My Red Jeep

red-killer.jpg

Dalam berbagai hal aku tidak pernah terlalu menaruh hormat pada Amerika. Apalagi jika terkait kebijakan politik luar negeri mereka yang sering kali menerapkan standar ganda, terutama dalam menghadapi persoalan Timur Tengah.

Tapi ada 2 hal dari Amerika yang sampai kapanpun pasti bisa membuat aku berdecak kagum. Keduanya juga sudah sejak lama diimpikan: Harley Davidson dan JEEP. Yang pertama adalah merk sepeda motor dan yang kedua adalah merk mobil. Persamaan keduanya: produk legendaris.

Persamaan lainnya: keduanya sudah aku impikan sejak lama. Kalau tidak salah ingat, mungkin, saat masih duduk di bangku sekolah dasar! Bayangin, anak yang masih mengenakan seragam putih-hijau – aku sekolah di SD swasta Katolik dan memiliki seragam berwarna itu dengan potongan mirip kelasi kapal laut seperti seragam Popeye – sudah membayangkan kepingan kecil American Dream yang juga menjadi impian jutaan pria dewasa itu!

Seingatku, saat duduk di bangku kelas 3 SD aku sudah mulai mencoret-coret buku tulisku dengan gambar Harley Davidson dan Jeep Willys. Aku lupa kenapa saat itu aku tergila-gila pada keduanya. Tapi yang aku ingat, lembar-lembar buku tulisku tidak pernah lolos dari gambaran (kasar) Harley Davidson dan Jeep Willys.

Dulu, saat serial Renegade masih diputar di salah satu stasiun televisi swasta, sedapat mungkin aku melek di depan televisi. Personifikasi seorang Reno Raines yang diperankan Lorenzo Lamas memang gagah betul! Rambut gondrong, badan menjulang dan atletis plus Harley Davidson Heritage Softail yang dicat airbrush bermotif lidah api itu selalu menjadi bunga tidurku. Serial itu selalu kutonton dengan serius. Detail Harley Davidson yang ditunggangi Raines selalu kupelototin. Karena masa itu internet belum seperti sekarang aku lalu berlangganan tabloid Otomotif. Kalau ada artikel mengenai Harley Davidson pasti aku gunting dan dikliping. Pikirku, suatu saat kalau sudah punya satu Harley Davidson kliping itu bisa menjadi panduan.

Ngetopnya Renegade itu juga disambut produsen jeans bermerk Lea. Pesaing Levi’s itu pernah membuat program undian berhadiah 1 unit Heritage Softail. Gara-gara itu aku ikut-ikutan beli celana Lea yang harganya lumayan untuk kantong mahasiswa seperti aku. Tapi sayang, aku belum beruntung menjadi pemenang.

Satu, dua, tiga… sampai akhirnya tak terasa sudah ratusan artikel dan foto Harley Davidson aku kumpulkan. Kayaknya kliping itu masih tersimpan rapi di lemariku. Suatu kali, kalau gak salah kisaran tahun 90 an, tanteku menghadiahkan 2 t-shirt hitam bersablon Harley Davidson. Kaos itu asli merchandise Harley Davidson dengan sisi samping tanpa jahitan. Tentu saja aku kegirangan. Bayangin aja bagaimana perasaanku pake kaos itu. Harley Davidson gitu lho!

Waktu berputar. Internet pun mulai dikenal. Kalau tidak salah, waktu itu sekitar tahun 96. Sejak itu, website apa saja mengenai Harley Davidson menjadi tujuan pertamaku untuk diakses. Hasilnya, setiap kali pulang dari warnet (sebenarnya sekedar fasilitas kampus) yang ada di perpustakaan USU aku selalu membawa pulang foto-foto motor itu di dalam disket. Bayangin aja, butuh berapa banyak disket untuk menyimpan foto-foto itu. Waktu itu belum ada flashdisc. Boro-boro, CD RW aja juga belum ada kalau aku gak salah.

Terus, sekitar tahun 2001 seorang teman menghadiahkan sebuah buku berjudul History of American Motorcycle dari Australia. Buku itu lumayan tebal, tiap lembarannya memuat gambar-gambar sepedamotor buatan Amerika yang pernah ada. Termasuk Harley Davidson tentunya. Hadiah itu tentu saja tak pernah bisa aku lupakan.

Kini, bertahun-tahun berlalu, Harley Davidson masih tetap menjadi impian. Gila, mesti kumpulin duit sampai berapa tahun agar motor itu bisa terbeli. Tapi suatu kali aku beruntung dapat kesempatan memotret sebuah showroom mobil mewah di Medan. Kebetulan, showroom itu juga menjual beberapa unit Harley Davidson. Kalian pasti bisa menebak apa yang duluan aku jepret.

Meski sudah tidak menggebu-gebu seperti dulu, impian punya Harley itu masih aku simpan. Entahlah, suatu saat nanti aku mesti bisa punya. Gak peduli buatan tahun berapa dan tipe apa. Yang penting Harley bung!

