suara keras. Posisi bagian belakang Bemo kami – persis di atas tempat dudukku – terasa miring. Kami nyaris terbalik dan masuk ke dalam parit pinggir jalan yang pada masa itu masih lebar dan dalam.

“Woiiiiiiii… Kenapa ini…?” hampir semua penumpang berteriak terkejut.

Bemo masih sempat berjalan terseok sekitar 2 meter. Sampai akhirnya, “Brukkkkk…” Bemo kami berhenti dengan posisi miring dengan ban depan nyaris terangkat. Bagian kiri belakang hampir masuk parit. Penumpang di jok sebelah kanan pun oleng. Ibu-ibu gendut di depanku itu terdorong menimpa penumpang di depannya.

Situasi pun tak terkendali. Persis seperti scene konyol dalam film-film Dono itu.

Sekejap, semua penumpang tersadar. Ban yang menggelinding tadi ternyata ban belakang kiri Bemo kami yang sudah terlepas seluruh bautnya. Alamak…!!!

Dalam posisi nyaris terbalik, dengan kepayahan seluruh penumpang keluar. Yang mamak-mamak keluar sambil merepet-repet.

“Woi supir, pake mata kau kalau bawa bemo… Jangan suka-suka kau aja,” kata ibu-ibu Gendut tadi.

Hampir aku tertawa ngakak. Tapi aku tahan semampuku.

Setelah semua penumpang berhasil turun, kami memperhatikan Bemo yang kami tumpangi tadi. Alamak, nyaris kami nyungsep di parit. Tak lama, satu persatu penumpang menghentikan Bemo lain. Kalau sudah begitu, yang paling apes ya si sopir Bemo. Penumpangnya turun dan ogah membayar ongkos. Dianggap ganti uang terkejut mungkin ya? Hahahahaha…

Nah, melihat foto Bemo temanku tadi, aku jadi teringat tragedi Bemo ini. Tak banyak memang yang mengetahui kisah ini sampai akhirnya kutuliskan di sini.

Sekarang, tak satu pun Bemo angkutan menggelinding di jalanan Kota Medan. Seingatku, hampir pertengahan tahun 90’an Bemo dialihkan trayeknya ke kawasan Jalan Garu II di Jalan Sisingamangaraja Medan. Tapi itu pun tak bertahan lama. Satu persatu Bemo itu dipensiunkan pemiliknya. Biasanya, kalau tidak berpindah tangan dan daerah, Bemo-bemo itu dianggurin di pojok-pojok halaman rumah. Bertahun-tahun seperti itu, sampai akhirnya dijual kiloan ke pedagang besi bekas.

Ya salah satunya, Bemo temanku tadi. Entah bagaimana dia bisa bertemu Bemo itu. Untung lah dia iba dan mau mengadopsinya. Kalau tidak, kurasa nasib Bemo itu juga berakhir di timbangan besi tua. Tiba-tiba jadi teringat Dono dalam satu filmnya.

“Mungkin ini jodoh saya…” kata Dono sambil memamerkan moncongnya yang persis Bemo itu. Aku rasa, itu pula yang dikatakan si temanku tadi waktu pertama kali melihat Bemo nya itu. Hahahaha…

8 thoughts on “Tragedi Bemo Sukarame

  1. hahahahaha… sumpah, ketawa sampe sakit perut aku baca cerita bemo ini… gilaakkk!!! perasaan sekarang di sekitar kawasan bromo masih ditemukan si bemo ini, tapi emang populasinya sedikit… sama langkanya seperti puteri duyung… mungkin orang makin malas naik bemo karena kredit motor sudah makin murah saja… hehehee…

  2. Sudah gak ada lagi Bemo di kawasan Bromo. Aku tinggal di daerah situ soalnya. Kalau masih ada pasti sudah aku beli juga untuk nostalgia kisah ini. Wakakakaka…

  3. Pingback: Tragedi Bemo Sukarame Medan | Portal Berita Medan

  4. Memanglah, kalo penggemar mobil antik, blog-nya pun tak jauh2 dari situ.
    Haha… kalo baca bemo ini jd ingat aq waktu kecil dulu, Bang. Di Surabaya juga banyak dulu bemo antik ini. Tp skrg udah menghilang.
    Kalo di Medan, nampaknya ntar lagi Sudako juga ikut jejak bemo ini, Bang. Skrg aja kondisinya udah hidup payah, mati mesin sering.
    Yg jelas, namanya transportasi umum, kondisinya harus bagus & layak digunakan oleh masyarakat dengan aman & nyaman.

