Hari Gini Masih Ada Pungli

“Kalau begitu terus kerja aparat Polri/TNI bagaimana masyarakat mau percaya? Sia-sia citra baik yang sedang dibangun mereka. Di kampung-kampung mereka ceramah yang baik-baik di meunasah, tapi di jalanan kelakuannya seperti itu. Bagaimana rakyat percaya,” kata sopir taksi L-300 jurusan Lhokseumawe–Medan yang saya tumpangi.


Sebut saja namanya Zulfikar. Ia sudah sejak setahun ini menjadi sopir taksi jurusan Medan–Lhokseumawe. Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai pegawai honorer di Dinas PU. Tapi pendapatan dari situ semakin tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia lalu mencoba peruntungan lain dengan menjadi sopir.

Zulfikar orangnya ramah. Suka tertawa. Tubuhnya tegap berisi, pakaiannya bersih. Kumis agak tebal menghiasi wajahnya. Dialek Bahasa Indonesia-nya cukup bagus, tidak seperti orang Aceh kebanyakan.

Ungkapan kekecewaan itu diucapkannya sambil tersenyum pahit. Dia mengatakan seperti itu setelah saya menanyakan komentarnya atas pungutan liar (pungli) yang dilakukan aparat polisi/ Brimob dalam perjalanan pulang menuju Medan dari Lhokseumawe, Kamis (14/7).

Di perjalanan pulang dengan waktu tempuh sekitar tujuh jam, saya menghitung ada empat kali distop aparat. Yang pertama di sekitar daerah Lhok Nibong, Peureulak (Polisi dan Brimob), Idi Cut (gabungan polisi, Brimob, dan TNI), dan terakhir di perbatasan Aceh Tamiang-Langkat (Sumatera Utara).

Dua penyetopan pertama, Zulfikar mesti menyetor uang sebesar Rp 2.000. Dari kejauhan petugas memberikan aba-aba untuk mengurangi kecepatan dan meminta sopir untuk menepikan mobilnya. Di situ dua petugas Brimob bersenjata laras panjang berdiri di tengah jalan, dua di sebelah kiri jalan, dan dua lagi di sebelah kanan jalan. Sisanya, duduk di sebuah pos di tepi kiri jalan. Saya tidak sempat melihat asal kesatuan mereka.

Si Brimob yang di tengah jalan menyuruh Zulfikar untuk berhenti dan menepi. Semua itu dilakukannya tanpa bicara sama sekali. Hanya kode-kode dengan menggunakan tangan. Tapi Zulfikar mengerti. Ia menepikan kendaraan, merogoh sesuatu dari kantongnya, keluar dari dalam mobil dan tergopoh-gopoh mendatangi petugas yang nongkrong di pos. Ia lalu menyalami petugas itu. Setelah itu ia kembali ke mobil dan kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa ada pemeriksaan sama sekali.

Melihat tingkahnya itu saya iseng bertanya.

“Kasih berapa, Bang?”

Dia melirik dari kaca pion di tengah langit-langit mobil. Melihat ke saya yang duduk di bangku paling belakang. Zulfikar tersenyum.

“Dua ribu, Bang.”

“Astaga!” Saya tertawa.

Pertanyaan saya tadi rupanya memancing reaksi penumpang lain. Di perjalanan sore itu, dari 9 penumpang hanya saya dan teman yang jurnalis radio, laki-laki dewasa. Sisanya, empat orang ibu, dua mahasiswi, dua orang anak perempuan, dan satu anak laki-laki.

Selain saya dan teman saya, rupanya penumpang lain sudah sering melintas di jalan Medan – Banda Aceh dan sebaliknya. Mereka sudah mengetahui perilaku-perilaku aparat seperti itu. Mereka tertawa.

“Alah udah biasa, Bang.”

Bus berjalan terus. Jalan lintas Banda Aceh–Medan sore itu lumayan ramai. Mobil-mobil dan bus pengguna jalan umumnya memacu kendaraannya agar lekas tiba di tujuan. Ada kekhawatiran kalau masih di jalan raya setelah matahari balik ke peraduannya. Situasi dan kondisi keamanan di lintasan tersebut tidak tertebak bila malam tiba. Siapa saja bisa menjadi korbannya.

