Bandar Narkoba Sepulang dari Karaoke…

Kota Binjai heboh. A Chiam beserta anaknya tewas dibantai. Korban, yang diduga sebagai bandar narkoba, dua hari sebelumnya berkelahi dengan seorang oknum aparat. Persaingan bisnis atau dendam pribadi?

Rabu dini hari lalu itu, A Chiam, 52 tahun, sedang santai-santai sambil karaoke di Kafe K3 di Jalan Tengku Amir Hamzah, kawasan Pasar III Tandem, Binjai Utara. Tiba-tiba, ia terlihat menerima telepon dan berbicara sengit dengan lawan bicaranya. Tak lama, dalam keadaan separuh mabuk, A Chiam meninggalkan kafe.

Itu adalah kunjungan terakhir A Chiam ke kafe itu. Tak lama setelah ia meninggalkan kafe, tepatnya pukul 03.00 WIB, polisi menemukan A Chiam tewas bersimbah darah. Tubuhnya penuh luka tusukan benda tajam, sedikitnya 17 liang. Anaknya, Halim Gunawan alias Biwi, 18 tahun, ikut menjadi korban. Di tubuhnya ditemukan sedikitnya 10 liang luka tusuk. Lehernya hampir putus karena digorok.

Dari berbagai keterangan, tabloid ini mencoba merekonstruksikan kejadian yang berlangsung hanya dalam hitungan menit itu. Malam itu, setibanya di depan rumah, A Chiam langsung memanggil Wartini alias Giok, 50 tahun, isteri pertamanya yang tidur di lantai dua untuk membukakan pintu. Setelah membuka pintu, Giok kembali ke kamarnya meninggalkan A Chiam yang sudah agak sempoyongan. Diduga, saat itulah tersangka yang belum diketahui identitasnya itu ikut masuk.

Keduanya sempat perang mulut sebelum akhirnya tersangka menghujani korban dengan tikaman senjata tajam. Mendengar kegaduhan itu, Biwi datang mencari tahu. Eh, dia juga ikut dibantai. Giok juga mendengar ribut-ribut itu dan langsung turun. Di bawah, ia melihat suami dan anaknya tergeletak bersimbah darah.

Melihat kedatangan Giok, tersangka langsung memburunya. Namun Giok berontak. Dada bagian atasnya sempat terkena sabetan senjata tersangka. Karena terdesak, Giok memilih menyelamatkan diri. Ia lari ke kamarnya dan mengunci pintu. Di dalam kamar, Giok berteriak-teriak minta tolong lewat jendela ke arah jalan. Aksi itu menyelamatkan dirinya. Si pembantai melarikan diri lewat pintu belakang rumah toko dan langsung menghilang.

Jeritan Giok memancing perhatian warga. Rumah yang terletak tak jauh dari pusat jajanan malam Pasar Kaget itu dalam sekejap dikerumuni warga. Tak lama, polisi tiba.

“Dari hasil olah TKP, diduga pelaku berjumlah dua orang, namun keterangan para saksi di sekitar kediaman korban hanya satu orang. Keterangan ini akan kita sinkronisasikan dengan keterangan saksi kunci, sang istri korban, yang hingga kini masih dalam kondisi psikis traumatik. Itu butuh waktu,” ujar Kasat Reskrim Polresta Binjai AKP HM Taufik SE di ruang kerjanya, Kamis lalu.

Di TKP, polisi menemukan 1 ons sabu-sabu siap edar beserta puluhan paket kecil sabu-sabu, 281 butir pil ekstasi, sebutir pil viagra, tiga butir peluru tajam senjata laras panjang, puluhan bungkus plastik yang diduga untuk membungkus sabu-sabu.

“Korban berdasarkan penyelidikan diduga berprofesi sebagai bandar besar sabu-sabu di Binjai. Buktinya BB yang ditemukan di bawah laci meja kerja A Chiam. Korban juga masuk dalam daftar Target Operasi Poldasu dalam pemberantasan narkoba,” kata Taufik.

Sumber kami yang tidak ingin disebutkan identitasnya di Binjai mengisahkan, dua hari sebelumnya ia menyaksikan korban berkelahi dengan seorang oknum aparat di kawasan Kampung Tanjung Binjai. Ia menduga, penyebab perkelahian itu terkait bisnis narkoba A Chiam. Kemungkinan besar, oknum itulah yang menelpon korban di malam naas itu.

Di Binjai, selama ini korban dikenal berwatak keras dan cenderung arogan. A Chiam yang hobby berjudi ini diketahui dekat dengan sejumlah wartawan. Selama ini, meski beristri dua, keluarga A Chiam dikenal akur. Pernikahannya dengan Giok tidak membuahkan anak. Mungkin karena itu pula ia lalu menyunting Soiko, adik kandung Giok. Dari isteri keduanya yang kini berusia 45 tahun itu, lahirlah Biwi yang terakhir kali tercatat sebagai siswa SMA Methodist Binjai. Menurut keterangan tetangga korban, Biwi memiliki dua adik angkat yang diadopsi ayahnya sejak bayi. Namun, keduanya kini tidak tinggal serumah dengan mereka.

Kamis siang, saat tabloid ini tiba di Rumah Duka Hisosu Binjai – tempat jasad A Chiam disemayamkan – kerabatnya sedang menutup peti jenazahnya. Rencananya, jasad A Chiam akan dikremasi Sabtu ini di Krematorium Tanjung Morawa. Rumah A Chiam sendiri terlihat tertutup. Di pintu besi ruko berlantai empat itu, garis pembatas polisi masih terikat.

Selain menyisakan ketegangan di Binjai, kematian A Chiam menyisakan pertanyaan lain: Benarkah pembunuhan ini terkait bisnis terlarangnya? Kita tunggu saja penyelidikan polisi. (Denny Sitohang dan Ganda Citra Rata – MedanWeekly)

Kasat Reskrim Polresta Binjai AKP HM Taufik SE
Enam Saksi Dimintai Keterangan

TAUFIK SE

TAUFIK SE

Hingga kemarin, Mapolresta Binjai sudah meminta keterangan enam orang saksi yang konon mengetahui bentuk fisik tubuh pelaku dari belakang dan mengetahui pasti pelaku keluar dari pintu belakang ruko sembari menenteng pisau berlumuran darah.

“Identitas dan motif pembunuhan pelaku belum dapat kita simpulkan. Harta benda korban tidak ada yang hilang. Dugaan sementara masih persaingan bisnis narkoba semata. Namun tidak menutup kemungkinan adanya motif lain. Yang pasti, pelaku berambut cepak,” ujar Taufik.

Meski ayahnya menjadi bandar narkoba, Biwi – dijelaskan Taufik – tidak terlibat bisnis gelap ayahnya. “Korban hanya melakukan perlawanan karena melihat ayahnya dibantai,” ujarnya lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s