Vespa Mogok di Jalan…

Hampir dua tahun sudah si Ijo – dulu sempat dijuluki si biru – terduduk di koridor sempit rumahku. Si Ijo, adalah sebuah skuter bermerk Vespa keluaran tahun 1981. Vespa itu sudah kami pake sejak dibeli baru pada tahun 1981. Pertama kali dibeli, ia masih berwarna cokelat tua.

Setelah berpindah tangan, sebelumnya dipakai ayahku dan lalu tanteku – aku mulai rutin mengendarainya sejak kuliah semester dua, ketika itu tahun 1994 – Vespa itu sudah dua kali berubah warna. Yang pertama, kombinasi warna blue metallic dan gold metallic. Terakhir kali - sekitar 6 tahun lalu - Vespa itu berganti warna menjadi ijo. Tepatnya ijo telur asin. Temenku, si Adek, tukang catnya mengoplos warna itu dari cat keluaran Danagloss dari Dana Paint. Inspirasi warna itu aku dapatkan dari majalah VW Trend.

Si Ijo mulai tergusur sejak aku beli motor Suzuki TS125 yang tipe trail itu. Dibilang tergusur juga sebenarnya tidak. Karena saat itu si Ijo sesekali masih dipake. Ya kalau ngga aku, si Rudy adekku. Tapi, karena repot mengeluar-masukkannya, akhirnya ia diletakkan di koridor rumah. Sejak itu ia hampir tidak pernah dikeluarkan lagi. Berdebu. Ban kempis. Paling kalau sedang mencuci motor lainnya, si Ijo aku sambi dilap. At least, debu yang menempel bisa berkurang.

Sekitar sebulan lalu, si Ijo aku keluarkan dari pengasingannya. Rencananya, Vespa itu mau dibenahi ulang. Paling tidak bisa digunakan untuk perjalanan yang tak terlalu jauh dari rumahku. Mengingat dan menimbang surat-surat Vespa itu entah sudah ke mana. Ssstttt… plat nomornya juga udah palsu. Sudah yang ketiga kali malah. Itu berarti sudah lebih dari 10 tahun. Makanya, buat apa ambil risiko, terkena razia polisi misalnya.

Si Ijo lalu dicuci bersih. Tangkinya dikosongkan. Busi dibersihkan. Hanya dengan sedikit menggeser posisi platinanya (pengapian), mesin si Ijo langsung mau hidup. Cuma, hidupnya tak bisa lama. Itu artinya, sudah terjadi penyumbatan karena bensin yang sudah 2 tahun di tangki itu sudah basi dan menyumbat kran minyaknya. Kalau sudah begini, aku malas untuk mengerjakannya sendiri. Mending diserahkan kepada mekaniknya.

Besoknya, si Ijo sudah hidup kembali. Pak Jan, seorang mekanik tua yang sudah puluhan tahun mengotak-atik Vespa hanya menguras tangki minyaknya. Plus menyetel ulang posisi platina, si Ijo kembali meraung. Sorenya, si Ijo sudah bisa aku bawa keliling-keliling. Malah sempat singgah di warkop dan akhirnya nongkrong di Omerta, café punya si Philips di kompleks Asia Mega Mas. Sialnya, malam itu pengapiannya kembali mengulah. Aku yakin platina dan kondensernya memang sudah tidak beres. Ia kembali nongkrong.

Hampir sebulan setelahnya, tepatnya Selasa kemarin, si Ijo kembali kubawa ke Pak Jan. dengan sigap, si bapak yang bertubuh kecil dan berambut agak keriting itu lalu mengganti platina dan kondesernya. Aku juga minta dia mengganti oli di girboksnya. Gila, sudah lebih dari 2 tahun oli itu mengendap di sana. Pasti viskositasnya sudah ngga bener.

Nah, habis dari Pak Jan, si Ijo aku cobain keliling di dekat rumah. Awalnya sih lancar-lancar aja. Cuma, pas di jalan pulang – hampir dekat rumah – tarikannya mulai mbrebet. Pasti ada yang ngga benar dengan pengapiannya, pikirku. Tapi aku cuek, si Ijo aku pake ngantor. Konsekwensinya, sepanjang perjalanan mesinnya meledak-ledak. Gilanya, pulang dari kantor aku gak langsung pulang karena bela-belain ke warkop lagi. Secara perut sudah kelaparan, teman-teman juga sudah menunggu di sana. Lagi-lagi, di perjalanan mesinnya batuk-batuk. Tapi si Ijo kugeber terus. Kayaknya kecepatannya hampir menembus angka 100/kmh.

