Frustasi, Etnis India Malaysia Turun ke Jalan

Warga etnis India di Malaysia, Minggu, menggelar aksi protes anti pemerintah terbesar. Lebih dari 10.000 orang terlibat dalam aksi unjuk rasa untuk menyuarakan keluhan diskriminasi ras tersebut, tanpa menghiraukan tembakan meriam air dan gas air mata.


Aksi protes skala besar yang diadakan sebuah kelompok pembela hak azasi kaum Hindu itu menjadi tantangan politik bagi pemerintah yang rencananya akan menyambut pemilihan umum dalam beberapa bulan mendatang.

Masyarakat etnis India dari seluruh penjuru Malaysia berkumpul di Kuala Lumpur untuk melakukan unjuk rasa, meski kawasan ibukota telah ditutup selama tiga hari terakhir, sementara pemerintah dan polisi telah mengeluarkan peringatan agar masyarakat tidak terlibat.

“Kelompok etnis India di Malaysia belum pernah melakukan unjuk rasa dengan jumlah sebanyak ini,” tutur pengorganisir aksi protes P Uthaya Kumar dari Hindu Right Action Force (Hindraf).

“Mereka merasa frustasi dan tidak memiliki kesempatan bekerja di pemerintahan atau pun di sektor swasta. Mereka tidak diberikan izin usaha atau pun kursi di perguruan tinggi,” katanya. Kumar menambahkan, warga etnis India juga merasa marah akibat penggusuran beberapa kuil Hindu belakang ini.

Polisi anti huru-hara melepaskan tembakan gas air mata dan meriam air secara terus menerus ke arah para pengunjuk rasa, namun butuh waktu hingga lebih dari lima jam untuk membersihkan jalanan pusat Kuala Lumpur.

Menurut para jurnalis dan analis senior, warga etnis India yang berjumlah sekitar 7 persen dari total populasi Malaysia, tidak pernah menggelar unjuk rasa berskala besar sebelumnya. Namun beberapa pihak mengaku jika sejumlah besar warga etnis India pernah turun ke jalan terkait masalah politik internal pada akhir 1980an.

Kolumnis politik Zainon Ahmad memaparkan, aksi protes ini dapat mempengaruhi partai komunitas India, Kongres India Malaysia (MIC) – anggota baru koalisi berkuasa saat ini. “MIC sangat terpengaruh dengan masalah ini,” katanya.

Namun pemimpin MIC yang juga seorang menteri, S Samy Vellu, membantah dugaan bahwa aksi protes tersebut telah menimbulkan gangguan terhadap partainya. “Kami mewakili komunitas etnis India dan akan tetap seperti itu,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Vellu yang pernah menyuarakan kegelisahan komunitas India terkait dihancurkannya sebuah kuil Hindu oleh otoritas lokal di luar ibukota baru-baru ini, menambahkan, “Masih banyak hal yang harus dilakukan untuk warga etnis India dan kami akan terus berjuang.”

Banyak pengunjuk rasa mengeluhkan kurangnya kesempatan berbisnis dan mendapat pendidikan. Menurut mereka, kebijakan aksi afirmatif pemerintah yang disetujui oleh mayoritas etnis Melayu telah membuat mereka tersingkir.

Namun menurut data resmi, warga etnis Melayu yang jumlahnya mencapai sekitar 60 persen dari total populasi, masih tetap menjadi kelompok termiskin ditinjau dari beberapa faktor, seperti pendapatan rumah tangga.

Begitu pun, kelompok oposisi menyebutkan kasus kemiskinan paling parah terdapat pada komunitas India.

Dibawa sebagai buruh kontrak oleh pemerintah kolonial Inggris pada 1800, warga etnis India dipekerjakan di perkebunan karet. Tetapi akibat penutupan sejumlah kebun karet, banyak buruh etnis India yang tidak memiliki keterampilan jatuh miskin di kota itu.

Disebutkan, para pengunjuk rasa berkumpul untuk menyerahkan petisi ke kedutaan Inggris guna mendukung gugatan Hindraf yang menuntut ganti rugi dari Inggris atas penganiayaan pada era kolonial.

Namun Hindraf memaparkan, aksi protes itu juga ditujukan terhadap pemerintah Malaysia. “Kami di sini demi hak kami,” jelas seorang pengunjuk rasa kepada media. “Bangsa Inggris membawa para pendahulu kami ke sini 150 tahun lalu,” tambahnya. “Pemerintah tidak memperhatikan kesejahteraan kami.”

Polisi terpaksa menembakkan gas air mata di luar menara kembar dan hotel-hotel berbintang lima di Kuala Lumpur.

Di Gua Batu, sebuah tempat pemujaan umat Hindu tidak jauh dari ibukota, polisi terlibat bentrok dengan sekitar 2.000 pengunjuk rasa pada Minggu pagi usai mereka melarang masuk ke kuil tersebut.

Banyak warga Malaysia, termasuk kelompok Muslim India, menentang aksi turun ke jalan, karena khawatir dapat memicu kerusuhan. Malaysia belum pernah dilanda kerusuhan antar ras berskala besar sejak 1969, namun banyak polisi khawatir ketegangan antar agama dan ras dapat terulang lagi.

Sedikitnya seorang polisi terluka ketika para demonstran memukulnya dengan helm, papar seorang petugas. Pengorganisir aksi protes memaparkan, 400 orang telah ditahan sementara 19 lainnya terluka.

Ini merupakan pemberangusan demonstrasi anti pemerintah kedua pada bulan ini, di sela-sela berkembangnya spekulasi bahwa Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi akan mengadakan pemilihan pada awal tahun. Semestinya, pemilihan berikutnya tidak akan digelar hingga Mei 2009.

Pada awal November, sekitar 10.000 demonstran menuntut reformasi pemilihan, meski polisi melarang aksi unjuk rasa di ibukota. (wire/glob)

2 thoughts on “Frustasi, Etnis India Malaysia Turun ke Jalan

  1. Mestinya suapaya adil ..Ada negara bagian yang sultannya orang India dan juga sultan dr Cina…seperti Penang mesti dibentuk kerajaan Penang yang Sultannya orang Cina dan negri Malaca sultannya orang India

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s