Sial… Sial… Sial…

Pernah merasa kekesalan yang amat sangat karena pekerjaan? Bagaimana rasanya? Aku menggaransi pasti sangat tidak enak! Bayangkan, sebuah pekerjaan yang sudah kau persiapkan betul, mulai dari hal-hal makro sampai ke detail-detailnya. Pekerjaan itu sudah anggap beres, karena sebelumnya kau merasa tidak ada yang tidak beres. Semua berjalan, bahkan hampir sempurna! Sampai pada akhirnya kalau kau baru menyadari bahwa kau sudah melakukan kesalahan, sangat fatal malah!

Aku baru merasakannya. Duarrr… kepala terasa seperti dihantam ribuan godam. Urat-urat saraf di leher belakang terasa berdenyut puluhan kali lebih cepat. Akibatnya, leher bagian belakang terasa menegang, kepala pun pening. Bahkan, sudah hampir 4 jam berlalu masih saja terasa.

Bagaimana ceritanya?

Pagi-pagi tadi, sekitar pukul 09.00 aku sudah tiba di Pengadilan Negeri Medan bersama seorang teman fotografer dari sebuah kantor berita asing. Saat kami tiba, bangunan kantor yang sudah ada sejak zaman Belanda itu masih sepi. Maklum, bulan puasa. Lagipula, biasanya sidang baru ada mulai pukul 11.00.

Kami datang cepat karena takut kalau-kalau sidang pertama kasus narkoba warga negara Australia, Graham Clifford Payne, 21 tahun, yang ditangkap polisi 20 Agustus lalu tepat waktu, atau mungkin dipercepat.

Kasus ini benar-benar menarik perhatian media massa, bahkan dari Australia. Dua orang wartawan asing asal Australia, siang tadi terlihat mengikuti persidangan. Wartawan lokal, jangan ditanya jumlahnya. Semua siap dengan peralatan masing-masing. Apalagi para fotografer, wow… hampir semua melengkapi diri dengan lensa-lensa yang tele yang jamak terlihat saat liputan pertandingan sepak bola. Ruang PN Medan seolah menjadi ajang pamer kamera dan lensa.

Sidang pertama ini memang sudah ditunggu sejak lama.

Beberapa saat sebelum pukul 12.00, si bule Australia yang sudah ditunggu-tunggu masuk melalui pintu belakang gedung PN. Dia menumpang bus tahanan dari Rumah Tahanan Tanjung Gusta Medan. Sejak dipindahkan dari tahanan Sat Narkoba Poltabes Medan, Payne indekost di rutan. Melihat kedatangan Payne, sorotan kamera televisi dan puluhan blitz kamera foto lalu mampir di wajahnya. Payne tak ubahnya selebritis dalam tayangan infotaintmen di televisi swasta kita.

Kali ini wajahnya bersih, beda dengan terakhir kali aku melihatnya di Poltabes Medan. Mungkin dia baru saja cukuran. Payne terlihat agak kurusan. Dia mengenakan kemeja lengan panjang putih dan celana panjang hitam. Pria kelahiran Adelaide ini mengenakan sandal. Kakinya dibungkus kaus kaki hitam. Astaga, jempol kakinya menyembul karena kaus kakinya sudah bolong di ujungnya.

Tatapan Payne terlihat kosong. Tubuhnya agak gemetaran. Dia jalan seperti robot dengan kawalan seorang petugas PN Medan.

Jarak dari parkir bus tahanan ke ruang tahanan pria tak jauh. Paling sekitar 20 langkah. Akibatnya, wartawan tidak leluasa mengambil gambarnya. Belum lagi ruang belakang itu memang minim cahaya. Beberapa angle dijamin akan backlight.

Dalam kesempatan pertama mengambil gambar si Payne tadi terus terang aku kurang beruntung. Kamera mini dv yang aku gunakan benar-benar lemah dalam kondisi low light. Wajah Payne hanya berhasil ku framing sekitar 5 detik. Sisanya, hanya tampak dari bagian belakang. Belum lagi saling sikut dan berebut posisi antar sesama wartawan. Tapi sudahlah, toh masih bisa dapat gambar oke saat dia digiring ke ruang sidang.

Benar saja, sekitar 20 menit berselang Payne digiring ke ruang sidang. Melihat dia, sontak puluhan wartawan mengerubunginya dengan kamera masing-masing. Payne cuek, wajah tetap menghadap ke depan, meski matanya silau karena ratusan kali dihantam cahaya blitz. Aku sendiri saat itu berada dalam posisi bagus. Wajah Payne terframing sempurna di kamera videoku, ekspressi nya yang seperti orang putus asa itu aku yakin terekam sempurna. Perjalanan berjarak sekitar 50 meter dari ruang tahanan pria ke ruang sidang utama terekam baik. Sesekali goyang karena bersinggungan dengan wartawan lain malah akan mendramatiskan gambar secara keseluruhan. Kali ini aku benar-benar puas.

Tiba di ruang sidang, Payne langsung didudukkan di kursi pesakitan. Sekitar 15 menit sebelum sidang dimulai wartawan dibebaskan untuk mengambil foto dan gambar Payne. Termasuk aku tentunya. Wajah Payne aku ambil dari berbagai sisi, dengan perpaduan wide angle dan closed up. Dia tetap cuek, pandangannya terus lurus ke depan. Sekilas aku melihat sorot matanya kosong.

