Sebuah Dekorasi di Dinding Penjara

Dari Koran Tempo edisi Sabtu, 3 Juli 2004

Di sebuah lembar majalah. Di halaman tempat pemimpin redaksi menulis editorialnya. Ada foto seorang lelaki telanjang dada, hanya memakai kolor bergambar jeruk nipis kecil-kecil, bersepatu bot sedengkul, berkacamata hitam, dan bertopi pet. Ahoi, ada pula tulisan “#16” di uluhatinya yang menunjukkan edisi majalah itu. Dia bukan model yang disewa mahal untuk tampil sinting, ia adalah pemimpin redaksi yang menulis editorial di bawahnya. Di situ ia mengingat kembali edisi kesembilan di mana ayahnya sendiri ia jadikan cover.

Ripple, majalah yang kita bicarakan di atas, memang bukan majalah biasa. Majalah asal Bandung itu adalah salah satu dari sekian banyak majalah di luar arus utama yang kini tengah marak di berbagai kota Indonesia. Di antara majalah-majalah itu ada Pause dan Trolley dari Bandung. Trolley yang antara lain diawaki oleh Dewi Lestari membidik pasar komunitas anak muda pencinta musik dan seni rupa. Apa boleh buat, napas media yang terbit pada 1999 ini tidak panjang lantas berstatus almarhum setelah beberapa kali terbit. Di luar sana ada MTeens Magazine di Medan, dan Sinkink di Solo.

Di Jogjakarta ada Outmagz yang beberapa saat lalu melakukan peluncuran kembali dalam pesta yang ingar-bingar di Kemang, Jakarta. Tema pesta kali itu adalah Lollipop your everyday life. “Maksudnya, media kami adalah media anak muda yang bergaya hidup progresif di bidang fashion, musik dan pola pikir. Lollipop mengisyaratkan warna-warni kebebasan, progresif dan be your self,” kata Krisnamurti Lumenta, pemimpin umum Outmagz menjelaskan.

Memang, umumnya media seperti ini menyuarakan kebebasan. Niatan awalnya sebagai anti tren. Namun keantitrennya itu justru membuatnya justru menggariskan tren sendiri. Yah, mirip orang yang menolak berfilsafat, tapi secara tak sadar penolakan itu adalah juga berfilsafat.

Krisna mengakui medianya mulai berkibar serius setahun lalu. Padahal bersama teman-temannya dari desain grafis Universitas Gajah Mada, ia membuat majalah ini sejak 1995. Ide awalnya adalah membuat sesuatu yang berbeda dari majalah anak muda yang ada seperti Hai, Gadis, Kawanku dan sebagainya. Karena pakem dan pola pikir mereka mengarah pada kebebasan, maka mereka pun menyuguhkan aneka artikel tentang kebebasan bermode, bermusik dan berpola pikir.

“Ideologi kami progresif, maksudnya selalu berubah, bosan dan tidak menentu. Bagi kami hari ini beda dengan kemarin, hari esok tidak sama dengan lusa,” kata Krisna. “Sebagai karya progresif bukan berarti mengagungkan penyimpangan, namun bentuk eksplorasi kreativitas terhadap berbagai kemungkinan bentuk yang tiada habisnya,” demikian ia bertutur.

Ide yang sama juga dimiliki oleh majalah-majalah serupa dari luar negeri. “Kita melihat kebebasan pada majalah-majalah yang di luar mainstream itu,” kata Imelda Widjaja yang suka membaca majalah-majalah tak konvensional terbitan Amerika, Inggris, atau Jepang. “Mereka lebih bebas mengekspresikan sesuatu. Hal ini amat dibutuhkan dalam membuat karya seni. Tanpa kebebasan, tidak ada kreativitas yang muncul. Kalau bicara tentang fashion harus ada freedom supaya bisa lebih kreativ.”

Dengan melihat lembaran majalah-majalah di luar mainstream ini kita akan dapat melihat kebebasan berpikir dan berekspresi yang mereka agungkan. Umumnya, dalam hal redaksional, mereka memiliki jurus kritis tapi juga bodor, segar, kocak, nyentrik dan cenderung seenak perut sendiri.

Semua artikel ditulis dengan bahasa gado-gado, slank campuran Inggris-Indonesia, semisal awrite (all right) atau begowl (bergaul). Pendeknya, kosakata yang ada di majalah indie ini bakal membuat para pembaca majalah konvensional merasa sudah uzur.

Penggunaan bahasa yang tidak biasa itu juga dilihat Imelda pada majalah-majalah bawah tanah dari luar. “Mereka banyak memakai kata-kata yang tidak biasa,” katanya.

Topik tulisan yang dimuat cukup beragam, dari sejarah musik jazz, sejarah perbudakan, asal-muasal pionir kelompok musik punk The Sex Pistols, sampai artikel ringan tentang “burket” atawa bubur ketek. Seluruhnya diramu dengan gaya terjun bebas. Ada artikel yang belum tuntas dan hanya dipungkasi dengan kalimat “Udahan ya, gue males nih.” Artikel lainnya diawali dengan umpatan “anjing” yang dipelesetkan menjadi “anjirrr”. Pengantar redaksi pun tidak kalah seru: “Maap, so bloody sorry karena terlambat terbit.”

