Aku, Ledy, dan Pernikahan Kami

Kamarku, Sabtu (14/11) 2009. Hari beranjak menuju sore. Kulirik ke luar jendela, mendung masih menggayut sejak siang tadi. Barusan gerimis sempat turun dan sampai sekarang masih merintik. Cuaca yang bikin malas.

Sejak bangun tadi aku tidak berbuat apa-apa selain browsing, posting info, dan seleksi foto-foto job tadi malam sambil dengar musik lewat earphone. Cuaca ini memang betul-betul bikin malas. Padahal tadi siang itu rencananya aku pengen cuci si Landong karena sudah kotor betul. Setidaknya biar besok dia terlihat fresh ikutan ke gereja.

Segelas susu coklat baru saja kuteguk habis. Aku masih saja tepekur di depan monitor netbook ini. Facebook sudah semakin membosankan. Update berita rada-rada malas. Sebenarnya aku ada janji bertemu dengan teman-teman Land Rover di bengkel sore ini. Tapi heran juga, sampai sekarang belum ada kabar dari mereka. Jadi atau engga ya?

Tiba-tiba ku teringat lagi, hari ini sudah nyaris tengah bulan November. Kalau dihitung ke depan, hari pernikahanku tinggal sebulan lagi! Iya, sebulan lagi! Upsss… perputaran hari semakin tak terasa hari-hari ini. Waktu terasa berputar dua kali lebih kencang. Perasaan baru kemaren ke gereja, eh besok sudah mesti ke gereja lagi. Baru aja bangun, eh, udah mesti tidur lagi!

Btw, ingat-ingat soal pernikahan, iya bulan depan tepatnya tanggal 18 Desember, aku akan melangsungkan pernikahan di Medan. Mungkin sudah banyak yang tahu dengan siapa aku melangsungkan pernikahan dan sekaligus memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupku. Tapi pasti masih lebih banyak yang belum tahu, secara aku juga bukan siapa-siapa. Hehehehe…

Baiklah, aku perkenalkan saja. Namanya Gledy Ratauli Rosalin Simanjuntak. Lebih akrab disapa dengan Ledy Simanjuntak saja. Kalau mau kenal lebih dekat dengan dia, silahkan intip blognya di sebelah. Atau kalau mau kenal bagaimana tampangnya, silahkan tonton serius berita-berita di Metro TV. Ya, Ledy memang bekerja menjadi reporter di stasiun televisi berita pertama itu. Aku akan bercerita tentang siapa Ledy di postingan berikutnya. Tunggu aja.

damai di dalam pelukanAku baru kenal Ledy setahun belakangan ini. Tapi biarpun begitu, kami sudah mantap satu sama lainnya sampai akhirnya memutuskan untuk mengikat janji untuk hidup bersama di depan Tuhan, lewat pemberkatan di gereja tentunya. Puji Tuhan, kedua keluarga besar kami saling mendukung rencana kami itu. Setelah melewati berbagai proses, hari berbahagia itu diputuskan berlangsung Jumat, 18 Desember 2009.

Hari yang ditunggu-tunggu itu sudah tak lama lagi. Ia akan tiba suatu saat ketika aku terbangun dari tidur. Yang pasti beberapa persiapan ke arah sana sudah kami lalui. Fisik dan psikis. Materi dan moril. Lebih dari separuh persiapan sudah kami lewati. Sekarang tinggal sekadar finalisasi. Doa kami, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar hingga perhelatan itu selesai, dan yang lebih penting, kebaikan demi kebaikan akan mengiringi perjalanan keluarga yang akan kami bangun nanti.

Pernikahan kami itu sendiri nanti kami rancang sederhana. Minimalis istilahnya. Kami berdua memang penyuka segala hal yang minimalis. Apalagi minimalis itu memang terbukti bisa meminimalisir bujet. Hehehehe… Tapi minimalis bukan berarti jamak, seperti hal-hal kebanyakan. Kami juga mau hari istimewa itu benar-benar menjadi istimewa, biar enak dikenang sepanjang jaman.

6495_122107893943_573148943_2351660_6493420_nSalah satunya adalah penggunaan mobil penganten. Jauh-jauh hari, bahkan sebelum ketemu dengan Ledy, aku sudah meniatkan kalau menikah nanti akan menggunakan mobil yang tak biasa. Kebetulan sejak lama aku memang menggilai barang-barang antik, termasuk mobil klasik. Dan karena aku menyukai jip klasik, Land Rover, kami berdua memutuskan untuk menggunakan Land Rover sebagai mobil pengantin. Land Rover itu tentu saja tidak akan jalan sendirian, aku mau, ia diiringi dengan sejumlah Land Rover lain. Biar eye catching!

Awalnya aku memang mengidamkan sebuah Land Rover Long Wheel Base (yang panjang) untuk jadi kereta pengantar kami berdua itu nanti. Tapi karena aku cuma punya sebuah Land Rover Short Wheel Base alias LR pendek, aku sempat memutuskan untuk menggunakan yang pendek saja. Aku sempat melirik sebuah Land Rover panjang yang mau dijual pemiliknya. Tapi sekadar melirik saja, sudah tak mungkin untuk memilikinya.

_DSC0783Tapi dasar memang sudah berjodoh, tiba-tiba mobil itu dibeli oleh teman sesama penghobby Land Rover. Waktu aku utarakan keinginanku itu ke dia, ternyata dia dukung penuh. Malah, mobil itu sudah dibenahi habis-habisan. Catnya dikupas, dan dibalur warna baru. Kabin dalam sudah dibenahi. Sebentar lagi akan dipasangi pendingin ruangan juga. “Biar kalian tidak kepanasan,” kata David, si empunya. Enak memang punya banyak teman yang baik-baik.

