Lagi, Wartawan Ditodong Senjata di Aceh

Kekerasan ternyata belum usai di Tanah Rencong, Nanggroe Aceh Darussalam. Belum lama ini, empat orang wartawan lokal di Aceh kembali ditodong dengan senjata laras panjang oleh oknum tentara. Mereka selamat karena si oknum tak sengaja melihat kartu pers yang tergantung di leher salah seorang korban. Mereka akhirnya dilepaskan, meski sempat terintimidasi.

Hotli Simanjuntak, kontributor Trans7 wilayah Aceh mengisahkan penodongan pada pagi buta itu. Begini ceritanya:

KRONOLOGIS KASUS PENODONGAN WARTAWAN OLEH TENTARA

Pada Selasa 22 Juli 2008, sekitar pukul 4:30 subuh, terjadi insiden penodongan senjata laras panjang terhadap 4 orang jurnalis Aceh dan 1 orang supir di jalan provinsi yang menghubungkan Aceh dan Sumatera Utara, tepatnya di Desa Indrapuri, Aceh Besar, NAD.

Penodongan itu menimpa 4 wartawan Aceh dan 1 orang supir yang baru tiba dari Meulaboh, Aceh Barat untuk melakukan peliputan proses rekonstruksi pasca Tsunami. Mereka ditodong oleh seorang tentara berseragam lengkap dan menggunakan senjata laras panjang jenis M-16. Dan setelah dilakukan penelusuran, kedua tentara tersebut merupakan anggota TNI dari kesatuan Yonif Zipur 16 Dhika Anoraga Aceh.

Nama-nama wartawan dan supir yang menjadi korban penodongan adalah sebagai berikut;

1. Ampelsa, Fotografer Kantor Berita Antara
2. Jaka Rasyid, Wartawan Harian Waspada terbitan Medan
3. Bayhaqi, Wartawan Harian Aceh
4. Hotli Simanjuntak, Kontributor Trans7 wilayah Aceh
5. Amran. (Supir)

Berikut kronologis kejadian penodongan senjata terhadap 4 jurnalis Aceh dan supir.

Sekitar pukul 21:00 WIB, ke-4 wartawan dan 1 orang supir yang baru selesai melakukan peliputan serah terima bantuan di Desa Tungkop, Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat pulang ke Banda Aceh melalui lintas Meulaboh-Geumpang dengan menggunakan mobil Innova berwarna hitam, BK 1648 TV. Selama dalam perjalanan, tidak ada gangguan dan sempat singgah di beberapa daerah untuk istirahat dan minum kopi.

Sekitar pukul 4:30, rombongan tiba di Desa Indrapuri, Aceh Besar. Saat sedang melaju dengan kecepatan sedang, tiba-tiba 2 oknum TNI berseragam lengkap dan bersenjata laras panjang menghentikan kendaraan. Bahkan salah seorang tentara yang bersenjata sempat mengetuk mobil dengan menggunakan senjata. Sesaat kemudian supir segera menghentikan kendaraan di tepi jalan.

Dengan senjata teracung, oknum TNI yang teridentifikasi dengan nama Ermanto menyuruh penumpang yang duduk di bangku depan, yaitu Baihaqi untuk membuka jendela. Saat jendela dibuka, oknum TNI tersebut langsung mengarahkan moncong senjata ke leher supir sambil memerintahkan untuk mematikan mesin mobil. Sementara, teman Ermanto tetap duduk di atas sepeda motor RX King yang mereka kendarai.

Kemudian dengan nada membentak, Oknum TNI bernama Ermanto membentak dengan kata “Kalian KPA ya” sambil kembali mengacungkan senjata ke arah Baihaqi dan menyuruh penumpang turun dari kendaraan. Namun karena pintu tertahan, para penumpang tidak bisa turun dari pintu sebelah kiri mobil.

Untuk mengetahui maksud dan tujuan kedua oknum TNI tersebut, Hotli Simanjuntak turun dari mobil melalui pintu kanan dan menjumpai kedua oknum tersebut. Tapi secara mendadak, Ermanto langsung mengarahkan senjata ke arah kening sambil berteriak: “Saya benci orang Aceh. Dua teman saya mati di tembak GAM, saya benci Orang Aceh”

Melihat senjata diarahkan ke kening, serta merta Hotli Simanjuntak mengangkat tangan dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa saat kemudian, Ampelsa juga turun untuk menemui kedua tentara tersebut. Namun secara tiba-tiba Ermanto langsung mengarahkan moncong senjatanya ke arah Ampelsa sambil berteriak, “Ini ada pelurunya, saya tembak kamu nanti”

Saat sedang marah-marah, Ermanto melihat kartu pers yang tergantung di leher Hotli Simanjuntak. Saat melihat kartu pers tersebut, Ermanto berkata, “Kalian wartawan yah? Dari mana kalian?

Hotli menjawab bahwa mereka baru pulang dari Meulaboh untuk meliput proses serah terima bantuan di Meulaboh.

Setelah mengetahui bahwa rombongan adalah wartawan, teman Ermanto meminta Hotli dan Ampelsa untuk segera masuk mobil dan segera pergi.

Sesaat sebelum meninggalkan lokasi, Oknum TNI bernama Ermanto kembali mengarahkan senjatanya ke Baihaqi yang duduk di bangku depan, hingga mengenai telinga Baihaqi sambil berteriak. “Silahkan laporkan kepada POM atau siapa saja”

Untuk menghindari aksi yang lebih serius, akhirnya rombongan wartawan segera meninggalkan lokasi kejadian dan langsung pulang menuju Banda Aceh.

Demikianlah kronologis ini diperbuat dengan sebenar-benarnya, dengan harapan kejadian serupa tidak menimpa orang lain, khususnya masyarakat yang saat ini sudah merasa nyaman dengan kondisi perdamaian yang sudah dicapai melalui MoU Helsinki.

Atas perhatiannya, kami ucapkan terimakasih

Baihaqi, wartawan Harian Aceh
Ampelsa, Fotografer Kantor Berita Antara
Jaka Rasyid, wartawan Harian Waspada
Hotli Simanjuntak, Kontributor Trans7 untuk wilayah Aceh

Banda Aceh 23 Juli 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s