  5. Isya: “…memang edan dan seru juga cerita masa kanak-kanak kita dulu, aq juga pnya crita yg hmpir mirip cuma beda tipis dg critanya bemo jadul pk deni ini, cumanya neh..sudako “danga-danga’ (Daihatsu ST 38). yah.. aq teringat di awal tahun 80-an aq sama kakaku naik sudako tujuan Sambu-Amaliun-Halat,wktu itu aq diantar skolah (kls 3 SD) ke Jln Megawati /Halat ujung dri rumahku Prumn.Helvetia (rmh ku uda pindah tpi skolah ku blm sempat dipindahkan ortuku k helvet) ) ditabrak bus Kurnia (tuh bus nya tujuan k Aceh), wktu itu bus tsb baru kluar dri terminalnya di jl Sm Raja perisi di smping kolam renang Paradiso. Itu juga akibat supir nya ‘sok jago’ suka-sukanya tancap dg gas ‘jig-jag’ dn bisa jadi speed sudako itu kalah cepat untuk menghindar dari bus itu, brakkkk….sudako aq oleng ke kanan ngantam tukang jualan es di smpang jln Japaris,kacanya pun pecah pas di tas kpla ku, herannya serpihan kacanya nggak lngsung kenak kpla ku. Ehh.. malah pnumpang yang di ujung dalam kok yg luka parah. sungguh aq heran waktu itu. aq pun brsyukur sama Allah aq gak terluka, namun mentalku smpat down waktu itu. Sedihnya lgi wktu itu uang/ongkos diberi bapaku untuk kami berdua pas2an utk ongkos sudako PP (pulang pergi). Akhirnya kakaku mmutsukan kmi jalan aja pelan2 hgga sampe k Sekolahku. ya..lumayan juga capeknya, stengah jam juga baru nyampe, di tengah terik matahari (skolah q masuk siang waktu itu). Ada terasa sedih di hati kami… Nasib…nasib…?! Yah..sampai skarang, knangan itu sulit aq lupakan. Oh..SUDAKO JADUL bin Danga’-danga’ gmana nasibmu kini…??!l

  6. Intermezo neh..Woiii….@!?? pak agus, ente keknya kurang ‘anak main’ waktu kecil dulu yauww.., masak ente main tebak2 aja bahwa skarang msh ada bemo di jln bromo. aq brkomentar krn prmainan kcil q juga di skitar situ smpe skarng juga sring lwat jl bromo.ente cari skarang sampe dengkul ente patahh..klo ada bemo yang msh beroperasional ato jalan skarang. kalo ada orang yg suka koleksi bemo sprti orang yg ngirim fotonya dlm cerita ulasan pak deny mgkin aja.

  7. ntermezo neh..Woiii….@!?? pak agus, ente keknya kurang ‘anak main’ waktu kecil dulu yauww.., masak ente main tebak2 aja bahwa skarang msh ada bemo di jln bromo. aq brkomentar krn prmainan kcil q juga di skitar situ smpe skarng juga sring lwat jl bromo.ente cari skarang sampe dengkul ente patahh..klo ada bemo yang msh beroperasional ato jalan skarang. kalo ada orang yg suka koleksi bemo sprti orang yg ngirim fotonya dlm cerita ulasan pak deny mgkin aja. kalo sudaco danga’-danga’ mgkin aj msh ada jln itu tggl 1-2 aja, yg lainnya sdh bnyak menjelma jdi “odong-odong. Tuh..prmainan yg sring anak ente tongkrong saban sore hingga malam hilir mudik
    di pinggiran kota Medan..heeeheeeheee….!@?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s