Lumpur! Lumpur! Lumpur!

dsc_24093Mau tahu pakem utama para pencinta jip four wheel drive (4WD)? Tanpa batas! Iya tanpa batas! So, fasten your safety belt…

Tak berlebihan memang untuk menyebutkan kemampuan sebuah jip 4WD tidak memiliki batasan sama sekali. Ia bisa wara-wiri di jalanan mulus. Anteng di medan keriting, berlubang-lubang, berbatu, banjir, lumpur, turunan, atau bahkan tanjakan dengan kemiringan nyaris lebih dari 45°.

Setidaknya itu sudah saya buktikan dalam ekspedisi off road bersama Habitat 4×4, klub pecinta otomotif berpenggerak 4 roda asal Medan yang baru dilaunch Sabtu pekan lalu di Lau Kawar, Tanah Karo, Sumatera Utara. Ekspedisi nyaris selama 24 jam ini kami awali dari SPBU Petronas di Jalan Gagak Hitam Medan. Dua Suzuki LJ 80 (Jangkrik), 3 Super Jimny, 1 Isuzu Trooper, dan 1 Daihatsu Rocky bersama 15 orang (driver dan co driver) beranjak dari Medan, Jumat malam sekitar pukul 20.30 Wib.

Hampir satu jam kemudian, kami berhenti makan di sebuah warung nasi Padang, sekitar 700 an meter dari tempat pemandian alam Sembahe. Hanya sekitar 10 meter dari warung itu, ada satu jalan kecil di sebelah kanan jalan Medan-Brastagi yang menjadi gerbang start penjelajahan rute yang akan kami lalui.

Malam itu, setelah melintasi beberapa perumahan penduduk, gulita menyambut kehadiran kami. Jangkrik, kodok, dan binatang-binatang malam lainnya berkoor pamer suara. Jalan itu lebarnya tak lebih dari 1,5 meter. Aspalnya berlepasan. Begitupun jip masih bisa dipacu dengan kecepatan hingga 60 km/ jam.

Tak lama, aspal jalan benar-benar habis. Jalanan tanah sempit menunggu di depan. Jalanan perkampungan yang agak menjorok ke dalam hutan di kawasan hutan Sembahe, Deli Serdang itu benar-benar licin. Dipastikan, siang sebelumnya areal itu diguyur hujan lebat. Perjuangan pun dimulai. Freelock dibuka, tuas transfercase pun diaktifkan sesuai medan. Keempat roda yang berputar mengikuti torsi mesin merayap dengan penuh tenaga di atas jalanan licin dan berwarna coklat lumpur itu.

Tak lama, sebuah handicap menanti di depan kami. Tikungan ke kanan dan diikuti tikungan ke kiri sambil menanjak menunggu kami. Daihatsu Rocky yang berada di iringan paling depan merayap pelan. Maklum saja, si pemiliknya salah perhitungan. Ia belum sempat mengganti keempat bannya dengan tipe mud terrain (MT) alias ban cangkul. Itu membuat ban tipe all terrain (AT) untuk penggunaan jalan semi off road itu menjadi semakin licin. Tanah liat berhasil “menghilangkan” kembang ban. Untunglah torsi mesin Rocky lumayan mantap. Ia pun berhasil lolos. Setelah Rocky, giliran Suzuki Jimny Sierra yang sudah dimodifikasi menggunakan mesin Vitara. Kapasitas mesin yang cukup besar digabung dengan dimensi body Sierra yang imut membuatnya anteng saja melibas handicap itu. Kemudian berturut-turut dua jangkrik menunjukkan kebolehannya. Yang terakhir sempat terpancak melintang di tengah jalan. “Tiba-tiba seperti kehilangan power,” kata si pengemudinya. Setelah mundur beberapa meter, maju dengan tenaga penuh, Jangkrik itu berhasil lolos.

Kini giliran kami. Jimny hitam keluaran tahun ’82 itu lalu digeber. Awalnya, ia merayap anteng. Namun, karena terlalu ke kiri bahu jalan, ban nya sangkut di ceruk “parit” bekas ban mobil. Bagi Philips, teman yang mengemudikan Jimny ini, off road malam itu adalah pengalaman pertama. Setelah bersusah payah, jip kami akhirnya lolos juga.

