Terima Kasih Hujan…

WAKTU aku memulai tulisan ini, jam sudah menunjukkan pukul 3.52 pagi. Gila, tak terasa waktu berputar cepat. Rasanya baru tadi aku nyampe di kantor ini, dan sekarang tiba-tiba sudah mau pagi lagi.

Bukannya aku workaholic hingga sampai menjelang subuh gini belum pulang. Tapi aku emang rada malas pulang. Soalnya di luar hujan masih deras, dan aku tadi ngantor bawa sepeda motor. Gak nyangka sih sejak 2 jam lalu hujan mengguyur Medan. Lumayan deras lagi. Apalagi siang tadi matahari bersinar galak, dan hujan memang sudah hampir dua minggu tidak turun. Jalanan di mana-mana sudah kering. Debu gak karuan…

Akibatnya ya begini. … mesti nunggu hujan reda dikit. Ada sih mantel hujan di motor itu. Tapi males aja. Ribet soalnya. Belum lagi soal keamanan. Siapa yang bisa menjamin jalanan pulang itu akan aman di tengah suasana seperti ini? Males ah, ambil risiko. Mending pagi dikit sekalian ntar pulangnya. Cari sarapan, terus tidur. Lumayan kalau dapat sampai jam sepuluh. Jam 12.00 aku sudah mesti ada di Lapangan Benteng, jadi juri salah satu lomba model yang diadakan Honda.

Hujan. Sebenarnya aku rada senang juga hujan turun malam ini. Paling ngga, besok aku gak terlalu repot lagi mesti menyirami tanaman si mama. Beberapa hari lalu semua tanaman itu aku siram secara menyeluruh. Tapi, karena tak menggunakan selang – terpaksa mengangkat air di ember – lumayan pegal juga pinggang ini. Tanaman si mama memang lumayan banyak. Kalau kuhitung jumlah potnya, kayaknya lebih dari 30 buah. Belum lagi bayi anthurium yang manjanya setengah mampus itu. Namanya masih bayi, mesti diurusin lebih telaten. Siramnya mesti tiap hari. Sehari aja alpa, besoknya dia pasti udah menguning. Kalau cuma yang ini sih gak capek. Dua gayung air aja cukup sih. Kan, cuma untuk dipercik-percikkan doang. Masih imut kali soalnya si anthurium-anthurium itu. Paling tingginya masih sekitar 5 cm.

Belum lagi aku mesti menyapu rumah, dan mengepelnya. Bayangkan! Huh. Itu semua memang pekerjaan perempuan. Tapi, mau tak mau mesti aku kerjakan. Soalnya di rumah sedang tak ada orang. Mamaku lagi di Jakarta, melihat dan merawat si Kyra, adeknya si Nio, ponakanku dari adek cewek nomor dua. Nah, kalau gak disapu dan dipel, aku ngeri membayangkan debu yang akan menempel di lantai rumah itu. Yah, mending mengalah. Ambil sapu, kain pel, dan air di ember… Meski kerjanya gak niat-niat banget, at least debunya tidak terlalu banyak lah!

Ya begitulah… setidaknya aku jadi tau, ternyata sekedar menyiram tanaman itu bikin capek juga. Cepat besar ya bayi-bayi anthurium… siapa tau masih laku dijual mahal! Terima kasih hujan… Sabtu 4.27 Wib (lama ya? Nyambi browsing soalnya!)

8 thoughts on “Terima Kasih Hujan…

  1. numpang berita pembalakan hutan

    Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon menyatakan keprihatinan yang mendalam, karena ratusan meter hutan perawan di Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, telah ditebas habis baru-baru ini. Selain mencemaskan resiko bencana longsor, apabila areal hutan seluas 2.250 hektar di daerah itu habis dibabat, Cornel juga mensinyalir bahwa investor cuma ingin menyikat kayu disana.

    Hal itu dikemukakan jenderal kelahiran Pangururan, Samosir ini dalam acara diskusi TobaDream Dialogue, Sabtu sore 91/3) di TobaDream Cafe, Jakarta. Cornel hadir di sana sebagai peserta, sedangkangkan pembicara diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible“‘ itu adalah Cosmas Batubara dan Bungaran Saragih. Keduanya bekas menteri.

