Menjadi Pengangguran (Sementara)

Pak Denny, apa yang terjadi? Kenapa bisa salah seperti itu? Apa tidak diperiksa sebelumnya?
Benar Ibu. Desainer salah tarik folder file. Halaman itu tadi sudah aku periksa karena penanggungjawabnya sedang sakit dan memutuskan untuk pulang setelah halamannya selesai. Aku juga tidak sempat memeriksanya secara detail. Sebatas tidak ada kesalahan pada judul dan pengetikan pada isi berita, halaman itu aku loloskan.

Maksud bapak nasi sudah menjadi bubur dan dibiarkan begitu saja?
Sorry bu, yang salah tetap diberikan sanksi. Mungkin besok bisa kita bahas. Sekarang sudah hampir jam 04.00 pagi, ibu sudah dibangunkan dari tidur dan aku juga sudah capek, lebih baik kita bicarakan besok. Ini bukan waktu yang tepat.

Lho? (Si ibu kembali mengulang pertanyaannya, tapi aku sudah tidak berselera untuk menjawab. Kesalahan sudah terjadi dan kami memutuskan untuk menggantinya)
Iya bu, nanti aja kita bahas lagi.

Si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – terdiam beberapa jenak. Tiba-tiba dia kembali bicara.

Kenapa kemarin saya minta Anda menelpon saya tapi tidak Anda telepon?
Wah, kemarin itu saya telepon ibu kok. Silahkan dicek call list ibu. Ada sampai tujuh kali nada panggil. Tapi ibu tak angkat. Mungkin lagi sibuk.

Pak Denny, saya tidak suka dengan orang yang mengancam saya.
Lho, siapa yang mengancam ibu?

Kenapa kemaren Anda mengsms saya dan mengatakan kalau tidak terima saya siap diberhentikan? Aku hampir tertawa mendengar pertanyaan itu. Lho, aku rasa itu bukan ancaman.

Siapa yang mengancam ibu? Si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – tiba-tiba memotong penjelasanku.

Pak Denny, selama dua minggu ini saya berharap banyak pada Anda, tapi kejadian kemarin benar-benar membuat saya kecewa. Besok pagi datang jumpai saya. Klik, sambungan telepon diputuskan si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya.

* * *

Hampir sebulan sudah aku menghabiskan waktu dengan status sebagai pengangguran tak kentara. Yah, hampir sebulan lalu aku memutuskan untuk “hengkang” dari “sarangku” terakhir, sebuah surat kabar harian yang terbit di Medan.

Biar tidak membingungkan, aku keluar hanya karena alasan sepele. Sekadar miskomunikasi, tapi dengan putri bos besar – yang tak perlu kusebutkan namanya – yang memutuskan untuk mengambil alih kepemimpinan surat kabar itu. Menurutku, dia mempertahankan sikapnya (yang rada sok tegas itu) dengan alasan ingin menunjukkan kalau dia memiliki kuasa. Aku cuma orang yang digaji orangtuanya dan berarti mesti manut dengan segala aturan main yang dibuatnya.

Tapi, mungkin dia salah orang. Sikap seperti itu boleh ampuh untuk orang lain. Tapi, tidak untukku. Aku masih waras dan bisa membedakan tindakan dan sikap yang profesional dan tidak profesional. Dan aku memutuskan untuk loyal pada pekerjaan, bukan kepada perusahaan. Apalagi hanya pada seorang anak bos yang baru kemaren diserahin tugas untuk memimpin sebuah perusahaan media. Jadi kalau anak bos kenapa rupanya? Sorry mom, I’m not your kid!

