Demonstran Ditembaki, 1 Wartawan Jepang Tewas

1447768549_88a385f985.jpg

“Para tentara menerobos pintu gerbang vihara sambil merusak gembok dan memaksa masuk ke dalam. Mereka membanting pintu, menghancurkan jendela dan perabotan lainnya. Ketika para bhiksu mencoba bertahan, mereka melepaskan tembakan dan menggunakan gas air mata sambil memukuli dan menyeret mereka ke dalam truk,” ujar seorang bhiksu kepada Associated Press, Kamis.


Si bhiksu di vihara Ngwe Kyar Yan itu lalu menunjukkan bercak darah di lantai. Sejumlah selongsong, kaca pintu yang pecah bertaburan berlumur darah di lantai vihara.

Ceritanya mengalir. Mulutnya dengan lancar – sesekali bergetar – lalu menuturkan sejumlah teman-temannya dipukuli dan sedikitnya 100 dari 150 bhiksu diculik dengan mengendarai kendaraan. Suara tembakan menggema di udara.

Di sudut jalanan lain, masih di Kota Yangon, Kenji Nagai (50 tahun) sedang menjalankan tugas jurnalistiknya. Ia adalah fotografer dan sekaligus juru kamera kantor berita APF News, Jepang. Nagai berada di Yangon untuk peliputan aksi yang dimulai sejak 19 Agustus lalu itu. Tidak jelas, ia sudah berapa lama di Myanmar.

Kamis itu, Nagai sedang sial. Ia terjebak dalam pembubaran paksa yang dilakukan militer. Dada Nagai tertembak. Ia jatuh dan lalu ditembak mati oleh seorang tentara. Seorang wartawan televisi Jepang lainnya bersaksi melihat peristiwa itu. Ia lalu mempostingkan sebuah foto pada website nya. Di situ terlihat seorang pria – diyakini sebagai Nagai – terbaring di tanah. Terluka. Namun ia masih memegang kamera videonya. Di depannya, seorang tentara bersendal jepit menodongkan senjatanya. Nagaipun tewas.

2007_09_27t113410_450x311_us_myanmar.jpg

Berita duka itu sudah diterima Kedubes Jepang di Yangon yang disampaikan oleh Badan Kementerian Luar Negeri Myanmar. Nagai menjadi korban warga asing pertama dalam “kerusuhan” di Myanmar.

Pada Kamis situasi di Yangon tegang. Aksi para bhiksu dan warga sipil terus berlanjut. Tentara Myanmar melepaskan tembakan ke kerumunan pemrotes anti-pemerintah di saat puluhan ribu orang menentang pemerintah junta militer.

Ketegangan ini terjadi sehari setelah pemerintah setempat meluncurkan aksi pembubaran di Yangon yang disebutkan telah menewaskan sedikitnya satu orang. Para pemberontak di luar Myanmar melaporkan telah menerima berita korban yang tewas mencapai delapan orang pada Rabu.

Sejumlah laporan lainnya menyebutkan mereka yang tewas adalah para bhiksu Buddha yang banyak tersebar di Myanmar dan insiden ini menyulut kemarahan publik terhadap rezim pemerintah dan menimbulkan aksi kerusuhan.

Sebagai bagian dari kerusuhan tersebut, sejumlah vihara digerebek pasukan pro-junta. Ratusan bhiksu dianiaya dan mereka lalu digelandang.

Di negeri itu, para bhiksu merupakan ujung tombak tantangan terbesar bagi pemerintah militer di negara Asia Tenggara ini sejak 1988. Dalam krisis tersebut, sejumlah tentara melepaskan tembakan ke arah kerumunan demonstran yang menewaskan 3.000 orang.

“Berikan kami kebebasan!”

“Berikan kami kebebasan!”

“Berikan kami kebebasan!”

Teriakan seperti itu terdengar di sejumlah bagian di Yangon. Teriakan itu dilemparkan ke arah para tentara. Ribuan orang turun ke jalanan setelah tembakan peringatan dilepaskan ke arah kerumunan yang berjumlah sekitar 70.000.