Sampai di daerah Peureulak, lagi-lagi aparat meminta mobil mengurangi kecepatan. Masih seperti tadi, Zulfikar turun, merogoh saku, dan menemui petugas polisi yang kali ini nongkrong di dalam mobil patroli yang parkir di tepi jalan. Setelah dia “menyalami” setoran, mobil boleh melanjutkan perjalanan.

“Masih Rp 2.000, Bang?” tanya saya.

Zulfikar mengangguk dan kembali melirik saya dari kaca pion. Dia tersenyum.

Saya lalu menanyai tiga penumpang wanita di depan saya. Mereka bertiga kakak–adik. Yang paling pinggir di sebelah kiri adalah istri abang kandung dua wanita di sebelahnya. Keduanya mahasiswi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Yang satu kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan manajemen dan yang paling kanan mengambil jurusan Teknik Sipil.

“Sering lintas di jalan ini kan, Kak? Sering terjadi yang seperti tadi?”

Si wanita di depan saya, sebut saja namanya Fitri, warga Lhokseumawe, tertawa. Pertanyaan saya tadi rupanya didengar Zulfikar dan ibu yang membawa anaknya. Si ibu tersenyum. Mereka lalu tertawa. Mungkin mereka berpikir ini perjalanan pertama kali saya ke Aceh dan tak tidak pernah melihat kejadian seperti itu.

“Baru tiga hari ini, Bang. Minggu lalu belum ada,” kata Zulfikar.

“Biasalah, Bang, kayak gak ngerti aja,” kata temannya si Fitri.

“Iyah, tapi kau sadar tidak. Kita juga yang membayar biaya pungli itu. Buktinya ongkos kita jadi makin mahal,” kata Fitri.

Si Ibu tidak mau kalah. “Tak apalah, Dek. Kasihan, mereka sudah seharian menjaga di situ. Lagian kalau cuma Rp 2.000 berapalah. Kecuali seperti dulu dipatok Rp 5.000 – Rp 10.000,” katanya.

Obrolan berlanjut. Masih seputar stop-menyetop dengan dalih pemeriksaan yang ujung-ujungnya duit juga. Dari situ saya mengetahui kalau perilaku buruk aparat itu sifatnya musim-musiman. Kalau sudah ramai diberitakan di koran-koran mereka menghentikan aksinya. Tidak mungkin pimpinan mereka tidak mengetahuinya. Setelah kembali tenang, kutipan dilakukan lagi.

Sampai akhirnya memasuki wilayah Idi Cut, bus kami lagi-lagi disuruh menepi oleh polisi. Bedanya, kali ini ada anggota marinir bersenjata lengkap ikut berjaga. Seorang polisi menghampiri bus kami. Ia melongok ke dalam.

“Cewek semua yah?”

“Nggak Pak, ada dua cowok di sini,” saya menjawab iseng.

Mungkin karena tak melihat sesuatu yang berbahaya, atau cuma sekedar formalitas, ia menyuruh kami melanjutkan perjalanan. Tanpa embel-embel.

“Kalau ada tentara tak berani mereka, Bang,” kata Zulfikar.

“Iyah, tapi kasihan tentaranya. Polisi minta duit, mereka tidak. Padahal kan sama-sama jaga,” tambah si Ibu.

Saya menanyai Fitri lagi. “Biasanya di daerah mana saja aparat menyetop, Kak?”

Ia lalu menyebut tiga nama lokasi yang sudah kami lewati, ditambah daerah Sungai Raya dan perbatasan Aceh–Langkat. Saat menyebut Sungai Raya, dia memberikan penekanan berlebih. Belakangan dijelaskannya, di daerah itu selain sweeping aparat, tak jarang juga terjadi sweeping oleh GAM. Malah, sering terjadi kontak senjata di situ.

“Saya tidak takut melihat mereka perang. Sudah biasa. Tapi, kita takut dengan peluru nyasar.”

Suatu kali dalam perjalanan menuju Medan, tuturnya, rombongan mereka dan pengguna jalan lain pernah dihentikan oleh kelompok tak dikenal. Mulai dari pukul 17.00 hingga pukul 02.00 pagi.

“Siapa yang tak takut, Bang, walau akhirnya dilepas.” Dia lalu mengatakan perjalanan lintas jalan Banda Aceh–Medan sebaiknya dilakukan pagi hari. Biar bisa sampai di tujuan saat matahari masih bersinar.

