Abdillah Ingin Kembali Berbisnis…

Mantan Walikota Medan Abdillah adalah sosok kontroversial. Ia dinyatakan terbukti korupsi oleh pengadilan, tapi kenyataan membuktikan di tangannyalah Medan mengalami atmosfir berbeda: bersih, terang benderang, dan derap pembangunan berjalan kencang. Inilah kisah sedih seorang pengusaha yang memiliki segala-galanya, namun kini kehilangan segala-galanya, padahal hingga detik ini ia merasa tidak bersalah.

Perjalanan hidup Abdillah seperti mendaki ke puncak. Dari nol, ia menjadi seorang pengusaha sukses. Sekian tahun lalu, Abdillah dikenal sebagai kontraktor kuat di lingkungan Pemko Medan. Ia juga dikenal sebagai pengusaha properti yang berhasil dan “bermain” di areal Kawasan Industri Mabar.

Di tengah-tengah keberhasilan inilah pada tahun 2000 Abdillah “tergoda” memasuki dunia birokrasi, yakni menjajaki kemungkinan menjadi orang nomor satu di Pemko Medan, tempatnya “mencari makan” selama ini. Waktu itu banyak sekali pihak yang mendorong bahkan mendukungnya, termasuk anggota dewan dan walikota saat itu, Bachtiar Jafar. Dukungan kedua pihak ini amat berarti bagi Abdillah, karena waktu itu pemilihan kepala daerah masih melalui DPRD.

Sebenarnya kala itu ada beberapa teman dekat Abdillah yang menasehatinya untuk berpikir ulang tentang tekadnya. Seorang teman Abdillah, seorang pengusaha yang cukup terkenal di Medan, bahkan pernah berkata kepadanya: “Dillah, pikir baik-baik, jangan tukar uang halalmu dengan uang haram…”

Entah apa maksud perkataan itu. Tapi yang pasti, sebelum maju ke pemilihan walikota, Abdillah diketahui punya uang banyak. Asetnya dalam bentuk properti juga bertebaran di beberapa tempat. Dan semua itu diperolehnya dengan menguras keringat. “Abdillah tipe seorang pebisnis tulen. Ia sukses karena ia pintar menangkap peluang dan mau bekerja keras,” tutur sebuah sumber kepada MW.

Kepada para sahabatnya, Abdillah selalu mengemukakan kalau niatnya untuk menjadi orang nomor satu di Medan semata-mata demi pengabdian. Ia tidak puas dengan kondisi Medan saat itu, dan ia merasa terpanggil serta punya kemampuan membangun kota ini menjadi tempat hunian yang lebih baik dan nyaman.

Dan melalui proses berliku-liku, sejarah mencatat pada tahun 2000 Abdillah pun menjadi Walikota Medan pertama yang berasal dari seorang pebinis. Dengan naluri bisnisnyalah Abdillah kemudian memimpin dan membangun Kota Medan, sesuatu yang berbeda dengan walikota-walikota sebelumnya. “Abdillah ingin semuanya serba cepat. Ia mengambil keputusan-keputusan yang memangkas birokrasi yang rumit. Ia ingin Kota Medan berubah dalam waktu singkat,” ucap seorang mantan stafnya.

Tentu saja naiknya Abdillah mejadi orang nomor satu memerlukan cost. Sumber MW membisikkan bahwa Abdillah menghabiskan banyak sekali uangnya dalam proses pemilihan dua periode kepemimpinannya, khususnya untuk periode 2005-2010 dengan sistem pemilihan langsung di mana hampir semua fraksi – kecuali PKS – mendukungnya sebagai calon walikota. Naasnya bagi Abdillah, di tengah reputasinya yang positif di mata warga Medan, kepemimpinan periode keduanya baru saja berlangsung setahun ia sudah disibuki dengan berbagai pemeriksaan oleh aparat. Artinya, Abdillah sendiri “belum banyak menikmati”.

“Abdillah berlari terlalu cepat, sehingga akhirnya ia tersandung,” ujar sumber MW.