Biar agak jelas, kuceritakanlah sedikit (meski dia pasti punya versi lain seperti yang diyakininya). Sepekan terakhir bekerja di suratkabar itu aku memang sudah rada tidak cocok bekerjasama dengannya. Benar dia memang menugasi aku untuk mengerjakan sesuatu hal. Tapi, aku sebelumnya sudah menyampaikan kalau permintaannya itu belum bisa kupenuhi mengingat beban kerja lain di kantor itu. Bayangin saja, lima orang redaktur sudah keluar (resign ataupun di-PHK), tanpa seorang pun penggantinya. Lantas, tanggungjawab mereka itu didistribusikan kepada redaktur yang tersisa tanpa ada kompensasi sama sekali. Awalnya aku tidak peduli, begitu juga dengan kawan-kawan redaktur lain. Tapi, semakin hari tekanan itu semakin berat. Sebagai redaktur pelaksana situasi ini sudah berulangkali aku jelaskan kepada si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan namanya. Tapi ia tetap meminta, coba bertahan dulu dengan kondisi apa adanya. Sebulan, dua bulan, empat bulan mungkin aku dan kawan-kawan masih bertahan. Tapi, lewat dari itu kami semakin merasa “keberatan” apalagi saat seseorang di antara kami tidak masuk. Tepatkah seorang redaktur menggawangi 3-5 halaman dalam satu malam? Kami bukan superman!

Beban kerjaku semakin bertambah saat pemimpin redaksi juga memutuskan untuk tidak aktif dan belakangan juga memilih keluar. Otomatis, koordinasi kerja news room kami aku menjadi tanggungjawabku. Untunglah, teman redaktur lain cukup membantu dan memberikan dukungan. Kami terus melangkah, meski tertatih.

Sampailah akhirnya pada waktu naas itu. Sebenarnya saat itu kami sudah berkomitmen untuk memperbaiki semua lini, di bawah pimpinan si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya. Masing-masing kami diberikan tugas untuk memoles kembali tampilan dan kualitas isi surat kabar itu. Tapi, energi kami sudah hampir habis. “Kita ini seperti prajurit yang hampir kalah di garis depan. Moral sudah runtuh, amunisi hampir habis, begitupula logistik,” kata seorang teman redaktur.

Karena juga mesti melakukan tugas rutin yang juga sudah bertambah banyak (hampir 2,5 tahun aku mesti pulang rumah pada pukul 03.00, bahkan lebih, karena harus memeriksa halaman demi halaman), tugas ekstra yang diberikan si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – hampir terbengkalai.

Sampai suatu kali ia memintaku untuk ketemu untuk memberikan report yang memang belum selesai itu. Sialnya, pada hari ia memintaku untuk menemui dia itu aku memang sedang tidak bisa (jip ku sedang “terduduk” di sebuah ruas jalan tak jauh dari bandara Polonia karena as nya patah. Sudah dua malam jip itu di situ, dan pada hari itu baru ada mekanik yang membetulkannya. Jadi, aku mesti menungguinya bekerja). Aku sudah melapor kalau aku memang berhalangan. Tapi dia tetap memaksa, tanpa mau tahu penjelasan yang aku berikan. Akibatnya, aku juga menjadi emosi, aku tetap bilang kalau aku tak bisa datang. Tapi dia sepertinya tidak terima. Aku tetap tak datang.

Dalam hitungan hari, “miskomunikasi” itu semakin memburuk. Apalagi dua hari kemudian terjadi kesalahan fatal, seorang tim artistik salah ambil file. Koran untuk besok diisi dengan file sehari sebelumnya. Malam itu, kami (redaktur yang tersisa di kantor) memutuskan untuk menggantinya, bila perlu urunan untuk mengganti biaya cetaknya. Dalam pikiran kami, dari pada besok beredar koran dengan satu halaman yang isinya sama persis dengan hari sebelumnya. Pagi itu juga, mungkin karena laporan orang bagian percetakan, si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – menelpon ke kantor dan berbicara denganku. Bla… bla… bla… Mau tahu pembicaraanku dengannya? Scroll lagi halaman ini ke atas. Begitulah kira-kira pembicaraanku dengan si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – pada pagi yang naas itu.

