“Bah! Ngeri nai puang namasaon!”

Artikel berikut ini masih lanjutan postingan sebelumnya. Cuma ini dalam deskripsi yang lebih lengkap dari versi sebelumnya yang dikirimkan lae Robert Manurung. Penulisnya Bang Suhunan Situmorang. Sepertinya pesan moral ini perlu untuk disampaikan kepada orang banyak. Kalau tidak kita, siapa lagi yang bisa menyelamatkan Danau Toba?


Horas ma di hamu sude dongan. Tgl 6 Februari lalu, saya dan lima teman (Viky Sianipar, Bismark Sianipar, Charlie Sianipar, Ganda Simanjuntak ( Medan ), dan sahalak bule Perancis, Laurent), atas nama komunitas Tobadream Jkt, pulang ke Samosir untuk menyiapkan ‘Tobadream Conservation Program’ (TCP). Di Desa Martoba, Simanindo, kami menyiapkan perjanjian dng pemilik tanah yg sukarela menyerahkan 2 HA tanahnya utk ditanami pohon, mengadakan pertemuan dng teman-teman peneliti voluntir dari Badan Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli, Parapat. Juga melakukan sosialisasi dng orang-orang setempat (termasuk politisi-politisi lokal) dan Pemda (Bupati Samosir).

Kami juga menjelajahi dataran tinggi Samosir (Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan) dan mengelilingi Samosir hingga daerah Lagundi-Onanrunggu utk memetakan lahan kritis, dan, atas nama pribadi, mencari anak-anak asuh yg secara ekonomis kesusahan meneruskan sekolah. Untuk sementara, kami menyerahkan ke pastor Bernardus Sijabat dari gereja Katolik Paroki Pangururan. Beliaulah yg kami putuskan menyalurkan ‘aek santetek’ ke saudara-saudara kita, anak-anak di desa Sijambur, Salaon Dolok, Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan, yg sangat memerlukan bantuan biaya sekolah.

Sebagaimana pertemuan kami di Jkt tiga bulan lalu dng Bupati Samosir, keinginan dan maksud kami menggugah warga (terutama para perantau) agar menggiatkan penghutanan kembali daerah Samosir dan sekitar Danau Toba melalui TCP, mendapat dukungan. Kami senang dan tak lupa menekankan bhw program TCP murni swadaya, tak akan membebani keuangan Pemda. Kami hanya mengandalkan partisipasi pribadi-pribadi yg tergerak hatinya utk membantu membeli bibit pohon dan biaya perawatan (menggaji tenaga lokal), dan tiap rupiah yg kami terima harus bisa dipertanggungjawabk an.

Tak dinyana, malam sebelum kembali ke Jkt (9 Feb), kami bertemu dng seorang parnamboruan yg membuka kedai makan di Pangururan. Tanpa bicara panjang lebar, namboruku ini (Ny. Siregar br Situmorang) menyampaikan sebuah berita yg mengejutkan, yakni: Bupati sdh memberi izin ke sebuah perusahaan Korea utk membabat 2000 HA hutan Tele utk dijadikan kebun bunga! Warga Tele dan pemegang hak ulayat (marga Situmorang dari Harianboho, Baniara, Tele, mayoritas keluarga dekat sastrawan Sitor Situmorang) sudah mengajukan protes dan melakukan perlawanan. Namboruku ini pun lantas memintaku agar turut jadi pengacara pemegang hak ulayat (ditambah pengacara lain) untuk menggugat Bupati Samosir. Mendengar berita tsb, saya dan kawan-kawan langsung lemas! Terjadi semacam antiklimaks atas rencana penanaman pohon di Samosir yg dijadwalkan mulai 3 Maret 08. Berulang-ulang saya tanya kebenaran berita tsb, namboruku itu kemudian memberi dua no.hp paramangudaon di Jkt agar saya hubungi. Malam itu pun langsung kami hubungi teman-teman di Pangururan utk verifikasi karena tak mungkin lagi berangkat ke lokasi (Tele). Ternyata mereka sudah tahu, bahkan pengakuan mereka sudah beberapa kali dimuat di koran-koran terbitan Sumut.

“Bah! Ngeri nai puang namasaon!” ucapku spontan.

Jelas, kami SANGAT KECEWA. Rencana melakukan penanaman pohon di atas lahan 2 HA, yang kami harapkan akan menjadi semacam “virus” positif bagi seluruh warga dan perantau Samosir dan wilayah-wilayah di Tano Batak utk melakukan hal yg sama, jadi sesuatu yg absurd, dilecehkan, dan “si parengkelon” .

Minggu siang (10 Feb), kami ketemu dua teman jurnalis, yakni Alvin Nasution (wartawan Metro Tapanuli/Metro Siantar) dan Andi Siahaan (wartawan dan kontributor Trans TV) di kedai kopi Koktong Siantar dan kemudian menanyakan kebenaran berita tsb. Mereka membenarkan berita tsb dan kata mereka sdh pernah ditulis sebagian pers Sumut. Malamnya di Medan, di rumah Grace Siregar (penggagas Galeri Tondi), kami ungkapkan berita tsb pada teman-teman yg sudah kumpul di sana (Thomson Hs, Alister Nainggolan, Miduk Hutabarat, dll). Mereka pun mengaku sudah mendengar tsb.

Setiba di Jkt, dari bandara, saya kirim SMS ke Batara Situmorang (salah satu pewaris hak ulayat) utk menanyakan masalah tsb sekalian langkah-langkah yg sdh mereka tempuh. Jawabannya, mereka sdh menyurati Bupati, beberapa Menteri, dan tengah mengumpulkan beberapa dokumen sbg modal utk tindakan hukum bilamana Bupati tidak menghentikan. Paramangudaon ini pun meminta kesediaanku manakala diperlukan.

