Di Riau, Greenpeace Hadang Tanker Sawit

Kapal Rainbow Warrior milik kelompok pecinta alam Greenpeace, Kamis (15/11), menghadang tanker MT Westama bermuatan lebih 30 ribu ton kelapa sawit ketika hendak meninggalkan Pelabuhan Dumai, Riau. Greenpeace juga memblokir seluruh jalur keluar kapal itu.

Rainbow Warrior menghalangi MT Westama sebagai upaya menghentikan ekspor kelapa sawit. Rainbow juga membentangkan spanduk bertuliskan: “Palm Oil Kills Forests and Climate” (kelapa sawit membunuh hutan dan iklim). “Kami bertindak untuk menunjukkan dampak buruk dari industri kelapa sawit terhadap lahan gambut serta hutan di Indonesia dan iklim global,” kata juru kampanye kehutanan Greenpeace International Sue Connor dalam siaran persnya, Kamis (15/11).

Pengiriman kelapa sawit yang diangkut MT Westama berasal dari PT Permata Hijau Sawit, salah satu pengekspor besar kelapa sawit di Indonesia. Jumlah ekspor perusahaan ini mencapai 15 persen dari seluruh ekspor di semester pertama tahun 2007.

Permata Hijau Sawit mengekspor kelapa sawit dari perusahaan-perusahaan yang diduga terlibat dalam pembabatan dan kebakaran hutan di Riau. Kelapa sawit itu akan dikirim ke India. “Diperluasnya perkebunan kelapa sawit ke hutan dan lahan gambut merupakan ancaman serius bagi iklim global dan hutan di Indonesia,” ucap Sue Connor.

Menurut dia, rencana pengembangan kelapa sawit di Riau sangat mungkin mengakibatkan “bom waktu iklim”. “Lahan gambut di Riau yang menyimpan 14,6 miliar ton karbon, besaran yang menyamai emisi gas rumah kaca di dunia selama setahun,” terang dia.

Provinsi Riau, sambungnya, merupakan tempat bagi 25% dari seluruh perkebunan kelapa sawit Indonesia. Rencana perluasan perkebunan kelapa sawit yang sudah disiapkan mencapai tiga juta hektar, setengah dari luas provinsi ini. “Permintaan global terhadap kelapa sawit untuk digunakan produksi makanan, kosmetik dan bahan bakar (biofuel) telah menyebabkan deforestasi dan perubahan iklim,” kata Connor.

“Membabat, mengeringkan dan membakar hutan lahan gambut di Indonesia menyebabkan terlepasnya sejumlah besar simpanan karbon ke udara. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara penyumbang emisi (emiter) karbon ketiga terbesar di dunia,” bebernya.

Laporan Greenpeace yang dikeluarkan pekan lalu menunjukkan sejumlah perusahaan besar dunia yang menggunakan kelapa sawit dalam produk-produk mereka, diduga telah terlibat dalam penghancuran hutan. Mereka tidak mengetahui kelapa sawit untuk mereka berasal dari pengalihan hutan. “Perusahan-perusahaan tersebut harus segera menghentikan pembelian kelapa sawit sampai mereka berani menjamin bukan berasal dari kebun yang terkait dengan pembabatan hutan,” tegas Connor.

“Kami menginginkan agar Pemerintah Indonesia segera mengeluarkan moratorium atas pengalihan lahan gambut dan pengrusakan hutan demi mencegah perubahan iklim yang berbahaya,” kata Bustar Maitar, juru kampanye solusi hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Pada perundingan iklim di Bali nanti, Greenpeace akan menyerukan agar ada kesepakatan untuk merundingkan mekanisme baru pembiayaan guna mengurangi deforestasi dengan tajam. Penurunan emisi akibat deforestasi harus melengkapi penurunan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil. (antara-detik.com/harian global)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s