Para saksi mata mengungkapkan lima pria ditahan dan dipukuli setelah tentara menembaki kerumunan dekat sebuah jembatan di seberang Sungai Pazundaung di timur Kota Yangon. Tembakan dilepaskan setelah ribuan pemrotes yang berada di barat sungai tersebut mengacuhkan perintah untuk bubar. Sejumlah sandal berlumuran darah tertinggal di jalanan.

Krisis ini dimulai pada 19 Agustus yang merupakan tantangan terberat bagi para jenderal selama dua dasawarsa. Aksi di negeri itu dipicu oleh kenaikan harga BBM akibat dikuranginya subsidi oleh pemerintahan junta. Naiknya harga BBM membuat harga-harga barang kebutuhan naik hampir lima kali lipat. Inilah penyebab aksi. Tak jauh beda dengan Jakarta pada Mei 1998.

“Kerusuhan” itu lalu memicu tekanan internasional terhadap rezim junta, khususnya dari RRC. “RRC berharap semua pihak di Myanmar mampu mengendalikan diri dan menangani masalah mereka guna memastikan situasi yang aman dan tidak menimbulkan konflik,” ujar jurubicara Kementerian Luar Negeri Jiang Yu, Kamis.

Para diplomat Uni Eropa sepakat untuk mempertimbangkan pemberlakuan sanksi ekonomi terhadap Myanmar. Sanksi semacam ini pernah diterapkan pada 1996 dan termasuk juga larangan mengadakan perjalanan ke Eropa bagi para pejabat tinggi Myanmar, pembekuan sejumlah asset dan pelarangan penjualan senjata kepada Myanmar.

AS menyerukan para pemimpin militer Myanmar untuk membuka dialog dengan para pemrotes dan mendesak RRC untuk melakukan apa yang bisa dilakukan dalam mencegah terjadinya pertumpahan darah lebih lanjut.

“Kami semua perlu menyepakati adanya fakta bahwa pemerintah Myanmar harus berhenti memikirkan bahwa ini bisa diatasi polisi dan militer dan mulai memikirkan seputar perlunya rekonsiliasi dengan spektrum luas dari para aktivis politik di negara itu,” jelas Asisten Menlu AS Christopher Hill di Beijing.

Sekjen PBB Ban Ki-moon yang tengah mengutus perwakilan khusus ke daerah ini mendesak pihak junta “untuk bisa mengendalikan diri dalam menangani demonstrasi damai itu karena dengan hal itu dapat mengarah ke hal perdamaian, kesejahteraan dan kestabilan di Myanmar.”

Suratkabar yang dikelola pemerintah Myanmar menuding adanya pihak-pihak dari luar dan dalam negara ini yang “mengompori” aksi protes di Yangon. Menurut mereka, demonstrasi tersebut sebenarnya dalam skala kecil, namun dibesar-besarkan media.

“Para pelaku sabotase dari dalam dan luar negara ini dan juga beberapa stasiun radio asing yang iri dengan perdamaian dan pembangunan negara ini sudah melakukan tindakan penghasutan yang menyebabkan ketidakstabilan internal dan keributan sipil,” tulis The New Light of Myanmar, media corong pemerintah.

Pasukan keamanan juga telah menahan Myint Thein, jurubicara pemimpin oposisi partai politik pimpinan Aung San Suu Kyi, sebut anggota keluarganya.

Gambaran dramatis aksi protes Rabu lalu disebarluaskan para penentang dengan menggunakan ponsel mereka dan melalui internet sehingga memicu perhatian dan keprihatinan dunia guna.

Persatuan Myanmar juga dikenal dengan Burma adalah sebuah negara di Asia Tenggara. Negara seluas 680 km². Negara ini diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun 1988. Negara berkembang ini memiliki populasi sekitar 43 juta jiwa. Ibukota negara ini sebelumnya terletak di Yangon sebelum dipindahkan oleh pemerintahan junta militer ke Pyinmana pada 7 November 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s