Bandung dan Budi Dalton

Sabtu, 23 Juli 2005

SAAT menulis postingan ini aku sedang berada di sebuah warnet di bilangan Jalaprang, Sukaluyu Bandung. Aku sudah 2 hari di sini, numpang menginap di sebuah kost-an teman. Rencananya, besok aku sudah mesti balik ke Jakarta dan lusa nya mesti pulang lagi ke Medan. Dua majalah lokal yang aku garap sudah hampir tiba deadlinenya.

Ada beberapa hal yang berubah di kota ini. Yang paling mencolok adalah kehadiran fly over yang berujung di daerah Gasibu, tak jauh dari Gedung Telkom. Kehadiran fly over ini juga memaksa perubahan beberapa arus lalu lintas. Bandung sepertinya juga semakin panas. Seperti di daerah Sukaluyu, puluhan batang pohon yang biasanya merindangi kiri-kanan jalan ditebangi. Kabarnya, jalan itu mau dilebarkan. Di beberapa sudut kota lain aku juga melihat begitu.

Yang belum berubah, cewek-cewek Bandung masih tetap cantik-cantik, modis, dan wangi. Sungguh enak dipandang mata. Bukannya tak kepingin untuk mengenal satu di antara mereka, tapi itu bukan target perjalanan kali ini. Mungkin lain waktu.

Kemaren aku sempat juga berkenalan dengan Budi Dalton, ketua harian Bikers Brotherhood MC, sebuah klub sepeda motor (ter?) tua di Bandung. Dalton juga menjadi pioneer Bikers Brotherhood. Anggotanya ratusan dan terus bertambah hingga ribuan. BB MC sangat disegani di sini. Biasanya, saat weekend mereka nongkrong di daerah Cihampelas.

Dalton berkulit kehitaman, khas lelaki jalanan. Motornya, sebuah Triumph oldskool berwana biru ngejreng dengan cat glitter yang terlihat mencolok di malam hari. Joknya putih, selaras dengan ban klasik tipe white wall. Motor itu sudah full modified: swedish chop! Setangnya cukup tinggi, membuat tangan Dalton mesti mendongak kalau sedang menaikinya.

Kami nongkrong di North Sea, sebuah pub di daerah Braga yang terkenal sebagai konsentrasi bangunan tua di Bandung. Aku menyukai atmosfir daerah ini. Unik, motor parkir berjejer di pinggiran jalan. Pengunjung pub bisa terlihat jelas dari kaki lima. Seperti pemandangan di kota-kota kecil di luar negeri. Terutama daerah-daerah yang memiliki banyak bikers.

Dalton cukup dikenal di Bandung. Selain sebagai ketua Bikers Brotherhood, dia juga adalah perintis DKSB yang didirikannya bersama Alm. Harry Roesli. Namanya akrab di kalangan musisi Bandung, juga di telinga mahasiswa Universitas Pasundan, terutama anak jurusan seni. Dia mengajar di sana. Ada banyak kisah menarik bagaimana Dalton yang bertato ini berdiri di depan mahasiswanya. Konon, saban kali masuk ke ruang kuliah, dia selalu membawa dua bungkus rokok. Mahasiswa yang merokok dibebaskannya untuk mengambil rokok yang disediakan itu.

Suatu kali, perjalanan backpackingnya yang sampai ke Rusia mengilhami novel Supernova nya Dewi Lestari. Kalau Anda sudah membaca novelnya Dee, tentu Anda akan menemukan nama Dalton di situ.

Senang bisa berkenalan dengan Dalton. Sayang, kita tak punya banyak waktu. Malam itu kita cuma ngobrol santai di North Sea, sebelum akhirnya berpindah ke salah satu karaoke kepunyaan temannya. Tak terasa, tiga jam kami nyantai  di situ, bernyanyi dan ditemani 3 botol bir hitam. Cheers!

4 thoughts on “Bandung dan Budi Dalton

  1. “modified” kali om… bukan “modificated” -__-‘ Atau tulis aja “sudah dimodifikasi” begitu kan enak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s