Realita mencatat selama hampir dua tahun terakhir Abdillah lebih banyak disibuki dengan proses hukum akibat kasusnya ketimbang memikirkan kemajuan Medan. Kepada teman-temannya, Abdillah mengaku merasa sangat lelah menghadapi semua itu. “Abdillah terkuras habis baik secara fisik, mental maupun materi,” tambah sumber MW, yang menyatakan banyak orang yang mendatangi Abdillah menawarkan jasa baik untuk melepaskannya dari jerat hukum.

Toh di ujung perjalanannya, setelah ia ditahan secara resmi oleh KPK, Abdillah merasa ditinggalkan sendirian oleh banyak temannya. Padahal, dari interaksi dengan Abdillah sebagai walikota, orang-orang tersebut boleh dikatakan menikmati banyak keuntungan. Di penjara, mata Abdillah baru terbuka siapa yang benar-benar teman dan siapa yang cuma sekadar cari keuntungan. “Ada teman dekat yang bahkan tidak mau menjawab telepon Abdillah. Ia terpukul sekali,” sumber MW menuturkan.

Sumber MW juga mengaku bahwa semua kekayaan Abdillah kini kering kerontang. Sekeluar dari penjara nanti, Abdillah harus memulai dari nol lagi. Belum diketahui berapa lama Abdillah harus menghuni sel, karena saat ini ia masih menunggu hasil naik banding yang ia ajukan belum lama ini. Di pengadilan Tipikor Abdillah dihukum 5 tahun penjara serta diharuskan membayar ganti rugi lebih Rp 17 miliar…

Seorang sahabat dekatnya bercerita kepada MW bahwa sampai detik ini Abdillah tidak pernah merasa melakukan korupsi. Dalam menjalani proses hukumnya, kedua anaknya sempat merasa malu pergi ke sekolah dan Abdillah selalu menguatkan mereka dengan berkata: “Jangan pernah merasa malu. Ayahmu bukan koruptor. Semua ini hanya cobaan dari Tuhan.”

Abdillah memang tampak tabah dan tegar menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya itu. “Ia selalu mendekatkan diri kepada Sang Khalik dan rajin salat. Sejak dulu Abdillah memang taat beragama,” ucap sang teman, yang mengaku pada awalnya Abdillah sempat mengalami depresi berat di penjara.

Lalu, apa rencana Abdillah setelah bebas dari penjara nanti?

Kepada teman dekatnya itu, Abdillah menyatakan ingin kembali menekuni dunia bisnis, namun ia memilih berdomisili di Jakarta. Toh Abdillah tidak pernah melupakan Kota Medan. Kepada setiap tamu yang datang menjenguknya, Abdillah selalu menanyakan perkembangan Kota Medan. Tampaknya, ia memang terlanjur mencintai kota ini dan benar-benar terbeban untuk mewujudkan Medan sebagai kota yang lebih baik. Pada masa kepemimpinannya Abdillah memang sering pulang larut malam karena mengelilingi Kota Medan untuk melihat situasi. “Acapkali jam 1 atau 2 dinihari Abdillah masih keliling mengecek kebersihan kota,” ujar temannya.

Ya, Abdillah memang fenomenal. Tidak sedikit orang mencibirnya dan mengkritik berbagai langkah agresifnya semasa menjadi walikota. Tapi juga banyak warga kota yang mengenangnya sebagai walikota terbaik yang pernah dimiliki Medan. Betapa tidak, di tangannyalah kota ini tampak bersih, rapi, terang benderang dan tertib. Ia juga pintar merangkul dunia usaha untuk melakukan investasi, dengan tujuan meningkatkan PAD dan menambah kesempatan kerja bagi warga. Tidak heran banyak orang yang percaya jika Abdillah tidak tersandung kasus dan ia maju dalam pemilihan Gubsu, ia akan menang.

Abdillah telah mendaki nyaris sampai ke puncak, tapi tiba-tiba ia dipaksa turun sampai ke titik paling nadir. Ya, jalan hidup manusia memang tidak bisa diprediksi. Satu hal yang pasti, hari-hari panjang masih terbentang di depannya, dan jalan cerita masih belum habis… (Medan Weekly. Artikel ini sudah dimuat di Rubrik Fokus Medan Weekly edisi 13, 21 – 27 November 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s