Experience With Honda, Nice!

dsc_10431Sekilas saya melirik ke speedometer, jarumnya bergerak ke angka 130 km/ jam. Jalanan lumayan mulus membentang di depan. Sepi. Itu menggelitik saya untuk terus menginjak pedal gas. Tapi, melihat lonjakan jarum speedometer seperti itu membuat saya agak ngeri sendiri.

Hari itu Minggu. Pagi baru saja beranjak di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Sebanyak 14 unit mobil produksi Honda – Jazz, CRV, dan All New Accord – secara beriring satu persatu keluar dari pelataran parkir Hotel Inna di Parapat. Tujuannya ke Taman Eden 100 di Lumban Rang, Desa Sionggang Utara, Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir, sekitar 7 km dari kota wisata yang terkenal dengan Danau Toba-nya itu.

Iring-iringan itu adalah peserta even Experience With Honda yang diselenggarakan Prospect Motor selama dua hari yang dimulai Sabtu pekan lalu. Saya, bersama 7 jurnalis mewakili media masing-masing menjadi peserta rombongan dengan jumlah total 55 orang. Selain perwakilan dari pelaksana even – Honda IDK 1, IDK 2, Arista SM Raja – tujuh konsumen bersama keluarga masing-masing ikut dalam gathering yang seluruhnya difasilitasi Honda ini.

Sebelum bergerak ke Eden, rombongan menyempatkan diri untuk mengikuti sesi foto bersama di pelataran parkir pesanggrahan Presiden Soekarno di Parapat. Pagi itu, Parapat mulai sesak. Jalanan sempit menuju dan keluar dari pesanggrahan dijejali pedagang kaki lima dan wisatawan lokal, memaksa kami untuk bersabar dan merambat pelan.

Saya – mengemudikan Honda All New Accord – terpaksa merambat pelan. Untungnya sedan bongsor ini memiliki transmisi matic. Kaki saya tidak mesti repot-repot lagi menginjak pedal kopling, cukup stand by di pedal rem. Tangan kiri juga bebas, tak perlu memindah-mindahkan gigi persneling, tinggal stel di posisi D, semuanya akan beres. Biarkan mesin Honda ber-cc 2.400 itu yang bekerja sendiri. Cukup simpel bukan?

Iring-iringan mobil satu merk itu tentu saja menarik perhatian sekeliling kami. Kembali melintasi Hotel Inna, kami jalan terus, dan memasuki jalanan menanjak di sebelah kiri Inna. Saya sengaja tidak memindahkan persneling. Meski beranjak dari pelan (sekitar 15-20 km/jam), Accord itu menanjak, bahkan di tikungan, dengan mudah.

Keluar dari areal Parapat, kami memasuki jalan lintas Sumatra menuju Balige. Hari itu masih sekitar jam 9.00 pagi. Jalanan yang berkelok-kelok terlihat seperti bebas hambatan, hanya ada satu-dua mobil yang melintas. Pedal gas Accord itu lalu sengaja saya injak dalam dengan tiba-tiba. Akselerasi-nya ternyata sangat tidak mengecewakan. Ia meluncur cepat. Jarum speedometer sedan hitam itu secepat kilat melewati angka 100 km/ jam.

Tapi, ups… tak semua aspal jalan itu masih mulus. Pedal gas terus saja saya tekan. Aspal jalan yang keriting terlindas mobil dalam kecepatan 120 km/ jam, namun, konstruksi peredam kejut independent double wishbone-nya bekerja sangat sempurna. Lubang-lubang kecil yang menganga di pinggiran bahu jalan hampir tidak terasa. Di rute ini saya sempat mencoba sistem transmisi manualnya. Setelah memindahkan tuas persneling ke S, paddle shift di setir kemudi baru berfungsi. Dengan sistem manual ini – karena terbiasa pake mobil manual – saya merasa akselerasi Accord ini jauh lebih galak.

Perjalanan 7 kilometer itu kami jalani dalam waktu tidak lebih dari 20 menit. Di Desa Sionggang Utara, iring-iringan kendaraan berbelok ke kiri memasuki areal Taman Eden 100. Untunglah areal parkir di kawasan agrowisata ini lumayan luas, cukup menampung seluruh mobil peserta. Taman Eden 100 ini adalah salah satu upaya penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup. Taman Eden berarti Manusia, tanaman, dan makhluk hidup lainnya hidup rukun di dalamnya. Dan 100 berarti seratusan jenis tanaman pohon berbuah, demikian dijelaskan Marandus Sirait pimpinan pengelola taman ini.

