Dari Koran Tempo edisi Sabtu, 3 Juli 2004
Di sebuah lembar majalah. Di halaman tempat pemimpin redaksi menulis editorialnya. Ada foto seorang lelaki telanjang dada, hanya memakai kolor bergambar jeruk nipis kecil-kecil, bersepatu bot sedengkul, berkacamata hitam, dan bertopi pet. Ahoi, ada pula tulisan “#16″ di uluhatinya yang menunjukkan edisi majalah itu. Dia bukan model yang disewa mahal untuk tampil sinting, ia adalah pemimpin redaksi yang menulis editorial di bawahnya. Di situ ia mengingat kembali edisi kesembilan di mana ayahnya sendiri ia jadikan cover.




