Kisah Binsar Simarmata Mencari Keadilan

Kisah Binsar Simarmata adalah tragedi. Setelah kematian merenggut istrinya tercinta sehabis melahirkan anak keempatnya, kini ia mesti merawat bayinya dengan kaki kanan yang luka membusuk. Binsar meratap, menurutnya anak bungsunya itu korban malpraktek salah satu rumah sakit di Pematangsiantar.

Kisah ini dituturkan Binsar kepada wartawan pada Selasa (12/2). Dengan raut wajah sedih, didampingi abangnya Maruhum Simarmata dan Hendri Manurung, Binsar  menemui wartawan di kantin Pemko Pematangsiantar.

Dengan terbata, Binsar bertutur. Kejadian berawal ketika istrinya, Herly Dearmaida Sipayung hendak melahirkan, Minggu (20/1) yang lalu. Sekitar jam 12.00 WIB, kemudian sang istri melahirkan bayi lewat operasi. Malang, Herly tak dapat diselamatkan. Ia menghembuskan nafas terakhir tak lama setelah operasi itu. Sedangkan bayi itu harus mendapat perawatan di rumah sakit itu selama sebelas hari.

Selepas perawatan, bayi diperbolehkan pulang. Namun, setelah satu hari berada di rumah, saat hendak dimandikan, Binsar terkejut melihat kaki kanan bayinya terluka beberapa centi meter. Luka itu mulai membusuk, dan membutuhkan pengobatan intensif. Dilihat dari bentuk lukanya, Binsar mengira luka itu akibat sayatan benda tajam.

Binsar lalu membawa kembali bayinya ke rumah sakit itu. Ia berharap pihak rumah sakit bersedia bertanggungjawab atas luka si bayi. Namun, pihak rumah sakit enggan bertanggungjawab. Bahkan, humas rumah sakit itu dengan kasar mengatakan luka di kaki bayi itu tidak terjadi semasa perawatan di rumah sakit mereka.

Binsar tak kapok. Ia lalu mencoba mencari kebenaran pada dokter spesialis yang merawat anaknya. dr F SpA yang menangani masa perawatan bayi itu, menolak merawat kembali dan mengatakan luka bayi itu merupakan tanggung jawab dokter bedah rumah sakit itu.

Herannya, Binsar mendapatkan informasi dari dr F SpA bahwa luka di kaki bayi itu sengaja dilakukan untuk mencari urat nadi bayi agar dapat dipasangi infus. Lucunya, pihak rumah sakit sama sekali tidak memberitahukan pihak keluarga bayi sebelum melakukan pemasangan infus. Apalagi dengan cara menyayat kaki si bayi.

Kini, Binsar cuma berharap sederhana. Ia ingin pihak rumah sakit bertanggungjawab penuh atas penderitaan yang dialami bayinya. Caranya, cukup dengan merawat bayi itu hingga sembuh. Namun, harapan tak seindah kenyataan. Ia malah mendapat ancaman gugatan dari humas rumah sakit jika berani mengekspos persoalan bayinya ke media.

Ketika dikonfirmasi, Humas Rumah Sakit HI, Yultri Br Purba, Selasa (12/2) melalui telepon selulernya mengatakan, persoalan yang dialami bayi Binsar Simarmata telah selesai, karena selama perawatan telah diberikan pengobatan gratis. Jadi, Yultri meminta media agar tidak membesar-besarkan persoalan yang dialami Binsar Simarmata.

bayi.jpg

Ia menambahkan, soal kondisi luka bayi tersebut agar ditanyakan langsung kepada dokter yang melakukan pembedahan. Sayangnya, saat coba dikonfirmasi, sang dokter sedang tidak berada di tempat. Kepada wartawan, Yultri meminta agar persoalan ini tidak lagi dipublikasikan. “Lagian masalah kecil ngapain dibesar-besarkan,” ucapnya dengan nada tinggi. (denny sitohang-gunawan purba-pematang siantar)

3 thoughts on “Kisah Binsar Simarmata Mencari Keadilan

  1. Karena budaya malu sudah luntur di mana-mana, rumah sakit itu harus ditekan agar mau bertanggung jawab; kalau tidak cara mempermalukannya harus agak vulgar. Ini masalah perlindungan konsumen yang tak pernah dipedulikan di negara ini, dan sedihnya taruhannya disini adalah nyawa, kehidupan.

    btw aku minta izin mengkampanyekan lewat blog yang keren dan mencerahkan ini mengenai situasi “gawat darurat” di hutan alam Tele, yang kemarin aku singgung sedikit di artikel “Water Is Life”. Ternyata sejak dua malam yang lalu, sisa-sisa hutan alam di Kabupaten Samosir itu sudah mulai ditebas dengan gergaji mesin.

    Kami, Komunitas TobaDream Jakarta, sangat terpukul dan prihatin atas kesewenang-wenangan pemda setempat. Bahkan kami merasa tertipu, karena Bupati Samosir Mangindar Simbolon sudah memberi garansi kepada kami, saat bincang-bincang di komunitas kami empat bulan lalu. Ternyata beliau BERBOHONG. Pak Bupati malah mengeluarkan izin pembabatan hutan seluas 2.250 hektar di Tele, yang konon akan dijadikan perkebunan bunga.

    Kami sangat mengharapkan dukungan media massa, terutama dari rekan-rekan bloger Indonesia, untuk memberikan tekanan agar pembabatan hutan pusaka itu dihentikan.

    Bagi yang tergugah dan ingin tahu, baca artikelnya di http://ayomerdeka.wordpress.com/

    Terima kasih

    M E R D E K A !

  2. kok lsm tidak ada yang mau membantu untuk mengusut hal ini jika memeng benar benar merupakan tindakan mal praktik

  3. Kenapa ketika media berbicara, pihak terkait baru menunjukkan itikadnya,,,apalagi ketika dugaan malpraktik menimpa keluarga yang kurang mampu, apa benar orang miskin dilarang sakit????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s