Diselamatkan “Malaikat Berpakaian Kuning”

Robert Borland sedang terkurung api dan tersiram bahan bakar pesawat ketika dia ditarik dari puing pesawat yang meledak hebat di Phuket, Minggu (16/9). Seorang “Malaikat Berpakaian Kuning” menyelamatkannya dari maut.

Dari tempat tidurnya di rumah sakit Phuket, Borland yang kini dirawat karena patah lengan dan luka bakar di paha dan punggung, menuturkan perjuangan hidup-matinya itu kepada The Age.

“Malaikat Berpakaian Kuning” yang dimaksudkan Borland adalah seorang penumpang warga Thai. “Pria Thai dengan t-shirt kuning itu menarikku keluar ke arah sayap pesawat. Dia seperti malaikat bagiku,” katanya.

Pria 48 tahun yang berasal dari Skotlandia dan besar di Perth itu telah tinggal dan bekerja di Thailand selama 12 tahun. Ia juga lolos dari maut tsunami pada 2004. Pada Minggu kelabu itu ia kembali ke Phuket setelah melakukan perjalanan ke Bangkok dan Singapura. “Sangat susah untuk menjelaskan betapa beruntungnya aku,” tambahnya.

Meskipun ia kesakitan hebat karena lengan kirinya patah, punggung terluka dan paha terbakar, Borland yang duduk di bangku 24F mencoba membuka pintu darurat yang berada di dekatnya. “Aku membukanya. Ternyata api sudah berkobar di luar. Aku menutupnya kembali dan terjatuh ke lantai pesawat,” katanya.

Ia merangkak ke sisi lainnya dengan celana terbakar. Api sudah berkobar.

Borland berhasil mencapai pintu darurat lainnya, tapi tidak mampu mengangkat tubuhnya untuk ke luar. Saat itulah “Sang Malaikat Berbaju Kuning” itu menariknya. Ia terpeleset dan jatuh ke tanah dan akhirnya diselamatkan petugas pemadam kebakaran.

Lolos dari maut juga dialami penumpang pesawat OG 269 maskapai One-Two-Go lainnya. Chatree Suksawas (26 tahun), adalah penduduk asli daerah Phang Nga. Ia bersama kekasihnya lolos dari maut karena tetap tenang dan berpikiran jernih.

Bersama kekasihnya warga Kanada, saat itu Chatree berniat mengunjungi keluarganya untuk mengenalkan kekasihnya. Chatree mengisahkan tidak ada peringatan dari pilot saat insiden itu terjadi. Sang pilot mungkin ingin menenangkan penumpang, pikirnya. Namun pikirannya berubah ketika ia mengintip dari jendela pesawat. Di luar, hujan sedang lebat dan angin sangat kencang.

Pesawat penerbangan hemat itu tiba-tiba menukik dan memacu kecepatan. Chatree merasa badan pesawat menyentuh tanah, lalu memantul, sebelum akhirnya meluncur ke kiri dan menabrak dinding yang mengoyakkan sayap pesawat.

“Saya melihat api berkobar di bagian depan pesawat. Saya melepas sabuk pengaman saya dan kekasih saya. Kami lalu menuju pintu darurat di bagian tengah, lalu menendangnya sehingga terbuka dan kami pun keluar. Ketika menoleh ke belakang, saya melihat pesawat terbakar. Meski kami berhasil lolos, namun kami masih bisa membayangkan seberapa besar duka dan rasa kehilangan akibat insiden ini,” tutur pria bertatto banyak ini.

Chatree dan kekasihnya Mildred Anne Furlon (23), menderita luka ringan.

Mildred Anne Furlong awalnya mengira akan menghabiskan liburannya bersama Chatree dengan berjemur di pantai Phuket. Namun takdir berkehendak lain.

Saat berusaha meloloskan diri dari maut, Furlong melihat seorang penumpang terbakar. Tak jauh darinya, seorang penumpang lainnya memerah karena darah. “Tidak lama pesawat terhempas, semuanya gelap dan benda-benda berjatuhan,” ujar Furlong. “Ketika itu saya pusing dan sepertinya akan pingsan,” tuturnya di rumah sakit Phuket Bangkok.

Saat itu kabin sudah pengap karena asap. Dengan terbatuk-batuk, Furlong dan Chatree memanjat keluar melalui jendela yang rusak. Mereka naik ke sayap pesawat. Akhirnya, ia dan penumpang lainnya berhasil keluar. Chatree sempat membantu dua wanita keluar dari pesawat melalui pintu darurat yang telah didobrak. Namun ia sedih karena tak bisa menyelamatkan seorang pria yang dilalap api.

Furlong adalah seorang pelayan dari Prince George, British Columbia. Chatree adalah artis tatto berusia 26 tahun. Keduanya bersyukur karena masih selamat dan bisa bertemu orang tuanya.

Kisah lain dituturkan Marcel Squinobal. Ia adalah seorang pemilik restauran berusia 33 tahun asal Vorarlberg Bregenz Austria. Squinobal ke Phuket untuk berlibur. “Ketika mendarat, pesawat memantul dan tak terkendali. Tidak ada peringatan atau instruksi evakuasi dari kokpit atau pun awak pesawat. Tiba-tiba pesawat sudah terbakar,” katanya di rumah sakit.

Sedangkan John Gerard O’Donnel asal Irlandia menuturkan, seketika pesawat mendarat, ia mengetahui telah telah terjadi masalah. “Sebab pesawat sepertinya hendak mendarat lalu berusaha naik kembali untuk kedua kalinya,” papar John. Setelah pesawat terhatuh, John keluar dari bagian sayap melalui pintu darurat yang sudah rusak.

“Saya melihat teman saya di luar. Ia telah keluar lebih dahulu. Kemudian, api melahap pesawat sehingga wajah, kaki dan tangan saya terbakar,” katanya sambil tertunduk.

Data terakhir menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 89 orang dan 41 orang dinyatakan selamat. Turut menjadi korban, Kapten Pilot Arief Mulyadi (56 tahun). Jenazah mantan pilot Sempati Air dan Star Air, maskapai penerbangan Indonesia yang sudah berhenti beroperasi. Jenazah Arief dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno Hatta, Selasa pagi. THE AGE-AP-THE NATION-BANGKOK POST-GLOB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s