Si Landong, Keajaiban Sebuah Land Rover

SI LANDONG, Land Rover Series II putih keluaran tahun 1961 milik saya sudah lama berpindah tangan. Ia terpaksa dijual karena ketika itu saya memiliki kebutuhan lain yang tak kalah mendesak. Dengan berat hati Landong terpaksa dilepas. Meski hanya bersama dalam waktu sekitar satu tahun, banyak kisah yang sudah saya lewatkan bersama Si Landong.

Benar kata beberapa orang maniak Land Rover. Jip ini tak sekadar benda mati. Sejatinya Land Rover seperti hidup dan bernyawa. Tidak percaya? Cobalah tanyakan kepada beberapa orang pemilik Land Rover, niscaya mereka akan membenarkannya!

Usah heran mendengar cerita mobil yang tadinya lancar-lancar saja tiba-tiba ngadat dan tak bisa dihidupkan. Segala upaya dilakukan, ia tetap tak mau hidup. Tapi, setelah dibujuk-bujuk dengan sepenuh hati, seperti orang tua membujuk anaknya, si Land Rover kembali hidup tanpa masalah. Ada juga cerita, pemilik Land Rover mengaku selalu berkomunikasi dengan Land Rovernya dalam berbagai kesempatan.

Bercakap-cakap dengan besi dan benda mati?

Awalnya saya mengira itu semua hanya sekadar bumbu penyedap cerita. Tapi, setelah memiliki dan mengendarai Land Rover, kisah tadi ada benarnya. Di dalam hati, saya membenarkan bahwa Land Rover itu memang bernyawa! Dia seperti manusia yang memiliki perasaan. Kadang gembira, dan kadang juga mau mengambek. Makanya, sebagai pemilik saya harus pandai-pandai membujuknya.

Sebagai benda yang usianya jauh melebihi usia saya, Si Landong wajar saja kalau sesekali ulahnya membuat saya kerepotan. Misalnya air radiator yang tiba-tiba kering karena bocor. Beberapa kali harus mogok karena kehabisan bahan bakar. Maklum saja, indikator bahan bakarnya sudah tidak bekerja normal. Untungnya, masalah-masalah ini tak berulang setelah diperbaiki.

Kisah susah saya bersama Si Landong saya sudahi sampai di situ saja. Karena sebenarnya menurut saya pribadi, ulahnya itu masih dalam batas wajar. Berbeda dengan mobil saya sebelumnya, sebuah Jeep CJ7.

Tanpa bermaksud membandingkan, si CJ7, meski usianya jauh lebih muda dari Si Landong, tapi ia lebih sering menyusahkan saya. Pernah satu kali, as roda belakangnya patah, di tengah kota pula. Pernah pula roda kiri depannya copot dan menggelinding kencang. Masih untung, roda itu tak menghantam orang. Gak bisa dibayangkan efeknya kalau ini terjadi karena rodanya berukuran lumayan besar.

Sekarang saya mau bercerita tentang suka saya bersama si Landong, sesuai tema cerita yang berkisah bahwa sejatinya Land Rover itu memiliki nyawa! Saya lupa kapan saya mulai sadar pada kelebihannya ini. Percaya gak percaya, Si Landong itu selalu “bisa” memberikan tempat parkir di mana pun dia akan parkir, tak peduli sedang padat seperti apapun tempat parkirnya.

Saya tidak mengalami ini sendiri. Istri saya juga merasakannya. Beberapa kali, setelah secara tak sengaja, kami selalu menemukan tempat parkir untuk Landong di parkiran Sun Plaza, Medan, yang biasanya selalu penuh pada akhir pekan. Suatu kali, setelah beberapa kali, saat ingin parkir di basement Sun Plaza, kami berdua selalu “bertaruh” Bagaimana ya? Apa kali ini kita masih dapat space untuk parkir? Meski saat kami masuk ke basement space parkir sudah penuh, pasti tiba-tiba saja ada orang yang berjalan menuju mobilnya dan ingin pulang. Dan itu tentu saja memberikan Landong tempat untuk parkir!

Kejadian ini terjadi berulang. Malah tak hanya di parkiran Sun Plaza saja. Saat ingin parkir di mall lain, Landong pasti akan segera mendapat tempat parkir. Baik itu di Medan Fair Plaza, Thamrin Plaza, dan sejumlah tempat yang sering kami kunjungi.

