Hasangapon Mejeng di LRO

KALAU Anda berlangganan atau kebetulan membeli majalah Land Rover Owner International edisi April 2011, bolak-baliklah halaman demi halamannya. Di satu halamannya – aku  juga tak tahu di halaman berapa karena belum melihat majalahnya – Anda akan melihat foto si Hasangapon, Land Rover SWB 88″ tahun 1961 berwarna biru bersama tuannya.

Ya, setelah setahun lebih kukirimkan, artikel itu baru naik cetak di edisi April 2011. Tulisan itu dicetak di satu halaman, plus dua foto pendukung. Yang pertama foto perempuan pemilik toko Pelita, penjual suku cadang Land Rover yang ada di Jalan Surakarta Medan, dan yang satu lagi, fotoku bersama Hasangapon yang difoto oleh temanku, Tonggo Simangunsong.

Aku tahu artikel itu sudah naik cetak setelah John Pearson, si editor in chief Land Rover Owner International mengirim email dan lampiran halaman majalah itu dalam file pdf.

So, tulisan ini aku buat bukan maksud untuk menarsiskan diri karena masuk dalam majalah sekaliber LRO. Tapi, tulisan ini aku buat untuk meluruskan apa yang sudah dicetak oleh LRO. Aku tak menyangka, ternyata majalah sebesar LRO melakukan kesalahan dalam penyuntingan artikelnya.

Awalnya, aku mengirimkan cerita tentang perempuan bernama Elly yang bersama suaminya, A Tong, meneruskan bisnis keluarga sebuah toko penjual suku cadang mobil buatan Inggris itu. Tulisan itu sudah selesai aku buat dan kirimkan. Hampir setahu berselang, tepatnya beberapa bulan lalu, Pearson memintaku mengirimkan foto diri bersama Hasangapon dan sedikit cerita mengenai Land Rover yang diberikan sebagai  hadiah pernikahanku itu.

Aku pikir, mungkin si Pearson akan membuatkan semacam biodata kecil mengenai penulis artikelnya. Tapi ternyata aku salah duga. Tulisan itu dimuat di rubrik tentang seseorang bersama Land Rovernya. Pearson membuat tulisan itu dengan gaya bertutur orang pertama, yaitu aku sendiri.

Di sinilah kesalahan itu terjadi. Tulisan yang dimintanya terakhir aku kirimkan. Di situ aku ceritakan tentang Hasangapon dan pemilik sebelumnya, Alexander Davey Sibarani, suami dari Grace Siregar, keduanya adalah sahabat baikku yang kini menetap di Hove, sekitar satu jam perjalanan dari London, Inggris.

Selain cerita tentang Hasangapon, aku juga menuturkan tentang Si Landong, Land Roverku sebelumnya yang kini sudah berpindah tangan. Aku menceritakan sejelas-jelasnya. Dan ternyata, Pearson melakukan pengeditan seenaknya tanpa memverifikasi cerita yang dibuatnya.

Tulisan yang tercetak pun menjadi konyol. Awal-awalnya masih benar. Disebutkan, kalau Hasangapon aku dapatkan dari Alexander yang sudah pindah ke Inggris dan meninggalkankan Land Rover itu di sebuah bengkel. Tapi paragraf selanjutnya adalah kesalaha fatal. LRO menuliskan, pemilik Hasangapon sebelum Alex adalah seorang peternak kambing yang menggunakan Land Rover itu mengangkut rumput untuk makanan kambing.

Disebut juga, aku melakukan banyak perbaikan pada mobil yang sudah sangat jelek kondisinya itu. Mengganti pintu-pintu, atap, bemper, stir, kabel kelistrikan, bla bla bla… sampai ke girboksnya. Alamak! Padahal aku mendapat Hasangapon dalam kondisi serupa, tapi dengan mesin yang nyaris rusak total.

Cerita itu memang benar adanya. Tapi bukan dialami oleh Hasangapon, tapi si Landong, Land Rover Short Wheel Base 88″ yang kebetulan memiliki tahun lahir yang sama dengan Hasangapon. Pearson salah menjalin ceritanya.

Lucu aja rasanya kalau majalah sekaliber LRO melakukan kesalahan fatal dalam hal editingnya. Aku sedikit heran, kenapa sebelum artikel itu dinaikkan tidak dikirimkan dulu untuk aku lihat, siapa tahu ada kesalahan. Kami saja yang di Indonesia melakukan hal seperti itu, tapi media sebesar LRO malah melupakannya.

Ah, entahlah. Aku juga malas menanyakannya ke Pearson. Emailnya aku balas dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa, aku minta copy majalahnya sekalian menanyakan, apa aku masih bisa mengirimkan story lainnya. Eh, ternyata dia welcome. “Please send us another story Denny,” kata Pearson di emailnya.

Kesalahan editing itu aku cuekin. Tokh yang tahu cerita sebenarnya hanya aku, Alexander, dan orang-orang dekat yang mengetahui history tentang si Hasangapon. Jutaan pembaca LRO di seluruh dunia mungkin tidak tahu. Pasti seru melihat mereka membaca kisah itu sambil manggut-manggut kagum. Bagaimana tidak, mereka pasti akan membayangkan sebuah Land Rover yang sudah sangat butut dan sekarang bisa menjelma mulus dan mengkilap.

Meski rada kecewa karena kesalahan itu, yang bikin senang, lewat tulisan itu nama Kota Medan akan semakin lebih dikenal oleh kalangan Land Rover enthusiast karena masih memiliki banyak Land Rover yang bagus-bagus. Satu lagi yang membuat senang, Land Rover Club Medan, klub tempat aku bergabung bersama rekan lain, juga disebut-sebut. Setelah dipublished dua halaman penuh di majalah Land Rover Monthly tahun lalu, kini LRCM nampil di majalah Land Rover terbesar di dunia. Mudah-mudahan klub ini bisa semakin terkenal!

Salam Panci Rombeng

3 thoughts on “Hasangapon Mejeng di LRO

  1. ya memang kalau mau ditulis di majalah harus banyak liku likunya… kemungkinan itu adalah kesalahan yang disengaja🙂. Salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s