Mulai Menyukai Kopi

DULU aku tidak begitu menyukai kopi. Minuman berwarna hitam ini kerap membuat jantungku berdebar-debar. Perut kembung. Di tingkat yang lebih parah – jika minum kopi racikan semisal cappucino – tak butuh waktu lama setelah diseruput untuk membuat perutku mulas.

Tapi itu dulu. Sekarang, kopi agak menjadi lebih akrab di tenggorokan dan di lambung. Pelan-pelan, lidah sudah mulai bisa membedakan mana kopi yang enak dan yang tidak enak. Lambung pun sudah lebih berkompromi. Namun, efek lama dari kopi racikan seperti cappucino masih berlaku. Tidak tau kenapa bisa begitu.

Pepatah ala bisa karena biasa mungkin berlaku dalam perkara ini. Belakangan ini, aku mulai akrab dengan kopi. Utamanya jenis kopi hitam yang disajikan panas-panas hanya dengan sedikit gula. Atau, kopi dingin dengan tambahan es. Sering meminumnya mungkin membuat efek samping yang dulu itu hilang.

Selain sudah terbiasa, faktor mutu kopi aku yakini berpengaruh besar dalam hal ini. Kopi yang kuminum dulu-dulu itu mungkin saja berkualitas rendah. Sering kali kopi murah memiliki kualitas jelek. Kadang, ia dicampur dengan bubuk jagung.

Maklum saja, dulu kopi hanya bisa kunikmati di kedai-kedai kopi kelas warkop di pinggiran jalan. Atau saat tak sengaja menghadiri sebuah pesta. Di kalangan masyarakat Batak, dalam sebuah pesta pernikahan atau bahkan kemalangan, adalah jamak menyuguhkan kopi hitam panas bagi tamu yang hadir.

Tau sendiri lah mutu kopi yang disajikan di tempat-tempat seperti itu. Tapi hari-hari ini kopi sudah naik kelas. Banyak kafe menyajikan kopi berkualitas bagus. Harganya tentu saja menyesuaikan diri. Wajar dong, dapat barang bagus namun mesti bayar sedikit lebih mahal.

Tapi tak semua kafe di Medan menyajikan kopi bagus. Banyak juga kafe yang sifatnya hore-hore. Bagi mereka, yang penting tamu banyak. Ruangan mereka riuh rendah. Mutu kopi atau hidangan lain itu urusan kesekian. Toh tamu juga tak komplain pada rasa kopi yang dihidangkan.

Namun, sebagus-bagusnya kopi yang disajikan dalam berbagai gaya, aku selalu lebih memilih untuk menyeruput kopi hitam. Lebih sering lagi Espresso. Jenis ini merupakan sari kopi yang dibuat menggunakan alat khusus. Biasanya disajikan dalam gelas kecil yang biasa digunakan untuk meminum wiski.

Tak banyak orang yang menyukai Espresso. Bahkan bagi seorang penggila kopi sekalipun. Tapi, aku menyukainya. Bahkan, seorang pemilik kafe besar dan baru membuka kembali outletnya di Jalan Pattimura Medan pun heran pada kegemaranku menikmati Espresso ini.

“Saya kira kamu adalah peminum kopi kelas berat. Karena konsumen kami yang biasanya suka minum Espresso adalah orang dari golongan itu,” herannya suatu kali saat kami kongkow di kafe nya.

Memang, karena melewati semacam proses penyulingan, kopi Espresso menjadi lebih kental. Aromanya – jika menggunakan kopi yang bagus – pasti lebih terasa di hidung. Soal rasa, dipastikan juga akan lebih nendang dari pada sekadar kopi hitam biasa. Konon, Espresso sudah berusia seabad sejak dari pertama kali diperkenalkan dulu.

Kualitas Espresso sering kali dipengaruhi oleh alat pembuatnya. Alat yang dimaksud bisa berupa coffee maker yang harganya mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah. Atau bisa juga menggunakan alat yang lebih murah seperti French Press, Classic Drip/Vietnam Drip, Moka Pot, Syphon, dll.

Lantas, di Medan di mana bisa menikmati Espresso? Ada banyak tempat saya kira. Sebagai contoh Anda bisa mencoba Espresso di Macehat di Jalan Karo. Di sini, Espresso nya cukup oke. Maklum saja, mereka menggunakan jenis kopi pilihan. Selain itu, menggunakan mesin pembuat yang juga berkualitas bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s