    Pernyataan keprihatinan itu dilontarkan Cornel Simbolon pada sesi tanya-jawab. Sebenarnya yang jadi sorotan saat itu adalah upaya penyelamatan Danau Toba, terutama dari aspek pariwisata dan lingkungan. Tapi Cornel tidak mengajukan pertanyaan, malah langsung meminta perhatian dan kepedulian hadirin terhadap pembabatan hutan ynag sedang berlangsung di Tele.

    “Memang benar seperti dikatakan Lae (Suhunan) Situmorang tadi, hutan di Tele sedang terancam sekarang ini.Tidak tanggung-tanggung, hutan yang akan ditebang di kawasan tangkapan air itu mencapai 2.260 hektar. Katanya mau dibuat kebun bunga. Katanya bunganya untuk diskspor,”papar jenderal yang cinta lingkungan itu.

    “Kita sangat prihatin karena ratusan meter hutan perawan di sana sudah dibabat habis, katanya buat jalan ke areal yang akan diubah jadi kebun bunga,’tambahnya.

    “Tele itu adalah daerah tangkapan air, dan seperti tadi dijelaskan Pak Bungaran, daerah itu sangat ringkih dan rawan longsor,”tutur Cornel sambil menegaskan,”Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lae Situmorang, saya mengerti apa yang dikuatirkannya, bahwa besar kemungkinan rencana membuat kebun bunga di bekas areal hutan seluas 2.250 hektar itu hanya kedok. “

    Yang disitir Cornel adalah ucapan Suhunan Situmorang di awal acara, saat menyampaikan kata sambutan selaku Ketua Steering Commitee TobaDream Dialogue. Suhunan membeberkan kepada hadirin mengenai pembabatan hutan di Tele, termasuk sinyalemennya bahwa target utama investor PT EJS dari Korse adalah menyikat kayu di hutan alam itu.

    “Memang sudah banyak kejadian seperti itu, “ujar Wakasad Cornel Simbolon. “Hutan dibabat, katanya mau buat kebun kelapa sawit atau kebun bunga. Tapi, setelah hutan dibabat dan kayunya dijual, investornya kabur. Makanya kita harus cermati terus perkembangan di Tele ini. Itu adalah daerah tangkapan air, sebagian masih hutan perawan. Kenapa itu harus dibabat ?”

    “Makanya kita harus selamatkan hutan Tele. Kalau perlu kita panggil Bupati Samosir Mangindar Simbolon ke Jakarta, untuk menjelaskan kebijakannya membabat hutan perawan di sana, “tegas putra Samosir yang kenal liku-liku kawasan Tele itu.

    Hutan lindung

    Letjen Cornel Simbolon, yang bicara berdasarkan hasil pengecekan terbaru di lapangan, dengan blak-blakan menyatakan kurang yakin mengenai kelayakan investasi kebun bunga di Tele. “Mau diangkut pakai apa bunga-bunga itu ke Medan ? Dan kalaupun bisa, biaya transportasinya pasti sangat mahal. Pokoknya sangat meragukan, sehingga lebih masuk akal kalau investor hanya mengincar kayunya,”ujarnya.

    Menurut Cornel, selain penyelamatan hutan Tele, agenda sangat penting yang harus segera dilakukan adalah menentukan peta hutan di Samosir. “Perlu segera dilakukan maping untuk menetapkan yang mana hutan lindung, yang mana hutan ulayat. Di Samosir belum jelas maping seperti itu.”tandasnya.

    Dalam kesempatan itu Cornel Simbolon menyatakan sangat menghargai dan mendukung program konservasi yang akan dikerjakan Komunitas TobaDream. Besok pagi (9/2) rombongan Komunitas TobaDream akan terbang ke Medan, untuk selanjutnya pada Senin 3 Maret 2008, tepat pukul 3, akan menanam pohon pada areal seluas 2 hektar di desa Martoba , Kecamatan Sidihoni, Kabupaten Samosir.

    “Sangat saya hargai dan dukung program penanaman pohon yang akan dilaksanakan Komunitas TobaDream. Tapi perlu saya pesankan, kalian harus pentingkan untuk menjalin kerjasama dengan penduduk setempat. Jangan asal nanam pohon, tapi penduduk di sana hanya jadi penonton, akan sia-sia,”kata Cornel.