Setelah komponen utama persidangan hadir di tempat, sidang lalu dimulai. Kali ini sidang dipimpin Hakim Ketua I Wayang Padang dan Hakim Anggota Kurnia Yani Darmono dan Elita Ras Ginting. Sedangkan Jaksa Penuntut Hukumnya, Hotma Tambunan dan Marpose Simare-mare. Payne didampingi kuasa hukumnya Charley Sitanggang dan Evan Surbakti. Karena tidak mengerti Bahasa Indonesia, dan sialnya hakim kita tidak bisa ngomong Inggris, seorang penerjemah dihadirkan. Sebelumnya, dia diambil sumpahnya di atas Alkitab.

JPU lalu membacakan tuntutannya, berdasarkan penyidikan Payne terbukti membawa 0,1 gr shabu-shabu saat ditangkap polisi dari atas becak di kawasan Ismailiyah Agustus lalu itu. Kata polisi, sudah hampir sepekan sebelumnya mereka membuntuti Payne atas laporan masyarakat yang mengatakan dia pengguna narkoba. Polisi ragu, jangan-jangan dia bandar narkoba juga. Payne lalu dicokok tanpa perlawanan saat itu. Rumahnya juga digeledah, hasilnya ribuan pil obat keras tanpa ijin ditemukan di rumahnya. Obat-obat itu memang bukan narkoba, tapi polisi curiga obat-obatan itu bisa diracik menjadi narkoba golongan III. Setidaknya begitu kata Kapoltabes Medan, Kombes Pol. Irawan Dahlan. Selain itu, polisi juga menemukan sebuah alat suntik bekas pakai dan belakangan setelah diperiksa di laboratorium positif mengandung heroin.

Akibat perbuatannya itu, Graham disandung Undang-undang no 62 pasal 5 tahun 1997 tentang psikotropika (untuk shabu-shabu yang dibawanya) dan UU no 22, pasal 78, tentang narkotika karena juga terbukti mengkonsumsi heroin dari hasil pemeriksaan alat suntik bekas dan urinenya.

Sayangnya Jaksa tidak membacakan kemungkinan ancaman hukuman untuk Payne. Tetapi, merujuk keterangan Kasat Narkoba Kompol Irwan Anwar dua bulan lalu, undang-undang kita mengancam hukuman penjara untuk Payne maksimal 15 tahun. Artinya, dia bisa-bisa merayakan 15 kali ulang tahunnya di penjara Indonesia.

Herannya, kuasa hukum Payne tidak mengajukan keberatan atas tuntutan jaksa itu. Mereka meminta hakim meneruskan sidang dengan mendengarkan keterangan saksi-saksi. Sayangnya, karena tidak dalam agenda sidang pertama, JPU tidak menghadirkan saksi. Sidang lalu ditunda sampai 22 November mendatang. Sampai palu diketokkan hakim sidang berjalan lancar.

Tapi mungkin tidak bagiku. Keluar dari ruang sidang, aku bergegas mengambil gambar tampak depan gedung Pengadilan Negeri Medan yang bertetangga dengan kantor Kodim 02/01 Medan. Ketika itu aku masih belum sadar ada sesuatu yang tidak beres dengan kamera itu.

Sampai akhirnya, sesaat sebelum pulang aku kepingin melihat ulang hasil rekaman tadi, terutama di sesi awal saat kedatangan Payne. Kaset aku putar ulang. Tombol pengatur aku set ke VCR untuk menonton. Tombol play touchscreen di LCD aku tekan untuk playback. Kaset jalan, tapi gambar tidak muncul. Layar LCD blank, hanya berwarna biru. Aku penasaran, sepertinya ada yang tidak beres pikirku. Aku coba tekan tombol forward untuk mempercepat putaran kaset. Setelah aku tekan play, lagi-lagi gambar tidak muncul. Setelah aku coba beberapa kali, akhirnya aku baru sadar dengan ketidak beresan itu. Gambar tetap tidak muncul meski aku coba ganti kaset. Dugaan awal, head unit kamera itu kotor.

Soalnya tadi aku ingat betul kalau lampu tanda recordingnya menyala dan timer di LCD berjalan seperti biasa. Tapi kenapa pita kasetnya tidak berputar saat recording? Aku penasaran, aku coba gunakan kaset lain untuk recording. Tak ada masalah, kaset terekam. Cuma saat playback, muncul garis-garis horizontal di LCD nya. Mungkin headnya betul-betul kotor.

Setelah tersadar kepalaku tiba-tiba pening. Anjing, kerjaan hampir seharian tadi jadi benar-benar gagal. Leher belakangku spontan nyut-nyutan. Ditambah lagi tadi pagi belum sempat sarapan karena berangkat terburu-buru.

Hampir tak ada yang bisa aku lakukan selain mengabarkan berita buruk ini ke Jakarta. Soalnya produser di Jakarta sudah menunggu berita ini. Client-client televisi asing, terutama televisi Australia jauh-jauh hari mungkin sudah menunggu liputan ini. Tapi aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Yang ada tinggal pusing dan kepala yang rasanya berputar-putar tak keruan. Benar-benar sial!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s