BTW, kami berdua sangat merasakan aura positif menyertai pernikahan ini. Gimana engga, berkat demi berkat menghampiri kami berdua. Bentuknya berbagai macam. Mulai dari tawaran pemotretan, video dokumentasi, pengisi acara, mobil pengantin, sampai satu hal yang benar-benar bikin aku shock: mendapat hadiah sebuah Land Rover Series II 1961 klasik sebagai hadiah pernikahan! Kaget? Pasti, lha aku aja masih kaget sampai sekarang kok.

Adalah sebuah keluarga, Alexander-Grace, dan putri mereka Rachel. Mereka ini awalnya teman biasa. Tapi waktu dan persahabatan yang simultan membuat kami sudah seperti saudara dekat saja. Seperti Ledy, mereka sebenarnya baru saja aku kenal. Tapi waktu mengubah semuanya. Kami sudah lebih dari sekedar teman biasa. Kami sudah sedekat saudara.

Keluarga ini lebih dari enam bulan lalu memutuskan untuk pindah ke Inggris. Alexander memang asli orang Inggris. Karena menikahi Grace, ia menjadi Batak. Namanya lalu mendapat embel-embel Sibarani, sebagai fam barunya. Alexander tidak setengah-setengah dalam transformasi dari bule menjadi mbatak ini. Sering kali aku merasa dia lebih mbatak dari orang Batak asli.

Sejak delapan tahun silam, Alexander memiliki sebuah Land Rover. Mobil itu dibelinya dalam kondisi rusak parah. Perlahan, mobil itu dikembalikan ke wujud aslinya. Sayang, saat dalam proses ia mesti pindah-pindah pekerjaan. Ia lalu berpisah selama hampir tujuh tahun dengan si Hasangapon, nama mobilnya itu. Sampai  akhirnya, setahun silam mobil itu diboyong ke Medan.

Delapan tahun tak diurus dan dibiarkan terjemur panas dan kena hujan, membuat kulit Hasangapon kembali muram. Mesinnya juga kembali mengulah dan itu memaksa untuk kembali menerapkan perbaikan ulang. Sebentar dipakai, Hasangapon kembali masuk bengkel. Sebulan, dua bulan, sampai tiba-tiba Alexander mesti kembali berpisah dengan Hasangapon karena mereka pindah ke Inggris.

hasangapon

Hasangapon lalu dititipkan tanpa status padaku. Yang penting “amankan” aja dulu, nanti kita pikirkan bagaimana-bagaimananya, begitu pesan Alexander ke aku waktu dia mau berangkat. Aku sih tidak ada masalah, namanya juga hobby. Proses perbaikan Hasangapon lalu kukawal. Sayang, kendala keuangan membuat perbaikan Hasangapon tersendat. Maklum saja, Alexander sudah menghabiskan banyak uang untuk pindah ke Inggris.

Sampai akhirnya, Jumat 23 Oktober 2009, sekitar jam 03.00 pagi, Grace meninggalkan pesan di account facebook-ku. Isinya kurang lebih begini: To, kami sudah berdiskusi beberapa bulan belakangan ini. Akhirnya kami memutuskan untuk menghadiahkan Hasangapon untuk hari pernikahanmu! Alexander-Grace menyesal karena tak bisa hadir di pesta pemberkatan aku dan Ledy nanti, tapi mereka merasa kehadiran mereka akan terwakilkan dengan kehadiran Hasangapon di keluargaku nanti.

Pesan di facebook itu tentu saja membikin buluku bergidik. Mataku sempat berkaca-kaca. Saking gembiranya, aku kirim sms ke Ledy biar dia membaca pesan itu. Tak lama, Ledy membalas pesanku. Isinya, dia tak kalah shock. Dia juga terharu. Singkat kata, kami berbahagia karena di kelilingi oleh orang-orang luar biasa yang siap berbagi berkat kapan saja. Terima kasih Bang Alex dan kak Grace!

Kembali ke pesta pernikahan kami nanti. Rencananya, iring-iringan kendaraan akan didominasi dengan Land Rover teman-teman dari Land Rover Club Medan. Sebenarnya aku juga pengen ada dua Vespa dan dua motor klasik dalam iring-iringan itu. Tapi untuk yang dua terakhir ini belum ada keputusan. Kita lihat saja nanti.

Kejutan lainnya, tunggu aja live performance Bang Tongam Sirait. Tau Tongam? Dia adalah talent baru dalam dunia tarik suara, khusus lagu-lagu Batak. Lagunya, Come To Lake Toba kini terkenal di mana-mana. Tongam sudah menyatakan kesediaannya untuk menghibur kami dan undangan lain di acara pesta itu nanti.  Kejutan lainnya? Ah, rasanya gak seru kalau dibeberkan semua. Datang dan nikmati aja sendiri.

Pesta itu sendiri nanti kami yakini akan disemuti dengan kehadiran saudara-saudara, handai tolan, teman-teman, dan siapa saja yang ingin berbagi kegembiraan bersama kami berdua.

Duh, rasanya sudah semakin tak sabar menanti hari itu. Mari menghitung hari… Jangan lupa, doakan kami ya…

4 thoughts on “Aku, Ledy, dan Pernikahan Kami

  1. duh,den… jd pengen aku liat pestamu di mdn.. tp apa daya aku nggak bisa. smg persiapan pernikahanmu lancar ya. JBU…

  2. hihihihi.. akhirnya kita nikah juga ya mang.. Kekmanalah nanti pesta kita itu ya? Tapi ingat, yang lbh penting bukan “WEDDING” melainkan “MARRIAGE”.. Love u..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s