Kisah ini beberapa kali kami diskusikan. Kok bisa ya? Begitu selalu muncul pertanyaan di benak kami berdua. Anda mau percaya atau tidak, jarang sekali kami harus memutari basement Sun Plaza hanya untuk parkir. Biasanya, begitu masuk, langsung dapat tempat parkir. Keajaiban kecil yang dimiliki Si Landong ini tentu saja membuat kami suka cita. Kami tak harus bersusah payah memutar di tempat parkir hanya untuk mendapatkan tempat. Hebat kan?

Sekarang Si Landong sudah tidak ada. Kabarnya, ia sekarang berada di sebuah showroom mobil bekas di Jalan Gagak Hitam (Ringroad Medan). Seorang teman bercerita, Si Landong dipajang di situ dan dibanderol dengan harga Rp 40 juta! Luar biasa! Saya hanya bisa menelan ludah. (Update: Landong sudah kembali dibeli orang. Sayang belum pernah bertemu pemiliknya yang sekarang).

Sebentar lagi, Land Rover saya yang lain – Si Hasangapon – sudah bisa berjalan. Saya tidak tau apakah dia bisa memberikan keajaiban serupa Si Landong, atau malah lebih banyak? Mudah-mudahan saja, soalnya dia saja sudah menjadi berkat bagi saya dan istri saya karena Hasangapon merupakan hadiah pernikahan kami.

7 thoughts on “Si Landong, Keajaiban Sebuah Land Rover

  1. Sebuah cerita yang menarik, rasa-rasa nya Si Landong memang punya “sesuatu” ketika dimiliki, tentu saja karena Land Rover ini diberi nama. Seandainya tidak diberi nama, mungkin Si Landong tidak membawa “keberutungan”, lihat saja pada Jeep CJ 7 yang diceritakan tanpa disebut namanya, sepertinya sering membuat susah pemiliknya. Saya enggak tahu apa arti nama Landong, setiap nama tentu punya arti, seperti kebanyakan orang Jawa memberikan nama pada anaknya. Nah coba berikan nama dengan arti, semoga nanti ada Land Rover lain yang kelakuannya lebih cantik dari Si Landong. Salam kenal

  2. selamat yah… semoga si Landong berjodoh dengan tuan yg sayang mobil… dan si Hasangapon ini, harusnya sudah selesai dibangun ya? Sharing dong ceritanya… salam Landie..

  3. Salam kenal! Terima kasih sudah singgah ke blog ini. Si Landong sejak pindah tangan tak pernah lagi ketemu. Pernah lihat di jalan sih sekali. Sedih juga. Mudah-mudahan pemilik barunya merawatnya sama seperti aku merawatnya dulu. Mudah-mudahan dia lebih cinta dari aku. Kalau si Hasangapon, udah kelar bang. Sudah hampir setahun. Sudah dibawa jalan-jalan ke beberapa daerah seputaran Medan. Memang belum pernah dibawa jauh-jauh, Ntarlah kalau udah ada kesempatan. Btw, pake Landy apa bang?

  4. taukah anda knp landong spt ini,,landong di buat dengan hand made,,bahkan yg membuat ada juga yg mati,,karena saat itu,,pabrik landong juga kena bom,,,tdk beda dengan keris,,,dan makhluk halus itu menyukai benda logam untuk di tempati,,yg saat pembuatanya di tempa dengan tangan,,coba klo pny mobil di kasih galih pohon asam,,biar mobil tdk di huni yg lembut lembut

  5. Pernah sekali naik land rover ini dulu kepunyaan arwah pakcik saya yang bekerja sebagai pemandu jabatan hutan Malaysia. Menurut pakcik saya, kenderaan ini low maintainance dan jarang rosak.

  6. Ini En. Suhaimi kah? Benar Land Rover itu low maintenance kalau masih dalam kondisi bagus. Tapi tidak begitu kalau melupakan perawatan rutinnya. Bisa-bisa kantong kita bolong dibuatnya. Saya pake Land Rover, meski tidak dipakai daily use, tak banyak lah keluar uang. Kecuali untuk beli gasoline😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s