Di perbatasan lagi-lagi Aceh–Sumatera Utara kami distop. Ada dua pos di kiri–kanan jalan. Dua orang petugas Polisi Militer dengan senjata laras panjang berjaga di situ. Zulfikar menyalakan lampu di dalam mobil. Hari sudah mulai gelap. Ia meminta kami membuka kaca pintu masing-masing.

Kali ini, petugasnya lumayan ramah. Ia melongokkan kepala lewat kaca depan. Melihat di belakang ada dua orang pria, ia lalu menghampiri. Masih lewat kaca yang saya buka sebelumnya ia meminta kami menunjukkan KTP. Setelah itu kami dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Hampir setengah jam lebih kemudian, kami berhenti lagi di sebuah rumah makan untuk makan dan minum.

Sambil makan saya menanyai Zulfikar.

Penuturannya, pungli itu kembali marak sepekan belakangan. Biasanya, ada lima titik penyetopan dan sopir mesti menyetorkan duit sebesar Rp 2.000 setiap titiknya. Total jenderal, dia mesti mengeluarkan cost tambahan sebesar Rp 10.000 per harinya.

“Itu sangat memberatkan sopir, tapi apalagi mau dibuat, Bang?”

“Lebih dari sekedar uang Rp 10.000 itu, mereka telah merusak harga diri dan citra kesatuannya.”

Ia lalu mencoba menghitung-hitung. “Satu L300 bisa membawa sembilan penumpang. Satu hari ada ratusan mobil sejenis yang jalan, belum lagi mobil angkutan lain. Bayangkan, berarti ada ribuan masyarakat yang sehari-harinya menonton aksi mereka.”

Akibatnya, menurut Zulfikar, citra polisi jadi jelek. Citra baik yang coba dibangun polisi baik-baik jadi sia-sia. “Di meunasah-meunasah (balai desa) kampung, mereka sering memberikan ceramah yang baik-baik. Tapi di tempat lain, seperti tadi, tak sedikit polisi yang berbuat jelek. Bagaimana rakyat mau percaya?”

Selain kutipan di jalanan itu, setiap bulannya dia mesti membayar Rp 120.000 untuk biaya retribusi keanggotaan sebuah yayasan yang dikelola TNI. Tandanya, dari sticker yang ditempel di kaca depan mobil. Sopir, pemilik mobil mesti membayar dua kali., rute perjalanan Medan–Lhokseumawe, dan sebaliknya.

Imbal baliknya, kalau mobilnya ditilang polisi dengan denda melebihi Rp 10.000 dia tinggal memberikan surat tilang dari polisi kepada yayasan tersebut. Dan selanjutnya mereka yang mengurus sampai beres. Tapi kalau denda di bawah Rp 10.000 urusan diselesaikannya sendiri.

Lucunya, dia tidak keberatan dengan sistem ini. Toh ada semacam simbiosis mutualisme, menguntungkan kedua belah pihak.

“Tapi kok rasanya gak cocok aja ya, Bang? Negara ini kan negara hukum, bukan hukum rimba. Seharusnya tidak begitulah,” katanya bijak.

Saya lalu bertanya lagi. Seandainya sopir tidak memberikan “setoran” seperti di jalan tadi, apa yang akan terjadi? Zulfikar tertawa. Sambil menarik rokoknya dia menjawab, ”Ya gimana Bang, nyengar-nyengir ajalah. Tapi gak tahulah. Saya selalu setor. Sudah tau sama tau. Ngapain ambil resiko.”

Dia lalu menjelaskan kalau posisi mereka (perusahaan jasa pengangkutannya) lemah karena mobil pengangkutannya pake plat hitam. Sebenarnya ini tidak boleh, karena dilarang oleh undang-undang. Dan itu dimanfaatkan oknum-oknum berseragam di jalanan.

“Anggap ajalah sebagai cara memuluskan usaha. Kami sopir dan pemilik mobil juga butuh uang untuk dibawa pulang. Selama kutipan itu hitung-hitungannya masih masuk akal, belum terlalu memberatkan. Tapi gak taulah sampai kapan,” katanya lagi.

Selesai makan malam, perjalanan dilanjutkan sampai akhirnya kami tiba di Medan. Besok, Zulfikar mesti menyupir lagi mengantarkan penumpang lain yang ingin ke Lhokseumawe dan mesti menyiapkan uang-uang setoran itu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s