Pagi itu, seluruh proses perbaikan selesai pada jam 04.00 lewat. Kami semua keletihan. Sialnya lagi, saat ingin pulang, jip ku tidak mau hidup. Mungkin empat hari di bengkel membuat listrik aki nya menjadi lemah. Pagi itu, kami masih berusaha untuk mendorongnya. Tapi jip itu tetap tidak hidup. Kami terus berusaha. Akhirnya, karena sudah hampir jam 04.30 tak juga hidup, mobil itu aku tinggal di kantor. Aki nya kucabut dan aku pulang diantarkan temanku.

Karena memang betul-betul kecapekan, aku tertidur pulas. Sekitar jam sepuluh aku terbangun. Tapi pagi itu aku memang sudah tidak perduli lagi dengan janji untuk menemui si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya. Sekitar jam sepuluh, aku sms sekretaris redaksi dan menjelaskan aku belum bisa datang karena tertidur. Niatnya, begitu bangun aku langsung mandi. Tapi, ternyata mataku belum bisa diajak kompromi. Aku tertidur lagi, dan tanpa sadar handphone aku matikan.

Aku pulas sampai sekitar jam 12.30.

Begitu terbangun, hp langsung kuhidupkan. Sms lalu masuk berbondong-bondong. Satu dari si sekred yang isinya meminta aku datang ke kantor tepat jam 13.00 karena si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – mau datang ke kantor dan minta bertemu. Aku melompat dan langsung mandi. Selesai mandi, tanpa makan sama sekali aku ke kantor. Jam satu lewat sedikit, aku tiba di kantor.

Aku lalu berbincang dengan dua teman lain yang rupanya juga sudah bikin janji bertemu si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – pada jam 14.00. Singkat cerita, kedua teman itu dipanggil bertemu. Kata si teman, mereka membahas perkembangan dan arah perbaikan koran kami itu. Masing-masing dari mereka berbicara sekitar satu jam lebih. Selesai keduanya aku pikir aku giliran berikutnya. Karena belum dipanggil juga, aku memutuskan untuk browsing internet. Si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya –sempat melintas di belakangku menuju ruangan pimpinan perusahaan. Aku cuek, dia juga. Sekitar 10 menit kemudian dia kembali melintas. Menuruni tangga. Aku masih sempat berpikiran kalau dia mungkin akan menelponku untuk turun ke bawah. Tapi, lima belas menit berlalu, panggilan telepon tetap tak ada.

Karena curiga, aku menghubungi satpam di bawah dan menanyakan si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – di mana. “Sudah pulang sejak tadi bang!” kata si satpam. Aku tersentak. Karena penasaran, aku kembali menghubungi sekred. Ternyata, pada pukul setengah satu tadi – karena aku tak bisa dihubungi – si sekred melaporkan pada si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – kalau aku belum bisa dihubunginya. Kayaknya, si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – menghapuskan aku dari jadwal bertemunya siang itu. Yang membuat aku kesal, kenapa dia tidak mengatakan sepotong katapun. Bahkan, bila perlu sekalian makian karena aku sudah “membandel.”

Besoknya, kami gajian. Paginya, dengan semangat aku ke kantor untuk mengambil gajiku. Hari itu, sepanjang aku bekerja di koran itu, menjadi kali pertama aku mengambil gaji di hari pertama. Biasanya, aku selalu telat mengambil gaji. Bisa tiga – empat hari. Malah kayaknya pernah lewat dari satu pekan. Sampai giliranku, staff bagian keuangan bilang gajiku belum bisa diambil. Katanya, si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – menahannya tanpa alasan dan penjelasan. “Maaf Pak, saya tidak tahu kenapa. Coba aja hubungi si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya – itu. Mungkin gaji bapak mau dinaikkan,” kata si bagian keuangan mencoba mencairkan suasana. Aku sempat kebingungan sebentar. “Benar tanpa ada penjelasan? Atau ada pesan dari dia” tanyaku lagi. Si bagian keuangan menggeleng. Memang, tak ada penjelasan.

