Bocah Kristen di Tengah Gema Takbir

Jumat subuh, satu hari sebelum lebaran. Malam takbiran hampir tiba. Dan setiap kali ia datang aku selalu teringat dengan suatu peristiwa di satu masa yang aku lupa waktu pastinya.


Waktu itu aku masih kecil. Aku lupa, saat itu aku sudah sekolah atau belum. Satu yang pasti, hari itu adalah satu hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Malam takbiran. Aku sedang berada di suatu kota di Kabupaten Aceh Timur. Aku lupa nama tempatnya, tapi aku ingat, kota itu memiliki pantai yang indah. Pantai Idi namanya.

Malam itu sangat istimewa. Mungkin tak akan terlupakan seumur hidupku. Bagaimana tidak, malam itu, bersama pamanku (orang batak menyebutnya Tulang), kami ikutan rombongan takbiran bersama sejumlah orang. Tepatnya, puluhan orang. Malam itu kami berkeliling di seantero kota bersama rombongan pawai takbir lainnya.

Ada yang istimewa malam itu. Aku dan Tulangku adalah penganut Kristiani. Aku yakin, malam itu, di bus itu, cuma kami berdua yang non Muslim. Tapi, malam itu aku merasa sangat istimewa dan aku masih meringis dan merinding setiap mengingatnya kembali. Malam itu, Tulangku yang anggota Polantas menyupiri bus itu. Dan aku secara tak langsung menjadi asistennya. Malam itu, seingatku, aku memegang pengeras suara (aku lupa entah dalam bentuk toa, atau sekadar mikrofon yang tersambung ke pengeras suara) yang digunakan untuk mengumandangkan gema takbir!

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Laailahaillallahu Allahu Akbar…. Allahu Akbar walillahilhamid….


Denny Kecil

Pengeras suara itu terus berpindah tangan. Kadang aku yang pegang, kadang sudah di tangan orang lain. Semua bersemangat, termasuk aku. Bayangkan, seorang Denny kecil yang tidak bertampang Aceh sedikitpun berada di tengah-tengah puluhan orang Aceh. Bukan bermaksud diskriminasi, keberadaanku pasti terlihat aneh di situ. Kulitku putih, rambutku agak kepirang-pirangan. Padahal orang-orang di situ berkulit coklat gelap hampir kehitam-hitaman. Rambut mereka legam. Tapi aku cuek. Seolah tak kenal lelah, gema takbir terus berkumandang dari mulut kecilku.

Waktu itu tentu aku tak pernah berpikir, apa yang ada dalam pikiran mereka melihat aku ada di tengah kerumunan mereka. Anak siapa ini? Kok ada di sini? Kok begitu bersemangat?

Aku yakin, mereka sebenarnya menyimpan pertanyaan itu. Tapi melihat kedekatanku dengan si pengemudi bus – pasti ada juga yang mengetahui kalau aku adalah kerabat si supir bis – yang mereka kenal sebagai anggota Polantas, mereka tentu menyimpan tanya itu. Masa itu, polisi atau anggota ABRI statusnya berada di atas orang-orang kebanyakan. Mereka selalu terlihat angker. Delikan matanya saja sudah bisa membuat orang sekampung keder. Setelah aku dewasa, aku baru tahu kalau pada masa itu pemerintahan orde baru sedang menerapkan Daerah Operasi Militer (DOM) di sana. Pantas saja semua orang-orang segan sama Tulangku itu. Akan lebih nyaman bagi mereka untuk bersikap tak mau tahu. Nikmati aja suasana.

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Laailahaillallahu Allahu Akbar…. Allahu Akbar walillahilhamid….

Bus yang kami tumpangi berputar-putar mengelilingi kota sekitar 2 – 3 jam. Kota itu kecil, jadi kami cuma berputar-putar saja. Tapi orang-orang di kiri-kanan jalan menyambut meriah padahal kami-kami juga yang melintas. Apalagi anak-anak kecil. Mereka selalu menyambut gema takbir yang kami siarkan lewat pengeras suara. Semua gembira. Mungkin Tuhan pun tersenyum malam itu.

Pawai takbir berlangsung aman sampai berakhir. Pas turun dari bus, semua yang ada di bus salam-salaman. Semua saling meminta dan memberikan maaf dengan ringan. Tak lupa menyampaikan undangan untuk silaturrahmi ke rumah masing-masing esoknya, usai salat Ied. Malam itu semuanya terasa indah. Badan memang capek, tapi ia dikalahkan oleh semangat kebersamaan yang tak sengaja tercipta malam itu.

Peristiwa itu sudah berlalu belasan tahun lalu. Tapi yang jelas, malam itu tak akan pernah aku lupakan. Itu adalah salah satu pengalaman terdahsyat dalam hidupku. Seorang anak Kristen terselip di dalam rombongan warga Muslim dalam suatu kesempatan yang sangat istimewa. Entah itu dibenarkan atau tidak aku tidak perduli.

Pengalaman malam itu membuat aku lebih toleran kepada pemeluk agama lain di luar keyakinan yang aku anut.

Tadi adalah hari terakhir aku bekerja. Besok (Jumat) kami sudah libur. Besok, saudara-saudara kita Muslim yang Muhammadiyah sudah merayakan Hari Raya. Dan pemerintah sudah mengumumkan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1428 Hijriah pada Sabtu (13/10). Mungkin, kami tidak ada bertemu kembali sampai pada hari yang fitrah itu. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk bersalam-salaman. Meminta dan memberi maaf satu sama lain dengan ringan. Seketika keindahan termanifestasikan di ruang kerja kami itu. Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Laailahaillallahu Allahu Akbar….  Allahu Akbar walillahilhamid….

Barusan tadi, gema takbir mengumandang dari sepasang speaker kecil yang ada di komputerku sebelum aku pulang. Aku teringat kembali saat takbiran di Aceh Timur itu.

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Laailahaillallahu Allahu Akbar…. Allahu Akbar walillahilhamid….

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 Hijriah. Mohon Maaf Lahir dan Batin

 

One thought on “Bocah Kristen di Tengah Gema Takbir

  1. ceritanya indah sekali. kalau sekarang, apakah hal itu masih memungkinkan untuk dilakukan ya? seringkali orang begitu terkotak dalam agamanya.

    suatu kali seorang temanku mengatakan, “agama itu jahat ya! orang aja dibunuh, apalagi cuma anjing.” menyedihkan memang …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s