Ini Sebuah Kehormatan

Catatan : Saduran artikel ini aku dapatkan dari Agus Sopyan, sekarang di Yayasan PANTAU. Aku sangat menyukai artikel ini. Benar-benar abadi dan menyentuh.

Ini Sebuah Kehormatan
Jimmy Breslin

New York Herald Tribune, November 1963.

Washington — Clifton Pollard yakin hari Minggu itu dia akan bekerja juga. Pukul 09.00 dia sudah bangun. Di apartemen tiga kamarnya di Corcoran Street, dia sudah mengenakan terusan warna khaki lalu menuju dapur untuk sarapan. Istrinya, Hettie, sudah menyiapkan daging panggang dan telur untuknya. Pollard sedang makan ketika ada

telepon yang memang dia tunggu. Telepon dari Mazo Kawalchik, mandor para penggali kubur di Arlington National Cemetery, tempat di mana Pollard bekerja mencari nafkah. “Polly, tolong jam sebelas nanti sudah ada disini, bisa ya?” suruh Kawalchik. “Saya kira kau tahu kenapa.” Ya, Pollard memang sudah tahu. Dia meletakkan telepon, menyudahi sarapan, dan meninggalkan apartemennya. Hari Minggu itu dia lewatkan dengan menggali liang lahat untuk John Fitzgerald Kennedy.

Waktu Pollard sampai di jalan ke gudang kayu bercat kuning, tempat perkakas pemakaman itu disimpan, Kawalchik dan John Metzler sudah menunggunya disana. “Maaf, kau jadi harus kerja hari Minggu,” ujar Metzler. “Ah, tidak usah ngomong begitu,” kata Pollard. “Bagi saya, berada di sini adalah kehormatan.” Pollard lalu menuju ke mesin dengan bajak berlawanan arah. Dipemakaman itu, lubang kubur tidak digali pakai sekop. Mesin bajak terbalik yang dipakai warnanya hijau dengan mangkuk besar yang menggali tanah ke arah orang yang mengendalikan mesin, tidak menjauh seperti kren. Di bawah bukit di depan Makam Serdadu tak Dikenal, Pollard mulai menggali. (Catatan Editor: Serdadu itu bernama Custis-Lee Mansion).

Dedaunan menutupi rumput. Ketika gigi-gigi bajak menggaruk tanah, dedaunan itu mengeluarkan suara kres-kres rumput tertebas yang terdengar dari atas motor penggerak mesin bajak. Ketika mangkuk pertama menyembul dengan seonggok tanah, Metzler, pengawas pemakaman itu, mendekat dan menatapnya.”Tanahnya bagus,” kata Metzler. “Saya mau menyimpannya sedikit,” kata Pollard. “Mesin ini ada bekas jejaknya di rumput, nanti saya isi tanah dan tanami dengan rumput subur yang tumbuh di sekitar sini, saya maunya semuanya di sini — kau tahu — indah.”

James Winners, penggali kubur lain, mengangguk. Lalu katanya, dia juga akan mengangkut beberapa gerobak
tanah yang sangat subur itu ke gudang untuk ditanami rumput. “Dia orang yang baik,” ujar Pollard. “Ya, memang,” sahut Metzler. “Sekarang dia akan datang ke sini dan berbaring di liang lahat yang saya gali,” sambung Pollard. “Kau tahu, ini benar-benar sebuah kehormatan buat saya, mengerjakan semua ini.”

Pollard, 42 tahun. Dia orang yang ramping berkumis, lahir di Pittsburgh dan pernah ikut secara pribadi pada Batalyon Engineers ke-352 yang bertugas di Burma ketika Perang Dunia II berkecamuk. Saat ini dia bekerja sebagai operator peralatan. Gajinya tingkat 10, artinya per jam dia dapat bayaran $3.01. Nah, orang terakhir yang melayani John Fitzgerald Kennedy, Presiden ke-35 negaranya sendiri, adalah seorang pekerja yang mendapat gaji $3.01 perjam dan dia masih bisa berkata menggali kubur bagi sang mendiang presiden adalah sebuah kehormatan.

