No, no stuck in a moment again…

Memulai sesuatu yang baru itu – dalam banyak hal – harus diakui memang seringkali tidak mudah. Perencanaan yang sudah disusun rapi pun seringkali meleset. Faktor X bersiliweran. Belakangan, yang muncul adalah persoalan demi persoalan. Sialnya, ini semua tentu menguras energi untuk mencarikan jalan keluar dan penyelesaiannya.

Butuh nafas panjang untuk itu, karena tak mudah juga untuk menyelesaikannya. Menyatukan persepsi sekian banyak orang dalam sebuah tim kerja yang mumpuni bukan perkara gampang. Apalagi jika sekian banyak orang itu memiliki latarbelakang warna yang tak sama.

Ini pula lah yang sedang aku hadapi sekarang ini. Memulai lagi sesuatu yang baru dan sekaligus menciptakan tim kerja yang solid. Iya, sesuatu yang baru itu adalah pekerjaan baruku yang sekarang ini sedang berjalan, belum ada sebulan belakangan ini: sebuh Kora Sore!

”Bagaimana sih kerjaan kalian? Mana koordinasi kerjanya? Bisa-bisanya muncul berita yang sama. Padahal ini kan hanya urusan sepele saja. Tinggal tanya aja…” begitu ucapan yang menjurus ke omelan yang sering kali terlontar dari mulut si bos belakangan ini. Kadang, aku mau tertawa mendengar omelan yang itu-itu saja. Apalagi saat omelan itu coba ditirukan sama kawan-kawan di sini setelah si bos tidak keliatan. Aku pikir mereka bukan bermaksud meledek. Aku tahu, mereka hanya mencoba menertawakan diri sendiri karena sudah mengulang-ulang kesalahan serupa.

Omelan si bos memang bukan ditujukan untukku. Tapi, saban kali melontarkan itu, dia sedang berada di sini, di dekat mejaku. Dan aku merasa, itu juga menjadi cubitan untukku. Cubitan pelan, tapi bisa saja membirukan.

Mengubah ritme kerja yang sudah berjalan selama bertahun-tahun memang tak mudah. Belum-belum, alam bawah sadar sudah menolak duluan. Itu pula yang dialami banyak kawan di sini. Umumnya adalah wartawan ataupun redaktur yang sebelumnya bekerja di koran pagi yang notabene memiliki jam deadline sekaligus jam santai yang panjang.

Waktu bergabung di sini, mereka mulai merasa kepayahan. Gimana tidak payah, kerja belum dimulai, stigma bahwa apa yang dikerjakan sekarang ini adalah susah sudah terbentuk. “Bagaimana bisa menyajikan laporan dengan waktu sesingkat itu? Susah bertemu narsum jam segitu. Ah, wawancara belum kelar tapi udah mesti balik ke kantor.” Nah, yang begini-begini ini justru duluan menjajah pikiran teman-temanku itu. Akibatnya, sejak awal mereka sudah men-suggest diri sendiri, pekerjaan ini memang susah. Jadinya ya memang susah. Padahal, kalau sejak pertama mereka men-suggest mind set masing-masing bahwa tak ada yang berbeda dan semuanya bisa dikerjakan, mungkin cerita di note ini akan berbeda. Halah!

Begitulah. Di tengah waktu yang memang benar-benar sempit ini, semuanya mesti diperbaiki pelan-pelan. Bagaimanapun, saat kondisi seperti tadi itu sudah tercipta harus diakui ini memang menjadi tidak mudah.

Butuh waktu untuk menyesuaikan. Asal jangan larut, sebelum energi salah peruntukan dan benar-benar abis. Ujung-ujungnya jadi stuck in a moment lagi. No, aku tidak mau itu. Bener, aku tidak mau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s