Di lokasi ini, seperti dijelaskan Marandus, ada beberapa spot yang bisa dinikmati pengunjung seperti air terjun 2 tingkat, air terjun 7 tingkat, Gua Kelelawar, Bukit Manja, Gunung Pangulubao, dan Rumah Tarzan. “Di sini, selain ada berbagai jenis flora seperti Tahul-tahul (Nephenthes), Bunga Batak (Macodes Petola), Bunga Soripada (Malakis Sp), dan berbagai jenis anggrek langka, pengunjung juga bisa menanam pohon buah sebagai upaya untuk penghijauan,” kata Marandus yang pada 2005 lalu dianugerahi Penghargaan Kalpataru oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono atas upayanya menyelamatkan lingkungan dan ekosistem Danau Toba itu.

Setelah mendapat penjelasan dari Marandus, seluruh peserta menyusuri jungle track ke spot Air Terjun 2 tingkat yang memakan waktu sekitar 20 menit. Seluruh peserta yang umumnya warga Kota Medan terlihat bersemangat. “Kapan lagi bisa menghirup udara bersih seperti ini,” kata Rizanul, seorang jurnalis. Memang, udara di areal itu sangat segar. Bau tanah dan rumput yang meruap menjadi sensasi sendiri. Ditambah suara air yang mengalir di sungai kecil di sebelah kiri dan selokan di sebelah kanan kami. Airnya sangat jernih. Kumbang-kumbang bermain-main di atas air yang mengalir.

Track semakin berliku dan sempit saat masuk semakin dalam ke arah hutan. Karena jalur normal sedang dalam perbaikan karena longsor, kami terpaksa menyusuri jalur alternatif yang agak curam. Kami berjalan pelan dan hati-hati. Maklum saja, beberapa di antara rombongan adalah manula dan anak-anak kecil. Semakin mendekati air terjun, suara air semakin kencang. Tak lama, kami tiba di Air Terjun 2 tingkat. Pemandangan di depan mata sungguh memesona. Air terjun yang deras mengalir di antara pepohonan. Jatuh ke bawah melintasi pilar raksasa. Dingin dan sangat jernih. Sekitar 20 menit menikmati suasana, kami bergerak balik ke posko. Tapi, di kejauhan terdengar suara hujan deras mengguyur. “Hujan deras sudah mau datang. Sebaiknya kita kembali ke posko air terjun menunggu hujan reda,” kata Marandus.

Hampir satu jam menunggu hujan reda, kami berkumpul di posko sambil mengobrol bebas. Marandus tadinya ternyata adalah seorang seniman musik. Tapi, kondisi alam yang semakin mengkhawatirkan mengusik perhatiannya. Kebetulan, leluhurnya memiliki lahan yang cukup luas di Kecamatan Lumban Julu itu. Taman Eden 100 pun lahir. Sejak dibuka, sudah ribuan pengunjung singgah di sana, termasuk wisatawan asing.

Saat hujan sedikit reda, kami semua bergegas kembali ke posko. Tapi, di separuh perjalanan hujan deras kembali turun. Meski langkah dipercepat, tetap saja kami tidak bisa menghindar dari guyuran hujan. Kami beruntung, rimbunnya dedaunan pohon menahan guyuran air, sehingga kami tidak kuyup. Benar memang, di Taman Eden ini alam bersahabat dengan manusia.

Tiba di posko peserta yang masih memiliki pakaian kering mengganti pakaiannya yang sudah basah. Acara dilanjutkan dengan penanaman pohon secara simbolis oleh PT Prospect Motor, PT Istana Deli Kencana 1 (IDK-1), PT Istana Deli Kencana 2 (IDK-2), dan Honda Arista. Oya, di Taman Eden ini setiap pengunjung bisa menanam pohon dengan membayar bibit tanaman (buah) yang diinginkan. Tinggal “membayarkan” sejumlah uang, Marandus akan menanamkan bibit itu untuk Anda, dilengkapi dengan nama Anda yang dituliskan di plang yang akan ditempelkan di dekat tanaman milik Anda. Setelah itu, Marandus akan memeliharanya untuk Anda. Keluarga besar Honda memilih tanaman jeruk Sunkist. “Nanti kalau sudah berbuah akan saya kabarkan,” kata Marandus.