  2. permisi numpang berita dulu ya !!!!!
    [penting soalnya ini]

    Wakil Bupati Samosir : “No Comment” Soal Hutan Tele

    KETIKA para pecinta lingkungan berteriak marah, lantaran hutan alam Tele dibabat dengan semena-mena, Ober Sagala hanya bisa mengatakan : No Comment. Kasihan! Karena sebenarnya, politisi Partai Demokrat ini punya dua dasar kewenangan, untuk menghentikan penebangan hutan alam itu.

    Kewenangan pertama, karena kampung halamannya, Desa Sagala, berada persis di bawah perbukitan hutan Tele. Apabila nantinya hutan itu sudah dipangkas habis, kemungkinan terjadinya longsor sangat besar, dan bisa jadi kampungnya bakal terkubur. Kewenangan kedua, karena Ober Sagala adalah Wakil Bupati Samosir.

    Lalu kenapa dia hanya bisa bilang : No Comment ?

    Tampaknya Wakil Bupati ini merasa sungkan dan ewuh pakewuh, kalau harus mengeluarkan pendapat yang terkesan mengkritik atau menyalahkan Bupati Mangindar Simbolon. Mungkin dia beranggapan, selaku Wakil Bupati tidaklah pantas baginya menimbulkan kesan kepada pihak luar, bahwa antara dirinya dan Mangindar sudah pecah kongsi.

    DARI sebuah sumber yang dekat dengan Wakil Bupati diperoleh informasi yang mengejutkan, ternyata Ober Sagala merasa ditinggal oleh Mangindar Simbolon dalam proses lanjutan proyek hutan Tele. Dia memang pernah dilibatkan ketika PT ESJ, sang investor asal Korea, mempresentasikan berbagai keuntungan dan manfaat yang bakal dinikmati Kabupaten Samosir, apabila hutan Tele dijadikan kebun bunga untuk komoditas ekspor.

    Namun dalam proses selanjutnya, sampai kemudian penebangan hutan itu menimbulkan heboh, ternyata Wakil Bupati Ober Sagala tidak dilibatkan lagi. Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Ober Sagala selaku Wakil Bupati tidak memiliki akses terhadap data proyek kebun bunga yang kontroversial itu.

    Kenapa bisa begitu? Kok Bupati Mangindar Simbolon jadi main sendiri ? Tidak diperoleh jawaban yang memuaskan dari Ober mengenai hal ini. Dia menolak untuk memberikan jawaban yang jelas.

    Sangat disayangkan sikap yang dipilih Wakil Bupati Samosir itu. Menjaga etika politik boleh-boleh saja, namun yang lebih penting adalah tanggung jawab kepada rakyat. Perilaku politisi yang saling menutupi seperti itu hanya berguna bagi karir politik mereka sendiri, tapi bisa menjadi sumber bencana bagi masyarakat.

    Sebagai Wakil Bupati, apalagi di era demokrasi ini, Ober Sagala seharusnya bisa membawakan diri sebagai figur yang punya otoritas dan integritas. Jabatan Wakil Bupati itu bukanlah seperti asisten pribadi, yang ikut saja apa kata bos; karena bos tertinggi sebenarnya adalah masyarakat Samosir.

    Masih ada waktu bagi Ober Sagala untuk memperbaiki sikapnya yang keliru. Setidak-tidaknya secara internal dia bisa meminta Bupati mengadakan rapat dan kemudian menanyakan perihal hutan Tele. Kalau ternyata hal itu tidak diindahkan oleh Bupati, tidak ada salahnya Ober membuat pernyataan kepada masyarakat; jika memang ada kejanggalan prosedur dalam proses keluarnya izin penebangan hutan Tele.

    Kalau Wakil Bupati tetap bungkam, maka masyarakat Samosir dan para perantau Batak di seluruh dunia akan menganggap Ober Sagala ikut bertanggung jawab atas pembabatan hutan Tele.

  3. asyikkkkkkkkkkkkkkk
    nemu blogger medan lagi.
    salam kenal ya, huhuuyyyyyyyyyyy:)

    *kebiasaan norak ya gini. jadi harap maklum ye*

  4. Ih, bang deny serem-serem anak mama juga yah. nggak jauh beda tuh sama sahabat satu kantormu yang gondrongnya udah langka di antara kaum lelaki belakangan itu. Ternyata pribahasa dont judge this book by its cover itu serius sekali maknanya. Tampang-tampang kalian yang macho nggak menjamin banget… hehehe

  5. apa kabar man. udah lama gak saling halo-haloan. mantan TRUST man. uchie dari Ternate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s