Kematian Benazir, Pelengkap Tragedi Kehidupan Keluarga Bhutto

apapasia_pakistan_1jz26.jpg

Benazir Bhutto adalah tokoh populer hampir dalam segala hal, mulai dari pendamping legasi almarhum ayahnya, tokoh aristokrat, wanita yang sedikit bebal hingga menjadi salah seorang dari 50 tokoh tercantik menurut Majalah People. Meski akhirnya dirinya menjadi korban perebutan kekuasaan di negaranya sendiri, saat ia ingin memimpin negaranya untuk ketiga kalinya.

Bagi dunia Barat, dia adalah sosok wanita glamour yang memikat dengan wajah Pakistan. Ia juga merupakan wanita pertama yang memimpin sebuah negara Islam di era modern meski auranya mengalami kepudaran terkait tuduhan korupsi.

Namun, bagi kebanyakan warga Pakistan, dia adalah pemimpin yang mewakili suara, kebutuhan dan harapan rakyat. Bahkan sejumlah kritikan menyebut dirinya sebagai “politisi ulung”. Dia tahu apa yang negaranya inginkan, kata Zaffar Abbas, editor suratkabar Dawn.

“Jika Anda orang biasa dari apa yang mereka peroleh ketika Benazir Bhutto masih berkuasa, mereka akan mengatakan setidaknya dia memberikan kami suara dan dia membicarakan mengenai kita dan masalah kita. Itulah apa yang sebenarnya diperolehnya,” kata Abbas.

Hidupnya merupakan epik yang sangat memilukan. Ayahnya, yang pernah menjabat sebagai presiden dan perdana menteri Pakistan digantung. Saudara lelakinya tewas secara misterius. Saudara lelaki lainnya tewas tertembak. Dia menghabiskan masa lima tahun di penjara oleh para penasihat ayahnya, sebelum naik dua kali menjabat sebagai perdana menteri.

Benazir kabur ke luar negeri selama delapan tahun sebelum pembuktian dugaan korupsinya. Meski hidup di luar negeri lebih nyaman, ia tidak memilihnya. Dan ketika ia kembali ke negaranya pada Oktober, seorang pelaku serangan bom bunuh diri menargetkan paradenya di Karachi. Sedikitnya 140 orang tewas ketika itu.

Benazir yang berusia 54 tahun luput dari serangan tersebut, meski mengalami luka-luka ringan. “Kami tidak ingin dihalangi,” tegasnya saat itu.

“Hidup Bhutto! Hidup Bhutto!” pekiknya saat melakukan pawai Desember lalu.

Seperti keluarga Nehru-Gandhi yang sudah menjadi kekuatan dalam kancah politik di negara tetangga India, keluarga Bhutto memegang peran penting di Pakistan selama hampir setengah abad.

Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto adalah putra dari keluarga pemilik tanah kaya di selatan Pakistan dan pendiri Pakistan People’s Party. Dengan pesan demokrasi, dia mulai berkuasa pada 1971.

Namun, enam tahun kemudian, ayahnya digulingkan melalui kudeta militer. Pada 1979, ayahnya dieksekusi pemerintahan Jenderal Mohammad Zia-ul Haq terkait tuduhan perencanaan pembunuhan ayah seorang lawan main politiknya.

Sehari sebelum digantung, Benazir menjenguknya di penjara. “Saya katakan kepada ayah saya bahwa saya bersumpah di kamar sel kematiannya, saya akan meneruskan tugasnya,” kenang Benazir. Namun, selama beberapa tahun kemudian, ia tidak bisa meneruskan perjuangan ayahnya karena dikenakan tahanan rumah.

Ayahnya menyuruh Benazir belajar politik dan pemerintahan di Harvard dan Oxford. Ia lalu terpilih memimpin lembaga debat bergengsi Oxford Union.

Adik laki-lakinya, Shahnawaz mengurus oposisi tersebut dari Prancis, namun tewas secara misterius di apartemennya di Riviera pada 1980. Keluarganya menduga Shahnawaz diracun, namun dakwaan mereka tidak berhasil. Setelah dilepaskan dari penjara pada 1984 untuk mengobati infeksi luka yang dialaminya, di London, Benazir mendirikan kantor People’s Party di sana dan menunggu kesempatan untuk menyerang kembali.

Dua tahun kemudian, dia kembali memimpin pawai massa menyerukan agar Zia turun dan memberi kesempatan bagi pemerintahan sipil serta digelarnya pemilu. Zia tegas-tegas menolak, namun pada 1988, pemimpin ini tewas dalam sebuah ledakan di pesawat.

Benazir berhasil menguasai panggung untuk “makanan, pakaian dan tempat teduh bagi rakyat” dan dalam waktu beberapa bulan usai melahirkan anak pertamanya, dia mulai menjabat posisi yang dulu pernah diemban ayahnya.