Bosan nongkrong, kami pun pulang. Kali ini dia benar-benar “kesal” kayaknya. Menghidupkan mesinnya saja sudah susah betul. Berkali-kali aku engkol (selah), mesinnya tak hidup. Akhirnya kami coba dorong. Mesin hidup. Aku langsung aja geber, maksudnya biar cepat sampai di rumah.

Eh, mesin yang tadi batuk-batuk, akhirnya betulan mati di separuh perjalanan. Tepatnya di Jalan Halat, mesin Ijo benar-benar padam. Kalau diengkol ia mau hidup. Tapi waktu mau dibawa jalan, mesin langsung mati. Terus aku coba ganti busi. Platinanya juga sempat aku stel dikit. Spekulasi, siapa tau malah nemu titik yang pas. Alih-alih hidup, mesin Ijo makin nembak. Dan ini berarti kondensernya yang “tewas”

Benar saja, saat lepas tali klos setelah masuk gigi satu, mesin langsung tewas. Feeling sih itu udah gak ketolong lagi. Tak ada jalan lain, Ijo mesti ditarik. Cuma, karena sudah hampir lewat jam 3.00 pagi, becak motor hampir tak ada yang lewat. Mau menghubungi Chalid atau Fahmi sudah tidak mungkin, pasti mereka sudah terlalu jauh. Fahmi malah mungkin sudah sampai di rumahnya.

Waktu udah niat mau mendorong saja, tiba-tiba hapeku bunyi. Satu sms masuk. Eh, ternyata si Butet yang sms.

“Abang di mana?”
“Mogok Vespaku jln pulang dari Kumis (warkop). Platina nya kayaknya.”

Aku pikir mungkin si Butet sudah pulang dan mau nanyakan sesuatu soal si Chalid. Soalnyam si Amir – nama Vespa si Butet – teronggok di kantor Chalid karena masalah yang kurang lebih serupa dengan si Ijo.

“Kenapa bang?” Eh, tiba-tiba si Butet sudah di sampingku aja pake mobil merah. Dia berdua abangnya. Katanya habis anterin teman abangnya tak jauh dari tempat aku sedang kepayahan. Eh, taunya mereka tadi sudah melewati aku. Dia udah liat sih sebenarnya ada laki-laki pengendara Vespa yang mogok di pagi jam segitu. Sangat tak pantas! Tapi berhubung karena VESPA, katanya dia meliat juga. Entah gimana, pas balik lagi dia lagi-lagi ngeliat ke aku sambil kirim sms tadi. Akhirnya dia ngeh kalau yang mogok itu adalah aku.Karena tak ada cara lain, akhirnya dua kakak-beradik itu menarik aku sampai ke rumah. Kaca pintu mobil sebelah kiri lalu diturunkan dan aku berpegangan di pilar pintunya.

Mobil merambat pelan. Sambil jalan kami ngobrol dan tertawa-tawa. Dia juga cerita, kemarin mereka juga sempat mendorong si Amir karena mogok di jalan.

Syukur juga sih secara gak sengaja ketemu mereka di jalan. At least kakiku gak mesti bengkak karena mesti mendorong Vespa yang sudah berkali-kali lipat beratnya karena modifikasi bodi di sana-sini. Belum lagi andil dempul untuk lebih membentuk plat besi tebalnya.

Sekitar 10 menit, kami sampai juga di rumah. Butet dan abangnya langsung pulang. Wah, aku berhutang budi sama mereka.

Rabu siang, si Ijo kubawa kembali ke Pak Jan. Benar saja, stelan platinanya memang udah tidak benar. Pak Jan sudah membereskannya dan menambahkan satu kondensor lagi. Tadi, waktu aku coba udah gak mberebet lagi. Tapi aku gak mau ambil risiko mesti mendorong lagi. Besoklah aku coba lagi. Mudah-mudahan sudah gak ada masalah. Seumur-umur mengendarai si Ijo, baru kali itulah aku “dikerjain” sama dia. Sebelum-sebelumnya gak pernah alamin yang separah itu. Paling putus tali klos atau gigi. Cuma seringkali tak jauh dari bengkel, jadi gak mesti capek mendorong. Pernah juga bocor ban, itupun untungnya tak jauh dari tukang tambal. Nah, Rabu subuh itu dia “ngulah”, memang jauh dari rumah dan bengkel, tapi untungnya pertolongan tak jauh dari aku dan dia.

Vespa mogok di jalan… turun pula hujan… hahahaha…

4 thoughts on “Vespa Mogok di Jalan…

  1. awak juga sering liat vespa abang ini di jalan bakti, awak orang sukarame juga bang, awak juga pake sprint lampu bulat thn 76 bangong, kapan2 kita ngumpul ya bang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s