Aku langsung kesal. Marah karena merasa hak ku dirampas. Terlebih, aku merasa disepelekan. Dan kali ini dia melakukan kesalahan terbesar. Siang itu, aku bersama beberapa kawan redaktur lain makan siang bareng sembari mengobrol soal kondisi kantor yang semakin aneh. Teman-temanku juga heran kenapa gajiku sampai ditahan tanpa penjelasan.

Puas mengobrol, kami lalu bubar. Menjelang sore, karena gak tahan lagi, akhirnya aku mengirimkan pesan teks kepada si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya. Intinya, aku protes kenapa ia sampai melakukan hal bodoh dengan menahan gajiku. Aku bilang perbuatannya itu sangat tidak fair. Kalau aku salah, silahkan diberikan sanksi. Hukuman juga boleh. Jangan gajiku ditahan. Kali ini aku betul-betul marah karena merasa teraniaya. Eh, masih sempat-sempatnya dia membalas pesanku dengan mengatakan kalau gajiku bukan ditahan, tapi memang disengaja tidak diberikan biar aku datang menemui dia untuk membicarakan persoalan sebelumnya yang dianggapnya belum selesai itu. Aku semakin marah. Tapi dia tetap ngotot memintaku untuk datang menemuinya pada hari Senin, sekaligus ambil gajiku. Aku langsung berpikir, kayaknya tak ada guna untuk berargumentasi dengan manusia psycho dan tak berperasaan seperti itu. Sekolah tinggi-tinggi dan jauh-jauh ternyata tidak selalu bisa membentuk pribadi profesional yang paripurna.

Di puncak kekecewaanku aku kirimkan pesan lain. “Kayaknya tidak ada lagi yang perlu aku jelaskan. Semuanya sudah jelas. Sudah, tolong berikan saja gajiku,” begitu pesanku. Yang jelas, aku sudah tidak perduli lagi. Buat apa berlama-lama bekerjasama dengan orang seperti dia. Terakhir kali, aku kirimkan satu pesan lagi. “Terima kasih atas kerjasama kita selama ini. Secara pribadi aku tidak pernah marah pada ibu. Urusan kita hanya terbatas dalam lingkup perusahaan, dan barusan sudah aku anggap selesai. Sekali lagi terima kasih.”

“Terimakasih juga. Goodluck where ever you go.” Eh, dia masih membalas.

Kedua pesan terakhir tadi kayaknya sudah cukup untuk menjadi penyelesaian hubungan pekerjaan antara aku dengan si ibu – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya (dia mewakili perusahaan tempat aku bekerja itu). Setelahnya aku gak perduli, mau dipaksa mengundurkan diri kek, atau di-PHK kek, aku cuek ajalah… Yang penting, aku tidak lagi di dalam perusahaan itu. Mudah-mudahan mereka akan menjadi lebih baik tanpa keberadaanku di dalamnya. Menjadi pengangguran bukan berarti (harus) mati. Masih banyak tempat lain yang lebih baik yang siap untuk menampung. Yakin, itu pasti!

* * *

Benar saja, hampir dua pekan belakangan aku mulai sibuk-sibuk menyusun perencanaan untuk sebuah media baru yang akan terbit. Kalau tidak ada halangan – seizin yang di atas – media itu akan terbit pada Agustus mendatang. Mengenai bentuk dan apa isinya, ya tunggu ajalah ya. Bersabar atuh. Kalau diceritakan sekarang nanti malah gak surprise.

Well, hidup memang pilihan. Kita mau jadi seperti apa, semuanya terserah kita sendiri. Yang penting ingat, kalau keputusan sudah diambil melangkahlah dengan tegak dan bertanggungjawablah!

9 thoughts on “Menjadi Pengangguran (Sementara)

  1. Salam kenal !

    Pepatah banua holing berkata : ” Di a litle more and dig a litle more ! ”

    Bila perlu sumber berita gratis , silahkan install RI Tool, keterangannya ada pada weblog kami di atas .

    Selamat berkarya . Semoga sukses !