Pagi kemarin, pukul 11.15, Jacqualine Kennedy berjalan mendekat makam itu. Dia keluar dari bawah portiko
Gedung Putih, perlahan mengiringi jenazah suaminya yang diusung di dalam keranda berkudung bendera. Keranda itu juga dibebat dengan dua sabuk kulit hitam mengetatkannya pada kereta berporos kuningan mengkilap.

Jacqualine melangkah lurus dan wajahnya menengadah. Dia menuruni jalan berbatu biru dan berserubung hitam dan menembus bayangan cabang-cabang tujuh pohon oak yang kala itu meluruhkan seluruh daunnya. Dia berjalan perlahan, melintasi prajurit angkatan laut yang memegang tegak bendera negara. Dia mengayun kaki melintasi orang-orang yang rapat menutup mulut dan tegang melihat ke arahnya, lalu ketika terpandang juga, mereka menundukkan kepala dan mengusapkan tangan ke mata. Dia melangkah keluar ke gerbang barat daya tepat di tengah Pennsylvania Avenue. Dia berjalan dengan langkah yang rapatdan wajahnya menengadah tegak. Di jalanan Washington, ia mengiringi jenazah suaminya yang terbunuh.

Semua orang menyaksikannya ketika dia melangkah. Dia kini ibu dari dua anak yatim. Dan dia melangkah ke dalam sejarah negeri Amerika karena dia telah menunjukkan kepada semua orang – yang merasa tua dan tak tertolong dan tanpa harapan – bahwa dia punya kekuatan yang juga sangat diperlukan oleh semua orang. Walaupun ada yang telah membunuh suaminya dan darahnya mengalih kepangkuannya ketika sang suami menjemput maut, dia masih mampu berjalan tegar ke pemakaman dan dengan begitu dia telah menolong kita semua.

Massa berkerumun lalu prosesi itu pun sampai ke Arlington. Ketika dia sampai di pemakaman itu, keranda sudah diletakkan. Di antara rel kuningan dan siap diturunkan ke dalam liang. Ini pasti saat yang paling menyedihkan: seorang wanita menyaksikan keranda sang suami ditimbun di dalam tanah. Dia tahu, sang suami akan selamanya berada disana. Sekarang, tak ada apa-apa lagi. Tak ada keranda untuk dicium atau bahkan untuk dipegang. Tak ada tempat berpegangan. Tapi dia melangkah ke tempat penguburan itu dan berdiri di depan enam baris kursi bersarung hijau dan dia mulai duduk. Tapi serta merta dia berdiri lagi karena dia tahu tidak harus duduk sampai inspektur pemakaman memberi tahu di mana dia harus duduk.

Seremoni pemakaman itu pun dimulai. Pesawat jet meraung di langit, tepat diatas kepala dan dedaunan jatuh dari langit. Di bukit ini, di sisi keranda, hadirin pun membahanakan doa. Ada juru kamera, penulis, prajurit, dan Agen Rahasia, mereka juga ikut berdoa tak kalah nyaringnya tapi seperti ada yang tersendat. Di depan makam itu Lyndon Johnson mengarahkan wajahnya ke kanan. Dia sekarang Presiden dan dia harus tetap tenang. Dia tak ingin melihat kekeranda dan liang lahat bagi John Fitzgerald Kennedy terlalu kerap. Lalu, pemakaman itupun usai. Limusin hitam melaju di bawah pepohonan taman pemakanan itu dan keluar ke bulevar menuju ke Gedung Putih.

“Jam berapasekarang?” pria yang berdiri di atas bukit itu bertanya. Dia melihat ke jam tangannya. “Jam 3 lewat 30 menit,” ujarnya.

Clifton Pollard tidak hadir saat pemakaman itu. Dia berada jauh di balikbukit itu, menggali kubur lain dengan bayaran $3.01 per jam. Dia tidak tahu untuk siapa lagi liang lahat yang dia gali itu. Dia hanya menggali lalu menimbunnya lagi. “Mereka pernah ada dan berguna,” katanya. “Kita hanya tak tahu kapan. Tadi, aku mau melihat ke sana,” katanya. “Tapi terlalu banyak orang, kata tentara tadi, saya tidak boleh mendekat. Jadi, ya saya tetap disini dan menggali. Tapi nanti saya akan ke sana sebentar. Cuma melihat sebentar, ya kan? Seperti kata saya padamu tadi, ini sebuah kehormatan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s