Begitu seterusnya. Handicap rute ekspedisi ini tak hanya itu. Berulang kali tunggangan kami sangkut di licinnya jalan. Harus diakui, rute ini memang cukup berat. Tak terasa, hampir 4 jam sudah kami berkubang lumpur di dalam kawasan Sembahe itu. Satu handicap berat lainnya yang sempat “memacetkan” perjalanan berhasil kami taklukkan. Spesial handicap itu merupakan tanjakan punggung bukit penuh lubang – panjangnya sekitar 100 meter – yang siap menjebak, Kalau ground clearance tak cukup, dipastikan jip akan “terbenam” di tengah jalan. Setelah bersusah payah, kami semua lolos juga. Momen itu kami gunakan untuk beristirahat sejenak. Perjalanan dilanjutkan.

Rombongan sempat terhenti saat hendak melintasi jembatan yang rusak. Karena tingkat kesulitannya memang sangat tinggi, dus tak mau mengambil risiko terseret arus sungai, satu persatu jip-jip yang sudah berbalut lumpur itu ditarik pake winch. Lolos.

Rute berikutnya adalah jalanan aspal yang sudah hancur. Kami seolah kesetanan. Menjelang pukul 04.00 Wib pagi itu, semuanya berpacu dalam kecepatan tinggi. Kabin Jimny yang sempit itu seperti dikocok. Tas-tas, botol minuman mineral, dan, astaga, lensa kamera pun sudah tidak di tempatnya lagi, mencelat dari tas. Saya beberapa kali terlempar dari jok. Di sebuah jembatan sebelum Batu Belah di kawasan Sibolangit kami ambil rehat. Setengah jam menghirup udara segar, perjalanan kami lanjutkan.

Sekitar pukul 04.30 Wib, kami keluar dari areal Bumi Perkemahan Sibolangit. Sekitar 20 meter lewat dari Mikie Holiday, kami masuk ke sebuah areal kosong. Areal itu sepertinya memang disetting menjadi tempat ujicoba kemampuan mengemudi off road. Handicapnya lengkap, tanjakan, turunan curam, punggung bukit, dan bebatuan. Hampir dua jam kami memuaskan diri “bermain-main” tuas transfercase, kami menuju Lau Kawar, sekitar 1,5 jam perjalanan dari Berastagi.

Sabtu sekitar pukul 08.00 Wib kami memasuki areal Danau Lau Kawar. Matahari yang mulai muncul dan meninggi melengkapi suasana. Hutan yang masih lebat di kejauhan terlihat di kiri-kanan kami. Bayangannya yang terefleksi di air Danau Lau Kawar benar-benar indah. Penduduk setempat baru memulai aktivitas. Satu-dua minibus angkutan umum masuk untuk mencari penumpang.

Kami lalu bersantai di rumput yang dilapisi plastik. Meluruskan badan adalah suatu kemewahan saat itu. Dan bermalas-malasan sambil menghirup udara segar adalah “penawar” dari keletihan.

Menjelang pukul 12.00 Wib, kami bergerak kembali ke Medan. Di Kota Berastagi yang cukup ramai siang itu, kami makan siang di sebuah rumah makan. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Sebelum benar-benar kembali ke Medan, kami menyempatkan diri mandi-mandi di air hangat di pemandian di Sidebuk-debuk.

Untuk Penghobby 4×4
Habitat 4×4, adalah klub otomotif penyuka off road yang baru dikukuhkan pada Sabtu pekan lalu di Lau Kawar. Hingga kini, setidaknya ada 30 an jip 4WD bergabung di klub yang sering nongkrong di SPBU Petronas di Jalan Gagak Hitam. “Klub ini membuka diri untuk semua jenis kendaraan 4×4, tanpa peduli merk-nya,” kata Yan, yang didaulat menjadi ketua klub.

Ide pembentukan klub ini diawali dari seringnya pertemuan di antara paa anggotanya. “Nah, karena ternyata pengguna jip 4WD sangat banyak, sekalian aja kita buat klubnya,” kata Irul, salah satu penggagas Habitat 4×4.

5 thoughts on “Lumpur! Lumpur! Lumpur!

  1. Pingback: From TUK-TUK to LAU KAWAR with LOVE « sukasukasuka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s