    Horas !

    Dari teman – yang – tak – perlu – kusebutkan – namanya .

  2. Bah, boasa boi songoni di perusahaan na balga nasa i, molo bosna pe hera si ibu yang tak perlu kusebutkan namanya itu, dang pola marsak ho lae… nga toho be aha na dibahenko… sai hipas ma sude lae, jala diramoti ma langkahmuna to kesuksesan yang lebih baik… imma tu tu bah… songon na di dok umpasa:
    Mardalan to toruan, manjangkit to dolok-dolok
    Marsaburan di pekerjaan, marhepeng kemudian!

    Horas jala gabe!

    Lae mu seperjuangan do lae!

  3. ehmm…
    horas!
    ngatoho nadidokni lae na ginjang i… molo songoni do pangalaho ni ibu yang tak perlu kusebutkan namanya itu, denggan ma i tinggalhoni. mardalanma tu ginjang muse, buka lembaran baru… songon na di dok umpasa:

    manetek ma ilu, ala ni ibu yang tak perlu kusebutkan namanya…
    alai ngolu-ngolu ikkon mardalan…
    show must go on…

    horas jala gabe…

  4. Ya akupun setuju, begitu keputusan sdh diambil ya sdh dijalani aja,
    jgn pernah ragu lagi, dievaluasi boleh jgn disesali.

    Tapi ada satu pesanku den, seharusnya denny bisa mengalahkan si ibu tadi, goalnya adalah bagaimana agar dia bisa setuju dan ikut dg jalan kita…kalah di awal tapi menang di akhir,
    tapi itu hanya advice dari org yg sebenarnya jg berharap banyak dg denny…

  5. Seringkali “bencana” kecil seperti ini merupakan pijakan yang paling pas buat lompatan (baca kemajuan) besar ke depan…

    Don’t warry bro. The show must go on…

    God be with you…

  6. Membaca kisahmu ini, aku seperti membaca diaryku sendiri. Persis sama semuanya. Kebanggaan pada profesionalitas, integritas, dan sikap independen, dicoba ditindas oleh orang yang tidak kompeten, berjiwa kerdil dan menyombongkan kekuasaan modal.

    Itu perseteruan abadi. Kompromi adalah bunuh diri secara perlahan-lahan.

    karena itu aku merasa bahagia membaca sikap dan keputusanmu. Aku merasa terwakili di situ. So, selamatlah kawan, engkau telah menyelamatkan diri dari tempat kematian itu.

    Ayo bangkit lagi kawan. Semoga apa yang sedang engkau rintis tercapai seperti yang engkau inginkan.

    Ayomerdeka!

  7. Hidup memang pilihan pak Denny, kalo sudah begini anda musti maju terus. Istilah “bakar jembatan” mungkin inilah yang paling cocok. Saya tetap dukung anda! Dengan skil dan personal seperti anda, saya yakin anda pasti bisa survive di medan apapun. Offroader gitu loh!

    Sudahlah, apapun itu, jalan di depan masih terbentang padang rumput yang luas. Uang bisa membuat hidup lebih nyaman tapi kalo kerja aja udah ndak bahagia, apalagi yang mau dicari.

    Tapi saya salut sama anda pak Denny, anda masih bisa maintain sanity anda dibawah tekanan sebegitu berat. Saya sih maklum aja karena pernah mengalami. Mudah-mudahan masih ingat perkataan saya waktu itu…. “Jadi pak Denny gak boleh sakit dong….” Sama kaya saya….🙂

    Buat kawan-kawan lain yang masih di tempat lama yah good luck, bertahanlah semampu anda. Setialah hanya pada profesi professional anda!

    * Memang sudah saatnya dunia ini dipimpin anak muda. *

    Hehehehe… Pak Alim akhirnya muncul juga… Sering-sering kemari ya!

  8. penasaranku cuma satu…gaji terakhirnya dikasih ato gak?

    kl gak (ataupun iya), perkosa aja, Den…!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s