Help (me)!

Seharian tadi aku berdua Fik Sagala kembali mengunjungi Kecamatan Tanah Pasir, sekitar 30 km dari Kota Lhokseumawe. Masih ada beberapa hal yang perlu ditanyakan ke Camat Tanah Pasir, Razali. Terutama item NGO Jerman yang membangunkan rumah untuk warga Kuala Keureutoe Timur, Tanah Pasir.


Pagi tadi kami bangun kesiangan. Soalnya tadi malam tidurnya memang agak kemalaman, sekitar jam 1.00. Aku iseng menelpon beberapa kawan, memanfaatkan fasilitas menelpon murah oleh provider Telkomsel. Cuma Rp. 18.000 per jam. Bisa kemana-mana lagi, asal masih sesama provider.

Sialnya, sampai di kantor camat, orang yang kami cari sedang tidak berada di tempat. Kata seorang staff nya, dia lagi ada pertemuan di tempat lain. Sekcam nya juga ikut-ikutan. Kami lalu memutuskan untuk menunggu sambil minum teh di sebuah warkop tak jauh dari kantor camat.

Pagi tadi kantor camat cukup ramai. Beberapa warga, terutama asal Kuala Keureutoe Timur, ngantri mengambil dana Jadup alias Jatah Hidup. Setiap jiwa mendapat jatah Rp. 3.000 per hari dan mereka sudah menerima sebanyak 3 kali paska tsunami. Tanggal pencairannya tidak menentu. “Tak masalah tanggalnya, yang penting tetap bisa diambil,” kata seorang warga.

Warkop yang kami singgahi juga sedang ramai pengunjung. Orang Aceh memang sangat suka nongkrong di warkop. Mereka betah berlama-lama duduk sambil ngobrol bersama teman-teman mereka. Setelah menghabiskan segelas teh manis (disitu segelas teh manis seharga Rp. 750,- gelasnya gelas besar) kami kembali ke kantor camat.

Ternyata pak camat belum datang juga. Tapi sekcam nya sudah duduk di mejanya. Daripada menunggu camat yang tak jelas datang jam berapa, aku lalu menanyai si sekcam. Masih soal pembangunan rumah itu. Sayangnya, si sekcam agak-agak kuper orangnya. Tak satupun pertanyaan saya dijawab dengan memuaskan. Yang lebih membuat dongkol, dia tidak mengetahui pasti nama NGO asal Jerman yang membangunkan 206 unit rumah tipe 36 untuk warga Kuala Keureutoe Timur itu. Lucunya, dia tidak mengetahui NGO tersebut berkoordinasi dengan instansi mana dalam membangun rumah bantuan itu.

“Gak tahu, mungkin saja koordinasi dengan Dinas Kimpraswil,” katanya ogah-ogahan.

Saya mencoba memancing lebih jauh, sayangnya pak sekcam tetap passif. Padahal, orangnya masih muda. Setelah aku cek lagi, ternyata dia seorang sarjana dan saat ini berpangkat penata dengan golongan IIIC, tapi kok sikapnya kurang pantas yah?

Karena tidak memuaskan, aku memutuskan untuk mengunjungi langsung barak pengungsi di desa Lapang, Kecamatan Tanah Pasir. Siang tadi, tak seorangpun terlihat warga laki-laki. Hanya kaum ibu dan anak-anak. Ada yang tidur-tiduran, masak, nyuci pakaian, dan kesibukan-kesibukan lain. Aku sempat ngobrol dengan salah satu ibu disitu. Dia istri sekretaris desa Kuala Keureutoe Timur.

Jarak dari kantor camat – desa Lapang lumayan jauh, sekitar 4 – 5 kilometer. Jalannya buruk, sebagian hanya jalan berlapis tanah. Debu berterbangan.

Setelah melihat-lihat kondisi barak, kami kembali ke kantor camat dan bertemu dengan Geuchik Kuala Keureutoe Timur. Aku kembali mengcross check keterangan yang diberikan sekdes sehari sebelumnya. Hampir tak ada yang berbeda, hanya sedikit di jumlah KK warga dan rumah yang dibangun. Sayangnya, dia juga tidak mengetahui banyak soal NGO HELP! yang membangunkan rumah untuk mereka.

Sekitar pukul 14.00 kami makan siang di rumah makan Cirasa, tempat yang sama dengan hari sebelumnya. Menunya lagi-lagi Kari Kambing. Menu yang satu ini sepertinya menjadi menu wajib rumah makan di Aceh. Hampir setiap restoran, besar atau kecil menyediakan kari. Sambil makan aku sempat sms an dengan beberapa teman di Medan dan Jakarta.

Buyung, teman di Medan, malah mengajak aku ikut serta ke Penang hari Jumat mendatang. Tawaran yang cukup menarik. Bisa dipertimbangkan.

Berikutnya, kami kembali mendatangi kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan di depan Kantor Bupati Aceh Utara. Tapi si kepala dinas sedang tak ditempat. Interview kami undur sampai besok pagi. Setelah itu kami kembali mencari tau keberadaan NGO Help. Sayangnya, lembaga ini seperti siluman. Tak satupun orang yang kami tanyai mengetahuinya. Bahkan, koordinator NGO Jerman di Lhokseumawe juga tidak tahu. Ada apa dengan Help?

Sore tadi kami sempat ketemu dengan Sri Mulyani di kantor salah satu NGO Asing. Mul, mantan wartawan Harian Medan Bisnis sudah hampir tiga bulan bekerja di NGO itu. Posisinya sebagai field officer. Tapi Mul juga tidak mengetahui soal Help.

Soal ini tentu saja bisa bikin pusing. Lembaga ini adalah salah satu narasumber kunci liputan ini. Soalnya mereka yang mendonor pembangunan rumah-rumah tersebut, berapa dananya, kapan proyek dimulai dan selesai, dan tetek bengek lainnya.

Karena tak dapat juga, aku dan Fik lalu memutuskan untuk duduk-duduk di sebuah cafetaria di jalan Merdeka. Cafe itu sepertinya tempat nongkrong anak muda Lhokseumawe. Aneka juice tersedia, harganya cukup murah. Aku memesan juice mangga, dan Fik memesan semangka. Kami memilih roti bakar keju sebagai cemilan.

Tak lama duduk di kursi, kami disodorin sebuah form request lagu. Pengunjung bisa memesan lagu dan mengirimkannya untuk pengunjung lain. Kocak, seperti cafe di Medan di awal 90’an. Aku meminta diputarin lagu Glenn Fredly, Sedih Tak Berujung.

Tak sampai satu jam duduk disitu kami pulang ke rumah. Ah, badan rasanya sangat letih. Tidur sebentar pasti bisa melemaskan otot-otot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s