Lain Harley lain pula Jeep. Kalau Harley Davidson masih belum punya, jip legendaris Amerika dari keluarga Jeep sudah berhasil aku tunggangi. Dari varian CJ7 yang terkenal di seantero dunia itu pula!

Dapatnya juga tidak sengaja. Sebetulnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya untuk beli mobil itu. Dulu aku mikirnya, harganya pasti gak murah. Belum lagi perawatan bulanannya. Maklum aja, merawat mobil keluaran tahun 81 pasti hampir serupa susahnya dengan merawat balita.

Tapi karena penawaran harganya sangat lumayan, aku tergoda juga. Meski harus merelakan sepeda motor trail Suzuki TS ku dilego untuk menebus CJ7 merah itu. Sebelumnya aku pernah memakai mobil itu waktu Philips – temenku mantan pemiliknya – meninggalkannya di rumahku. Mungkin sejak itu kami – aku dan si CJ7 merah – menjadi berjodoh.

Sudah hampir dua bulan belakangan si Merah mengantarkanku ke mana saja di kota ini. Dan apa yang aku khawatirkan kemarin memang benar. Jajanan mobil itu memang gila, meski belum gila-gilaan. Ganti ini itu – meski pada tampilan akhirnya tidak kelihatan – sudah menghabiskan dana lumayan. Padahal masih banyak parts yang sudah aus dan mesti diganti agar nyaman ditunggangi. Seperti misalnya shockbreaker, leaf spring, ball joint, tie rod, break system, dll. Tapi kayaknya semua itu mustahil diganti sekaligus. Duit dari mana coba?

Ya sekarang dibela-belainlah pake dengan kondisi seadanya. Masih untung, dia gak pernah mogok lagi setelah dinamo startnya diservis dan aki nya diganti baru. Sekarang, startnya udah eces. Nah, kalau mau tau modelnya liat aja foto di atas. Warnanya persis sama, tapi kilapnya beda euy!

Terus, yang lain-lain itu mudah-mudahan bisa segera diganti. Sekalian juga dicat ulang warnanya yang udah bulukan itu. Biar sedap dipandang. Mau numpang? Yuuuukkkk…

3 thoughts on “My Red Jeep

  1. Impianku tentang American Dream masih sederhana: menegak Jack Daniel sampai semua yang kulihat tampak seperti berjoget… Belum sampai “makin’ love in the car” atau sejenisnya, seperti di novel “The Great Gastby” itu….

    Hehehe…

    Lalu, mendengarkan musik Led Zeppelin… Atau pinjam Gibson Les Paul-nya Slash atau Jimmy Page… Gila ya… Da mati duluan Jimmy Page-nya…

    Gapapaplah…

  2. Tonggo yang baik, kalau cuma menenggak Jack Daniel’s gak usah susah-susah. Kapan ada waktumu, kontaklah aku. Mari kita habiskan malam bersama sambil menenggak tuak dari Tennesse itu. Udah, aku yang traktirin kau lah. Biar kau liat dulu orang-orang serasa berjoget di depan matamu. Tapi siap-siaplah menjadi sedikit berangasan saat 3/4 dari isi botol itu udah mulai habis. Hahahahaha…

  3. Aku punya cerita:

    Ada sesuatu yang harus dihindari jika terjadi konser berurutan: Aerosmith dan Guns N’ Roses.

    Steven Tyler pasti lupa pulang (kalau pulang, pasti sudah kacau duluan) jika bertemu dengan Slash. Soalnya, mereka sama-sama penggila Jack Daniel’s. Jadi, untuk menghindari keduanya agar jangan bertemu di backtage yang sama, sang manager Aeorosmith selalu segera menyuruh para crew untuk berkemas pulang, beberapa saat sebelum Guns N’ Roses tiba.

    “Ayo, segera kemasi semuanya. Sebelum Slash si gila itu datang,” begitu kata sang manajer.

    Soalnya, seperti kata majalah yang pernah aku baca entah di mana, aku da lupa, “suntikan” Slash sangatlah jitu kalau bertemu Steven. Dan setiap suntikan Slash selalu tak pernah ditolak bapak si Liv Tyler itu.

    Kalau keduanya bertemu, tak jarang satu di antaranya akan tumbang dan meminta pulang. Dan biasanya memang selalu Slash yang menang.

    Inilah yang ditakuti sang manajer. Kalau si Steven teler, konser berikutnya akan kacau! Bisa berabe, kata orang Jakarte.

    Slash sendiri memang gila. Bayangkan, selama 2 tahun lebih, dia pernah menjadikan Jack Daniel’s minuman rutin setiap hari. Paling tidak satu botol atau lebih setiap hari. Karena itulah lidahnya membusuk, karena ditambah dengan kecanduannya merokok. Tak jarang pula dalam setiap konser, ia pingsan, tumbang tak karuan. Pokoknya tak jarang konser konser Guns N’ Roses jadi berabe…

    Btw: Check dulu general setting blog abang itu, soalnya ga semua bisa kasih komen…Blog wordpress mesti log ini dulu, sedang yang lain ga bisa… chek lah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s