Karena hari semakin siang, kami memutuskan untuk kembali. Kali ini saya mendapat kesempatan untuk mencobai All New CRV, sampai ke Medan. Di perjalanan itu, hujan deras turun lagi. Jalanan yang tadi pagi kering kerontang, kini lumayan licin. Diam-diam, ini membuat saya senang. Artinya saya bisa merasakan bagaimana traksi SUV berbodi monokok ini di jalanan licin. Mumpung jalanan kosong, pedal gas saya injak dalam-dalam. Jarum speedometer melonjak ke angka 100 km/jam. Dari kaca tengah, saya melihat dua teman jurnalis di tempat duduk belakang mulai bermalas-malasan. Menjelang sebuah tikungan saya terus memacu kecepatan. Pedal rem diinjak sedikit, setir langsung diputar ke kiri mengikuti arah tikungan. Ternyata manuver di kecepatan lumayan tinggi itu tidak membuat bodi CRV “membuang.” SUV hitam itu tetap stabil.

Dari Taman Eden, pemberhentian berikutnya adalah makan siang di Parapat. Perut yang tadi sempat berontak saat kehujanan menjadi adem setelah diisi dengan nasi hangat plus lauk kari kambing. Segelas juice mangga yang manis cukup melegakan tenggorokan. Saya yakin vitamin C dari juice mangga itu bisa membuat fisik tetap bugar sampai ke Medan.

Sore itu, jalanan Parapat – Medan lumayan padat. Kami yang berangkat belakangan, sempat tertinggal jauh dari teman-teman rombongan lainnya. Tak masalah, saya tidak mau memaksakan diri untuk ngebut karena lepas dari Tebing Tinggi, saya sempat ngedrop dan mengantuk. Padahal jalanan sedang padat-padatnya.

***

“Terus terang, ini pengalaman pertama saya mengemudikan mobil matic,” aku saya kepada para petinggi Honda saat kami mendiskusikan keberangkatan pada Sabtu itu di hall Hotel Inna Parapat, usai makan malam bersama. Bersama kami para jurnalis ada Robert S. Gunawan, Managing Director Honda Cikarang (PT Prospect Motor), Sofian Utomo, Director IDK-1, Aswin Wiryadi, Dirut IDK-1, Soni, Branch Manager Honda Arista SM Raja, Wiwin Purnomo, Sales Manager IDK-1, dan Andy Antonius, General Manager PT Prospect Motor-Main Dealer Luar Pulau Jawa.

Kepada mereka, saya mengakui kalau sesaat setelah lepas start dari Honda IDK-1 di Jalan Adam Malik Medan itu saya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. “Malah, tadi saya sempat menelpon teman menanyakan bagaimana mengoperasikan transmisi matic itu,” kata saya lagi. Pengakuan ini keruan membuat mereka tersenyum. Tapi adaptasi itu tidak butuh waktu lama. “Memang tadi kita sempat kaget-kaget karena setiap kali mengerem, mobil pasti tersentak,” kata Pardosi, wartawan SIB. Saat keberangkatan menuju Parapat itu saya diberi kesempatan mengemudikan Honda All New Jazz bersama jurnalis Harian Andalas, Asiung, dan seorang marketing dari IDK-2.

Dalam pertemuan sekitar satu jam lebih itu masing-masing kami menceritakan perasaan masing-masing dalam perjalanan menuju ke Parapat itu. Malam itu, suara terbanyak dari para jurnalis memilih Honda All New Accord sebagai mobil ternyaman. “Pokoknya kami sempat tertidur pulas di jalan,” ujar Abraham Sitompul dari Harian Global.

Malam itu, usai diskusi kami menyempatkan diri berkeliling Kota Parapat sebelum akhirnya masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Hari itu memang benar-benar meletihkan, perjalanan sekitar 160an km, plus boat trip ke Batu Gantung dan Tomok, plus berhujan-hujanan membuat kami terlelap.

5 thoughts on “Experience With Honda, Nice!

  1. Server mbl ∂ï idk2 aman gak ya?????
    Banyak x ganti nya. Ntah ada diganti atau gak?
    Gmn kita bisa tau?

  2. WONG SUGIH JALAN-JALAN TERUSSSSSSSSSSSSS………….
    ORRA MIKIR WONG MLARAT………….
    ORA URUSAN………………………..

  3. MLAKU——————-
    ORRA MIKIR WONG MLARAT………….
    ORA URUSAN………………………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s