Ayo, Tangkap Belut di Tengah Jalan

Sihar Sitompul

Satu malam di bulan Juni lalu, Darwin melaju dengan sepeda motornya dalam kecepatan sedang. Tujuannya pulang ke rumah. Namun sial bagi warga Perumnas Mandala itu. Ia tak menyangka jalan yang dilintasinya “meyimpan” lubang menganga dan dalam. Ia mengira, jalan Mandala By Pass yang sudah dilapis hotmix itu sejak lima bulan sebelumnya mulus-mulus saja.

Tapi Darwin salah perhitungan. Ketika melaju, sebuah lubang besar menganga di depannya. Ia pun mengerem mendadak. Akibatnya, Darwin terjatuh. Masih untung, lukanya tak parah dan sepeda motornya tetap fit. Tapi Darwin masih kesal dengan kejadian itu.

Lain lagi dengan Asiong, warga Jalan Platina, Titi Papan. Ia tergelincir karena menghindari lubang besar saat baru beberapa meter meninggalkan rumahnya. Meski telah terbiasa selama lima tahun dengan kondisi Jalan Platina, ia tetap tak bisa menghindar.

Kisah yang dialami Darwin dan Asiong tak hanya sekali terjadi. Kisah mereka berdua boleh jadi mewakili realitas betapa jalan-jalan di Medan tidak lagi nyaman dilintasi. Tak hanya Jalan Mandala By Pass atau Jalan Platina Titi Papan. Hampir sebagian besar jalan di Medan rusak parah. “Jalan ini hanya bagus selama sekitar enam bulan sejak diaspal,” ujar Ahmad Hasibuan, warga Jalan Mandala By Pass.

Jalan yang menghubungkan Jalan Panglima Denai dan Jalan Letda Sujono itu terakhir kali diaspal pada November dan Desember 2007. Tapi, tak lebih dari setengah tahun berlalu, jalanan itu kembali rusak,

Namun, setengah tahun kemudian jalan itu kembali rusak, terutama di sekitar pertigaan Mandala By Pass-Sejati. Bahkan, sebut Ahmad, pada peringatan HUT RI 17 Agustus lalu, warga di sekitar pertigaan itu memeriahkannya dengan mengadakan perlombaan di pertigaan yang saat hujan tampak lebih mirip kubangan itu.

Bentuk perlombaan yang diadakan warga waktu itu adalah Lomba Menangkap Belut. Ide perlombaan muncul saat pertigaan Mandala By Pass-Sejati terendam air akibat hujan yang mengguyur Medan pada Sabtu (16/8) malam. Pertigaan itupun dibentengi dengan pasir dan 300 an ekor belut dilepas. “Itu sebagai bentuk protes dan keprihatinan kami,” tandas Ahmad.

Warga protes karena banyak pengendara sepeda motor kerap mengalami insiden di ruas jalan tersebut. Dua hari sekali selalu ada pengendara sepeda motor yang jatuh di ruas jalan itu. Selain kecelakaan, banjir juga menjadi momok lain dari kerusakan yang terjadi pada jalan-jalan di Medan. “Kalau hujan deras, jalan ini bisa terendam sampai setinggi lutut,” ucap Asiong. Baru-baru ini, tambahnya, pihak Pemko Medan sudah melakukan pengukuran terhadap Jalan Platina.

Namun, belum diketahui kapan ruas jalan yang rusak sepanjang 2 kilometer itu diperbaiki. Sebagai warga Medan bagian Utara, Asiong berharap perhatian kepada daerahnya berbanding lurus dengan perhatian yang diberikan Pemko Medan terhadap bagian lain kota Medan terutama pusat kota.

Harapan serupa diungkapkan oleh Duma, warga Perumnas Simalingkar. Ia menyesali kualitas jalan tempat tinggalnya yang berada di pinggiran Medan itu. Tak berbeda dengan Jalan Mandala By Pass, Jalan Kapitan Purba yang menjadi pintu masuk Perumnas Simalingkar juga hanya bisa dilintasi dengan nyaman beberapa bulan sejak diperbaiki.

“Yang mengherankan, Pemko justru mengaspal Jalan Jamin Ginting dan ruas jalan lain yang tak mengalami kerusakan apapun. Sementara daerah kami dan daerah lain diabaikan. Apa karena letaknya di pinggiran kota?,” ucap Duma bertanya.

Jika tak segera diperbaiki, sebutnya, kerusakan jalan akan menimbulkan dampak lain seperti kemacetan parah di satu titik. Sebab para pengendara akan memilih ruas jalan yang aman dan lancar untuk dilalui. “Namun, ketika semua pengendara memilih jalan alternatif yang sama, akan menimbulkan kemacetan,” ujar Duma.

Tak dapat dipungkiri, akibat kondisi jalanan tersebut sebagian besar warga Medan menghindari ruas jalan tertentu dan mencari jalan alternatif lain. “Kalau tidak terpaksa, saya tidak akan pernah lewat dari Jalan Mandala By Pass,” ucap Darwin.

Ahmad menambahkan, selain pengendara, usaha warga pun ikut menghindar. Sebuah bengkel dan usaha doorsmeer di sekitar pertigaan Mandala By Pass-Sejati, sebutnya, terpaksa pindah karena sepi konsumen akibat kerusakan jalan. “Jalan ini tak perlu diperbaiki. Cukup tangkap saja oknum yang bermain di proyek perbaikan jalan,” pungkasnya setengah emosi. (Artikel ini sudah dimuat di Medan Weekly, edisi 11, 7 – 13 November 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s