The 6th Sense, Tattoo Pertamaku!

The Sixth Sense. Ini bukan judul film yang dibintangi Bruce Willis keluaran tahun 1999 lalu (cek http://www.imdb.com/title/tt0167404/) .

Tapi ini adalah arti dari huruf kanji yang aku jadikan tattoo di salah satu bagian tubuhku Sabtu (23/7) kemarin. Studio tattoo One Die (baca Wandi) di Cihampelas mendapat kesempatan pertama untuk menorehkan tintanya di kulitku yang sebelumnya mulus dari seni rajah ini.


Sebenarnya sudah lama aku pengen membuat tattoo. Selama ini ketakutan akan sakit yang diakibatkan mesin rajah itu membuatku selalu mengurungkan niat. Selain itu, persoalan gambar pilihan menjadi alasan lain. Sekali buat tattoo untuk selamanya dong. Ini yang susah. Masa sih, buat tattoo terus dihapus lagi? Tapi ada juga temanku yang seperti itu. Makanya pemilihan gambar harus hati-hati betul. Jangan sampai salah.

Masalah siapa artis tattoo nya juga menjadi pertimbangan utama. Siapa sih yang rela tubuhnya dijadikan kanvas percobaan artis tattoo amatiran. Setelah tanya sana-sini, akhirnya studio Wandi yang terletak pas di depan pintu masuk Cihampelas Walk (CiWalk) menjadi pilihan. Seorang teman memberikan rekomendasi. Setelah kami cek, ternyata dia tidak salah.

Wandi beberapa kali mendapat penghargaan sebagai artis dan studio tattoo terbaik dalam beberapa festival yang diadakan di Jawa Barat. Beberapa piagam ditempel rapi di dinding studionya yang berukuran sekitar 2,5 x 2 meter itu. Sebuah cermin besar menempel di dinding, dan 2 buah botol infus tergantung di langit-langit ruangan. Wandi menggunakan botol infus itu sebagai tempat penyimpanan air untuk membasuh (jarum) mesin tattoo saat penggantian (warna) tinta. Ada juga sebuah lampu belajar digunakan untuk menambah penerangan saat mengerjakan detil-detil kecil. Belasan botol yang berisi tinta aneka warna tersusun rapi di sebuh rak di atas meja kecil tempat Wandi meletakkan peralatan kerjanya. Secara keseluruhan, studio itu mirip gabungan kedai pangkas dan praktek dokter gigi. Kursi nya itu lho, benar-benar mirip kursi dokter gigi. Bedanya, yang ini tanpa mesin hidrolik.

Di akhir pekan atau hari libur Wandi bisa menato sampai 5 orang. Kalau hari Senin, biasanya sih sepi. Kalaupun ada order, hanya satu dua orang yang sudah janjian sebelumnya. Selain tattoo permanen, Wandi juga mengerjakan tattoo temporer yang bisa bertahan sampai 3 bulanan.

Prosesi tattoo dimulai dengan pemilihan gambar. Si artis memberikan berbagai jenis contoh gambar. Orang yang pengen di tattoo tinggal memilih gambar yang disenanginya. Boleh pilih-pilih, atau kalau perlu modifikasi gambar sesuai keinginan. Seorang ahli sketsa sudah siap sedia. Setelah sepakat dengan gambar yang diinginkan barulah tanya harga jasa pembuatan. Wandi memiliki patokan harga dasar sesuai ukuran tattoo yang dinginkan. Tapi tenang aja, masih bisa negosiasi kok.

Setelah harga disepakati, si artis mulai membuat sketsa dasar dengan menggunakan spidol di bagian tubuh yang akan di tattoo. Sketsa ini berguna sebagai panduan dalam proses penatoan. “Biasanya saya selalu membuat sket sebelum menato. Biar hasilnya lebih bagus,” kata Wandi sambil menggambar sketsa gambar pilihan saya.

Usai menggambar sketsa, Wandi mulai mempersiapkan ritual selanjutnya. Sarung tangan karet, mesin tattoo, tinta, dan tentu saja jarum tattoonya. Biasanya, satu jarum digunakan untuk satu orang sekali pakai. Selesai digunakan jarum dibuang. Tau sendiri, ancaman virus HIV sangat rentan dalam proses ini. Siapa yang gak takut coba?

Saya sempat keder saat Wandi mulai menghidupkan mesin tattoonya. Suaranya seperti suara mesin cukur. Saya membayangkan saat jarum (Wandi biasa menggunakan jarum akupuntur) itu menusuki kulit saya. Pasti sakit.

“Siap?” tanya Wandi sambil meletakkan ujung jarum di sket gambar.

Proses pun dimulai.

“Treeetttt…” suara getaran mesin tattoo.

Tusukan demi tusukan jarum setelah dipoles tinta hijau itu mulai menggores kulit saya. Tidak sakit, seperti gigitan semut. Bedanya, ini dengan kecepatan tinggi. Tapi lama-lama terasa kebas juga. “Biasanya, setelah 2 – 3 jam ketahanan tubuh menurun. Kalau sudah begitu sebaiknya dihentikan dan dilanjutkan setelah istirahat. Tapi itu tergantung orang yang mau ditattoo. Ketahanan seseorang berbeda-beda,” jelas Wandi lagi.

Yang jelas, proses pengerjaan tattoo saya memakan waktu hampir 1 jam. 3 warna digunakan untuk menghias tulisan kanji itu. Hijau tua, hijau muda, dan kuning. Hijau tua menjadi outline tulisan, sedangkan kuning dan hijau muda menjadi warna isiannya.

Wandi juga cerita, bagian tubuh yang agak sakit di tatto seperti bagian dada (tepat di rusuk) dan bagian-bagian tubuh yang berdaging tipis.

Tapi lupakan soal sakit. Seorang maniak tattoo justru bilang proses sakit itulah yang membuat mereka menjadi ketagihan. “Taste the pain,” begitu kata mereka. Mungkin orang yang belum pernah di tattoo mengatakan ini omong kosong. Tapi tidak bagi yang sudah beberapa kali menato tubuhnya.

Usai menato Wandi lalu mengambil foto hasil kerjaannya dengan sebuah kamera digital. “Untuk dokumentasi dan kenang-kenangan Bang,” katanya sambil tertawa.

Kami lalu berfoto bersama. Yah, untuk kenang-kenangan seperti kata Wandi.

Welcome to the club! Tattoo is not A Crime!

3 thoughts on “The 6th Sense, Tattoo Pertamaku!

  1. Asik banget.
    Aku juga sedang berencana membuat tattoo. Sekarang masih cari gambar yang pas. Aku pengen tattoo punggung (pundak sampai pinggang) full color.
    Sayangnya di Surabaya belum banyak artis tattoo.
    Tapi aku tidak terburu-buru, yang penting hasilnya maksimal.

  2. hmmmm pengen banget nimpa dua tato saya yg skrg,tapi cuma mau ditato sama wandi,tapi saya pengen gambarnya saya yg bikin sndiri.. blm smpet aja.. &duitnyapun blom ada.. jadi entar2 aja deh….
    liat2 hasilnya wandi,bagus terus.. jadi pengennya sama wandi.

  3. hai gw mau jual jarum tatto improt nih cepat.. 4000 biji… inggris punya bro..
    jual kemana yah bro..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s