Apa Kabar?

Setelah sekian lama akhirnya aku tergelitik lagi untuk meninggalkan jejak di sini. Belakangan ini, ritme online memang tidak seperti dulu lagi. Sekarang, kalau pengen internetan untuk sementara terpaksa ke warnet. Karena itupula jadi tak bebas untuk berlama-lama, apalagi kalau udah nemu keyboard yang rada-rada error. Yang begini nih yang bikin malas untuk nulis. Secara komputer di rumah juga udah digulung. Bisa ya komputer digulung? Bodo ah…

Kalau udah lama gini ngga nulis, rasanya kok rada susah ya. Agak nyendat-nyendat gitu. Bingung milih kata dan merangkaikannya menjadi kalimat. Ceile… Denny, pake bahasa susah. Hahahaha…

Back to the topic. Hampir tiga bulan belakangan ini aku rada rajin jalan-jalan ke pelosok. Misalnya jalan bareng teman-teman di Land Rover. Trip pertama selama 3 hari menyusuri Pulau Samosir. Ini perjalanan lumayan assyik meski nyaris makan abu sepanjang jalan. Lumpur yang dicari tak ketemu, soalnya Samosir sudah cukup lama tak diguyur hujan. Untunglah, trek membelah Samosir via Ronggur Ni Huta cukup menantang. Meski makan debu hampir sepanjang Nainggolan ke Onan Runggu, view di Ronggur Ni Huta lumayan mengenyangkan iman. Sunset di puncak Samosir itu memang cukup mantap.

Trip kedua, masih dengan teman-teman Land Rover, ke Tangkahan-Langkat. Treknya nyaris mirip seperti di Samosir sebelumnya. Sama-sama makan debu juga, meski di penghujung trek (Tangkahan-Bahorok), ada sedikit lumpur. Tapi tak sampai membuat kelojotanlah. Tapi cukup lumayan untuk membuat jip Inggris itu belepotan lumpur. Meski cuma di spatbor doang. Hahahaha… Begitupun, segarnya air sungai yang mengalir di Tangkahan itu cukup untuk menyegarkan badan. Belum lagi bonus menyaksikan gajah kawin. Ternyata kelamin gajah jantan cukup dahsyat. Mirip-mirip belalainya juga. Hahahaha… Ntar fotonya aku upload ya. Pasti banyak yang belum pernah lihat gajah kawin kan?

Nah, kalau trip ketiga yang paling heboh sebenarnya. Di sini tak ada lumpur. Tak ada deru mesin. Tak ada debu. Tak ada bau bensin. Tak ada bongkar pasang strap. Tapi, justru di sini yang paling berkesan sebenarnya. Adrenalinnya beda. Obstacle-nya beda. Tantangannya beda!

Di Balige, selama hampir 3 hari penuh aku berkumpul dengan keluarga baruku. Keluarga baru? Iyalah, keluarga yang ketemu setelah gede. Halah! Hahahaha… Untuk sesi ini, nanti ada part khusus untuk menceritakannya secara lengkap, tunggu aja. Yang penting, aku sangat menikmati kebersamaan selama tiga hari itu. Tiga hari yang penuh kegembiraan dan suka cita. Tiga hari yang sama sekali tak terasa membosankan. Singkatnya, tiga hari yang mengesankan. Gimana gak senang, kenalan dan berkumpul dengan orang-orang baru yang assyik-assyik. Dus plus, atmosfer kota Balige yang memang masih luar biasa. Pokoknya ciamik dah!

Nah, ini dulu intronya ya. Kalau sabar, tunggu cerita berikutnya. Daaaaaa…

4 thoughts on “Apa Kabar?

  1. Ah, sudah tak sabar aku dengar pujian mengenai kampung halamanku, Belgia, eh Balige! Pahatop ma amatta… Hahah!

  2. kog belum ada cerita lanjutannya sampe sekarang bang? plus foto gajah kawin itu, buat penasaran aja nih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s