Raja Tetap Raja

efendi simbolonKALAU mengingat-ingat semuanya, rasanya masih menggelikan. Ini masih cerita yang terkait dengan pesta rakyat Sumatera Utara yang baru berlangsung pagi tadi.

Sayang, cerita-cerita ini memang belum pernah kubuktikan atau kulihat langsung. Tapi banyak orang di Medan menceritakannya dari mulut ke mulut. Kalau pun tidak benar, alangkah hebatnya kampanye yang dilakukan lawan-lawan politik si Bang Simbolon ini.

Misalnya. “Ah, Simbolon itu kayak anak-anak. Makan saja harus disulangi,” kata seorang teman.

Aku belum melihat langsung kebenarannya. Tapi seorang teman wartawan yang kebetulan sempat berada di sekitar Simbolon mengatakan, lae Simbolon (ijin menyebut lae karena eamak ku boru parna), memang sudah seperti raja sejak lahir. Saat makan, semuanya harus sudah disiapkan sama orang-orangnya. “Makan saja mesti dilayani,” kata si kawan heran.

Aku anggap cerita ini benar. Karena si kawan wartawan cukup terjamin kredibilitasnya. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin seorang raja bisa melayani rakyatnya. Raja yang pelayan hanya ada di cerita-cerita rakyat. Dongeng. Atau cerita di jaman para nabi. Sekarang? Raja adalah Raja. Sekali Raja tetap Raja! Jarang sekali ditemukan orang berdarah biru yang mau melayani sekarang ini.

Selain itu, Simbolon ini kerap menyemburkan kalimat-kalimat yang tak penting. Beberapa kali kalangan Batak protes sama statement yang dikeluarkannya. “Tak mbatak sama sekali,” kata seorang kawan yang Jawa.

Dia juga tidak bisa menyamarkan ketidaksukaannya pada seseorang. Ingat kisah “ketidaksukaannya pada Dahlan Iskan?” Bagaimana mungkin rakyat mau bersimpati, kalau masih saat berstatus saja Calon Gubernur Sumatera Utara saja si lae ini sudah menunjukkan kebencian yang cenderung lebay pada seseorang. Bisa-bisa suatu saat nanti, sikap serupa ditunjukkannya saat sudah menjadi seorang gubernur.

Sebenarnya masih banyak cerita menggelikan lain tentang Simbolon yang ini. Tapi aku rasa yang dua itu sudah bisa mewakili.

Begitu pun, perhitungan cepat tadi siang memosisikan Simbolon di urutan kedua setelah pasangan Gatot Pujo Nugroho. Prestasi yang cukup lumayan. Karena sebelumnya aku hanya meyakini ia paling banter ada di posisi ketiga setelah pasangan GusMan. Ternyata aku salah… Atau mungkin dia bisa menyodok karena pengaruh Jokowi di jam-jam terakhir sebelum pemilihan?

Ah, Simbolon… Bang lain kali kalau mau mencuri hati konstituen cobalah selami hati mereka yang terdalam. Lakukan apa yang mereka inginkan. Tapi ternyata darah Ningrat abang tak bisa diubah. Rakyat rindu parhobas, bukan Raja yang kapan saja bisa menindas mereka saat dia suka.

*Mendadak teringat pada semua uang yang sudah dihabiskan selama masa sebelum pemilihan. Andai, ya andai saja, semua uang itu digunakan untuk memperbaiki jalan ke Bonapasogit, tentu semuanya tidak akan sia-sia dan rakyat akan mengenang seluruh jasa Simbolon. Meski ia tidak menjadi gubernur Sumatera Utara*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s