Dua puluh bulan kemudian, Presiden Ghulam Ishaq Khan membubarkan parlemen dan menghentikannya dari jabatannya ditambah tudingan dari pihak militer yang memberkaskan korupsi terhadapnya. Sementara para ulama Islam mencoba melarangnya untuk ambil bagian dalam pemilu dengan alasan dirinya seorang wanita Muslim yang buruk.

“Siapa saja yang mendukung Pakistan People’s Party tidak akan masuk surga,” demikian yang ditegaskan ulama Muslim di Lahore, Abdul Qadir dalam salat Jumat menjelang pemilu Oktober 1990.

Benazir kalah dalam pemilu dari Nawaz Sharif (yang dua tahun kemudian juga akan diasingkan dan kembali menentang pemerintahan Musharraf). Sharif menjabat tidak lama karena munculnya tuduhan terlibat korupsi. Di bawah tekanan rakyat, dia akhirnya mengundurkan diri pada 1993 dan Benazir – saat itu seorang ibu beranak tiga – berhasil memenangkan pemilu untuk menjabat sebagai perdana menteri kedua kalinya pada Oktober 1993.

Pada 1996, pemerintahannya mengalami kemerosotan saat menghadapi tuduhan nepotisnme dan salah pengelolaan perkonomian.

Di seluruh dunia, Bhutto adalah sosok pahlawan wanita. Dan dalam serangkaian kampanyenya, dia mendukung pelayanan baru bagi kaum wanita dan menentang adanya diskriminasi gender meski beberapa masalah muncul dalam pemerintahannya.

Dalam kehidupan pribadinya, Bhutto mengejutkan banyak orang dengan menyetujui perjodohan pernikahan pada 1987 dengan seorang pengusaha Karachi bernama Asif Ali Zardari. Sebagai pemimpin sebuah partai Islam, dia tidak memiliki kesempatan untuk mencari cinta yang justru akan menghancurkan karir politiknya, katanya kepada The New York Times di tahun 1994.

Namun, pernikahannya dengan Zardari justru menghancurkan karirnya.

Selama beberapa tahun, pasangan ini dihadapkan tudingan “komisi” jutaan dolar dari sejumlah perusahaan asing. Saat itu Zardari dijuluki “Mr. 10 Percent” karena dukungannya di masa pemerintahan pertama dan pada masa pemerintahannya kedua dia dijuluki “Mr. 40 Percent.”

Zardari menghabiskan delapan tahun penjara di Pakistan sebelum dibebaskan pada 2004, meski dia tidak pernah terbukti bersalah dan keduanya mengungkapkan tudingan-tudingan semacam itu hanya taktik politik saja.

“Saya tidak pernah memengaruhi penyerahan kontrak dan hingga saya mati saya tidak akan melakukannya. Mereka hanya mencoba menghancurkan saya sebab mereka ingin menghancurkan konsep pluralistik, Pakistan liberal. Dituduh merampok merupakan hal yang sangat menyakitkan saya,” ujarnya pada 1999.

Switzerland membekukan lebih dari US$ 13 juta rekening pasangan ini dan menuduh Bhutto terlibat dalam kasus money laundering yang pada akhirnya dicabut ketika dia berkampanye.

Zardari juga dituduh terlibat dalam perekayasaan kematian Murtaza Bhutto pada 1996 yang tewas dalam aksi baku tembak dengan polisi di Karachi. Kematiannya membuat jatuhnya pemerintahan Benazir sebulan kemudian.

Benazir mencoba menjabat untuk ketiga kalinya, namun dia kalah. Kemudian pada 1999 dia meninggalkan Pakistan persis sebelum pengadilan membuktikannya terlibat dalam korupsi dan melarangnya untuk ambil bagian dalam politik.

Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di London dan Dubai bersama keluarganya serta ibunya yang dulu pernah menentangnya dalam karir politik.

Kemudian Musharraf menandatangani sebuah amnesti, mencabut segala tuduhan korupsi bagi dirinya dan yang lainnya. Wanita ini kemudian memutuskan kembali ke Pakistan dan terjun kembali ke arena politik lagi. Saat Musharraf menyatakan negara dalam keadaan darurat, Benazir dikenakan tahanan rumah.

Sebagaimana yang pernah dilakukannya sebelumnya, dia berkampanye dengan mengangkat masalah-masalah sosial, yang pada dasarnya menyerukan pesan anti-korupsi yang membuat dirinya menjadi perhatian para pejabat Amerika. Pekan lalu, usai menggelar pawai kampanye di kediaman Nawab Shah, dia merasa tenang.

“Sangat luar biasa rasanya bisa kembali pulang. Kunjungan ke setiap kota merupakan pengalaman yang baru bagi saya. Saya merasa seperti diberikan kehidupan baru sekali lagi di antara rakyat saya,” ucapnya.

Tiga belas tahun lalu, ketika seorang wartawan dari Times menyebut kehidupannya ibarat drama Yunani, dia hanya tertawa. “Yah, saya harap tidak setragis itu. Apa memang semua drama Yunani berakhir dengan tragedi?” tanyanya. (harian global-associated press)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s