Tu hamu sude dongan par milis pulosamosir, sian roha naserep hupangido, kami mohon, dukungan utk menggagalkan rencana Bupati Samosir utk membabat hutan Tele seluas 2000 HA, apapun alasan dan tujuannya. (Alasan Bupati, kawasan tsb masuk hutan produksi dan tujuan konversi ke kebun bunga adalah utk meningkatkan pariwisata).

Tak usah pun dikaitkan ke persoalan global warming, kawasan hutan yg mengelilingi Danau Toba sdh tahap sekarat menurut kawan-kawan peneliti kehutanan! Kita tahu persis, hutan-hutan yg mengitari danau yg indah itu sdh terancam dan ekosistem di sekitarnya sudah rusak sejak perusahaan pulp di Sosor Ladang-Porsea beroperasi sejak thn 90-an, ditambah tindakan para pencuri kayu.

Masa depan danau kebanggan kita itu, asal-mula para leluhur manusia Batak itu, semakin terancam dan akan semakin hancur bila hutan-hutan yg mengitarinya dihabisi. Tegakah kita membiarkan danau, perbukitan, hutan, dan alam yg sudah menghidupi dan memberangkatkan manusia-manusia Batak utk meraih kemajuan itu dirusak oleh pihak-pihak yg hanya bertujuan meraup keuntungan bagi diri mereka? Saya yakin, tidak!

Untuk itu, saudara-saudaraku sekalian, kami imbau agar: IKUT MELAWAN SETIAP TINDAKAN YANG MERUSAK HUTAN DI BONA PASOGIT DAN YANG MENCEMARI DANAU TOBA!

Horas
suhunan situmorang

(yang lagi kecewa dan sedih)

8 thoughts on ““Bah! Ngeri nai puang namasaon!”

  1. Tidak bermaksud mengompori ya. Di bintan ada perusahaan produsen plywood tujuan ekspor milik Korea yang napasnya sudah megap-megap alias mau tutup dan sudah mulai pengurangan tenaga kerjanya karena sulitnya perolehan bahan baku kayu.

    Kayu pinus dan kayu-kayu lain hasil hutan tele yang 2000ha jelas sangat lebih dari cukup untuk menyelamatkan perusahaan tersebut…

    Tidak menyimpulkan. Tapi siapa tahu saja keduanya punya kaitan satu sama lain.

  2. Hmmm… kalau wartawan jeli, seharusnya komen Abang di atas ini bisa ditindaklanjuti. Bisa dong ditelisik. Jangan-jangan memang betul seperti yang dipikiran Abang Par Bintan. Kalaupun tidak, cerita keduanya masih bertautan. Yang satu pabrik hampir tutup karena kehabisan bahan baku, padahal sudah terlanjur invest banyak untuk pembangunan pabrik. Yang satunya lagi kebetulan masih bisa menyediakan bahan secara kontinu dan pasti (2.000 ha bo’).

    So, bukan tidak mungkin kan? Siapa tau… Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Apalagi di Sumut. Hahahahaha…

  3. Pingback: TobaDream » Blog Archive » Bah! Ngeri nai puang namasaon!

  4. ternyata kelakuan pejabat di sumatera turunan dari pusat juga, beda tipis,
    sama halnya dengan progran GERHAN, tetapi tetap juga diberi ijin untuk penanaman/buka lahan baru untuk sawit. jadi semua bermuara ke kapitalis.
    sementara para aktivis lingkungan berkoarkoar agar tdk terjadi global warning, padahal dana mereka melukan kampanye selamatkan bumi ternyata dari para pengusaha yang notabene perusak lingkungan, mereka memberi alasan gerakan moral semata, bukan untuk menambah panas situasi, alangkah lebih bagus kita kembali ke kerifan budaya lokal, artinya pengelolaan sda di kembalikan ke masyarakat setempat tanpa ada bantuan dari aktivis aktivis lingkungan yang dana operasional mereka dari luar negeri. ada pepatah ketika katakata tidak bermakna lebih baik diam(perang rakyat semesta lawan penguasa dan pemilik modal)

  5. hepeng do mangatur negara on lae. ba demon mahita tu samosi asa ro hami sian bintan. sattabi bah tu parbintan ba boi do hita marsitaandaan puang au tinggal di tanjungpanang.

  6. Horas, Bang Suhunan.

    Saya pikir TAPIAN harus mengangkat kerusakan hutan di Bona Pasogit. Satu yang saya tanya Bang Suhunan, kebetulan saya menulis tentang Toba Dream untuk Juli. Abang kan asal Samosir, saya butuh bahan menulis. Pertanyaan saya. Siapa pemilik tanah di Samosir itu, yang menghibahkan tanahnya ke Toba Dream untuk ditanami pohon pada 3 Maret lalu. Adakah perjanjian dengan pemilik. Bisakah saya minta kontaknya.

    Hotman Jonathan Lumbangaol wartawan majalah budaya Batak TAPIAN. HP.0813-16518619

  7. kebijakan yang penuh kebajikan akan melahirkan peradaban yang baik. Tetapi kebijakan yang penuh dengan kepura-puraan akan melahirkan kekacauan.

  8. q sangat setuju dengan abang bilang(programnya),hutan di “huta kebanggaan kita” sudah sangat memprihatinkan,itu terbukti dari iklim yang tidak menentu di kawasan samosir,,penanaman pohon,yang akan dilakasanakan q dukung be 100%,,,meskipun hanya bentuk doa,
    bravo truzZ buat kemajuan samosir,,,
    horaZZZZ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s