Foto yang dimuat pun hancur-hancuran. Jika di majalah mode konvensional seperti Dewi, Femina, atau a+ Anda akan mendapati foto-foto mode yang cantik manis, maka di majalah-majalah pinggiran itu Anda bisa melihat foto perempuan yang sedang muntah di kloset, lengkap dengan lelehan muntah yang kental. “Gue pengen memberi pengalaman visual, bukan sekadar foto tentang baju,” kata Syagini Ratnawulan, redaktur mode Ripple, tentang alasannya memakai foto-foto tak biasa di halamannya.

Tata letaknya juga mengintimidasi, sarat eksperimen, dan tidak jarang ruwet sampai bikin bingung. Walhasil, mereka menggunakan segala medium (kata-kata, foto, dan desain) untuk menteror pembacaya.

“Foto-foto di majalah ini tidak pose, dibuat seperti amatiran, hingga memberi kesan natural. Model yang dipilihnya pun bukan model terkenal, kecuali untuk iklan. Model-modelnya seperti gadis rumahan yang familiar dengan mata kita,” kata Imelda.

Namun yang lebih penting dari itu adalah soal isi. Biasanya, majalah-majalah indie Indonesia memiliki komunitas sendiri, atau menampung aspirasi dari semua komunitas indie.

Morbid Noise, misalnya. Mereka mengklaim sebagai media musik underground dan menyajikan informasi tentang musik metal bawah tanah. “Aliran indie yang kami anut metal artinya musik bersuara sekeras apapun tanpa aturan,” kata pemimpin redaksinya, Benino Aspiranto Saptono.

Sedangkan Ripple memilih untuk memayungi semua komunitas, mulai dari skateboard sampai berbagai aliran musik indie, termasuk dinamika komunitas punk yang ada di pojok-pojok Bandung.

Semarak Ripple kian berwarna setelah adanya ulasan musik, juga laporan pertunjukan berbagai band indie label yang memang sedang marak di Bandung. Mereka juga menyertakan termasuk contoh kaset grup-grup baru di majalahnya.

The Milo, Mocca, KOIL, Rocket Rockers, Superman Is Dead adalah contoh band indie yang melejit namanya setelah diulas Ripple. “Secara tidak sadar, kita ikut mempengaruhi perkembangan musik indie di negeri ini,” kata Noor al-Kautsar, Redaktur Senior Ripple. Sampai kini, menurut Noor, tidak kurang dari seribu contoh rekaman yang sudah dikirim berbagai band indie kepada redaksi Ripple.

Tapi pemasaran majalah-majalah itu tak seheboh tampilannya. Dana yang terbatas memang mejamin independensi, tapi juga membatasi ekspansi. Yang bisamenikmati majalah-majalah itu juga tak semua orang. Mereka pun sulit masuk ke toko-toko buku besar.

Akhirnya, dibangunlah sistem distribusi yang memanfaatkan jaringan pertemanan. Sampai akhirnya ada sebuah solusi untuk hal ini, yaitu distribution outlet (distro), toko kecil tempat kaum indie menjual berbagai produknya seperti baju dan kaset.

Morbid Noise, mengalami sendiri gerilya dari bawah tanah sejak 1995. “Ketika itu era indie belum semarak seperti sekarang. Karena terbatasnya dana, kami menjual dengan cara foto kopi tanpa mengurangi mutu tulisan,” kata Ben.

Meski harus berjuang di bawah tanah, namun Ben tak takut kehilangan pembaca. “Seperti cacing, komunitas kami benar-benar di bawah tanah. Selalu ada, tidak akan hilang, bahkan sekarang jumlah komunitas antitren ini sangat marak.”

Tapi itu bukan berarti penyebaran majalah indie terbatas. Ripple adalah contoh suksesnya. Kini tiras mereka bisa mencapai 10 ribu eksemplar. Harga majalah yang bermula pada 1999 ini pun terus melonjak dari Rp 3.500, Rp 6.500, hingga Rp 20 ribu. Wilayah peredaran pun telah meluas meliputi Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan.

Outmagz memang tak sebanyak Ripple, hanya seribu eksemplar. Tapi untuk kualitas tampilan, mereka lebih oke. Sekarang memasuki edisi ke empat. Dijual dengan haraga Rp 18.500 sampai Rp 22.500, majalah ini mulai bersikap profesional. Maksudnya biarpun majalah ini sangat idealis tapi untuk pemasaran atau distribusinya dikemas dengan sisi bisnis seperti layaknya media konvensional.

Semua kerja keras itu rela mereka lakukan untuk menjaga independensi yang merupakan ruh dari majalah mereka.

Lalu apa arti kegilaan dan kemerdekaan yang tertuang dalam majalah-majalah itu bagi para pembacanya? “Rutinitas yang kita jalani dalam hidup ini membuat diri kita seperti dalam penjara. Dengan majalah yang seperti ini, pikiran kita menjadi lebih terbuka. Oh, ternyata di luar sana, di luar rutinitas yang memenjara kita itu, ada dunia yang lebih baik, ada harapan.” Apakah harapan itu seperti oase? Bukan, tapi “Seperti dekorasi di dinding penjara.” hadriani p/qaris t

One thought on “Sebuah Dekorasi di Dinding Penjara

  1. iya, setuju banget
    majalah indie memang asoy
    saya juga pengen banget nih langganan ripple, tapi ga tau caranya
    tau cara langganan ripple ga mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s