Dari Amerika Kini Mengancam Dunia

Antre Makanan

Antre Makanan

New York, Amerika Serikat, suatu Kamis di bulan Oktober 1929. Huru-hara terjadi di bursa saham Wall Street. Hari itu, 24 Oktober, harga saham melorot sebesar 13 persen. Di tengah kepanikan, otoritas pasar modal berjuang keras, namun saham terus luruh sampai pada puncaknya Selasa 29 Oktober.

Wall Street pun panik. Saham diobral. Usah tanya harganya, semua terjun bebas. Pada Selasa sore itu, Goldman Sachs, lembaga investasi yang diidolakan warga ikut ambruk. Total kerugian pasar modal selama Oktober 1929 sedikitnya US$ 16 miliar. Orang-orang cemas. Misalnya saja Helen Haas. Ia harus kehilangan uang tabungannya. Haas bersama ibunya ketika itu ingin menarik US$ 50 di sebuah bank di Chicago, namun ia hanya bisa membawa pulang US$ 2. Di tempat lain, Emerson Colaw harus kehilangan ladang pertaniannya, ia tak punya uang untuk menanam. Bank-bank ditutup.

Hari-hari berikutnya menjadi sejarah kelam masyarakat AS. Jumlah PHK melambung. Bahkan di Chicago orang-orang kelaparan dan rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan semangkuk sup gratis.

Kamis itu lalu dikenang sebagai Black Thursday. Dari Amerika, kehancuran ekonomi meranggas ke kota-kota besar di seluruh dunia. Terutama yang menggantungkan pendapatannya pada industri berat, tapi, sektor pertambangan dan perhutanan juga amblas. Bahkan wilayah pedesaan juga terimbas karena harga produk pertanian turun 40 hingga 60 persen. Volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan.

Masa itu lalu dikenal dengan Depresi Besar (Great Depression) atau kehancuran bursa terbesar dalam sejarah AS. Tak ada yang menyangka peristiwa ini bisa terjadi, karena saat itu perekonomian AS sebenarnya sedang berpacu. Kota-kota besar dibangun, perumahan didirikan, juga industri. Lapangan kerja terbuka. Tingkat pengangguran cuma 3 persen, sementara upah riil meningkat sampai 20 persen. Pemerintah AS (saat itu dipimpin Presiden Calvin Coolidge) meyakini sistem pasar bebas. Aturan dibuat seminim-minimnya. Bursa saham AS pesta-pora… sampai Kamis Kelabu itu datang.

Greet the Press

Greet the Press

Kini, Kamis Kelabu kembali menghantui AS. Hampir sebulan terakhir Wall Street kembali dihajar ombak dahsyat. Berawal dari tumbangnya Lehman Brothers, bank investasi terbesar ke-4 di AS. Kemudian Merrill Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UFJ dan American International Group (AIG). Perusahaan asuransi global ini nyaris kolaps dan terpaksa menerima “infus” dari Federal Reserve (Bank Sentral AS). Belakangan, Washington Mutual menjadi bank terbesar yang bankrut sepanjang sejarah Amerika.

Kenapa ini bisa terjadi? Mungkin ada banyak faktor. Tapi, satu yang dituding menjadi penyebabnya adalah masalah kredit (macet) perumahan atau dikenal dengan suprime mortgage. Awalnya, kredit kepemilikan rumah (KPR) di AS selektif, hanya kepada nasabah-nasabah terpercaya. Namun belakangan nasabah-nasabah tak layak juga mendapat kucuran kredit. Malah, nasabah yang pernah bermasalah juga mendapat. Lain lagi persyaratan uang muka KPR yang sangat rendah: 5 persen, dan bahkan ada yang tanpa uang muka. Hebatnya lagi, tak sedikit KPR hanya mensyaratkan pembayaran bunga, tak wajib membayar cicilan pokoknya.

Para pengamat ekonomi mengatakan, dalam keadaan normal saat harga properti terus naik, ini tidak menjadi masalah. Namun, saat pasar stagnan, atau harga melemah, masalah dipastikan akan muncul. Bagaimana kredit macet mengimbas bank-bank investasi?

Seorang pengamat dalam sebuah artikelnya memaparkan, di AS, industri keuangan sudah sedemikian maju. Kredit-kredit KPR yang diberikan oleh perbankan, oleh bank bersangkutan dikumpulkan kemudian dalam jumlah yang cukup banyak disekuritisasi. Ini merupakan proses mentransformasi KPR menjadi surat berharga (sekuritas). Istilah yang sering dipergunakan untuk surat berharga yang dijamin oleh KPR tersebut adalah mortgage back securities (MBS) dengan varian yang bernama collateralized debt obligation (CDO).

Proses sekuritisasi ini dibantu oleh perusahaan pembiayaan perumahan AS, yaitu Fannie Mae dan Freddie Mac, yang kemudian menjual MBS dan CDO tersebut ke bank-bank investasi maupun bank-bank besar lain seperti Citigroup dan UNS. Dalam perjalanan waktu, kualitas surat berharga tersebut sangat dipengaruhi perkembangan harga rumah. Jika harga rumah terus meningkat, pembayaran cicilan umumnya lancar.

Kalaupun terjadi masalah, bank dengan mudah akan menjual kembali rumah yang dibiayai KPR tersebut. Jika pembayaran nasabah lancar, pembayaran dari bank kepada pemegang MBS atau CDO tersebut juga lancar. Masalah lalu muncul. Sejak pertengahan 2007, pembayaran dari sebagian nasabah KPR mulai seret. Pemerintah AS dan The Fed harus turun tangan. Tapi karena pertolongan hanya dilakukan kasus per kasus, hasilnya tidak terlalu konsisten. Akhirnya pemerintah dan The Fed mengusulkan program bailout senilai US$ 700 miliar.

Upaya penyelamatan yang harusnya menenangkan pasar ini melahirkan ketakutan lain: sisi kesehatan keuangan Pemerintah AS. Saat ini, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) mereka yang mencapai US$ 14 triliun adalah di atas 70 persen. Jika bablas, rasio utang itu bisa melampaui 100 persen dalam lima tahun mendatang dan bukan tak mungkin The Black Thursday datang lagi. Nah, seperti tumor ganas, krisis ini bisa menjalar kemana-mana, bahkan mungkin mampir kemari. (dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s